ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
LOKASI SYUTING


__ADS_3

Kiara mengatakan hal tersebut dengan penuh haru terhadap Helen putri semata wayangnya.


"Ma, Helen belum mengucapkan selamat atas salah satu novel mama yang akan di buat kan film, Helen bangga sekali terhadap mama."


Helen mengatakan hal tersebut dengan senyum manisnya.


"Terima kasih Helen sayang, doakan mama yah, agar mama terus bisa berkarya dengan tulisan mama."


"Dan Helen berserta dengan om Hendra akan terus menjaga identitas mama."


"Terima kasih sayang, apakah hari ini Helen ada acara?"


"Tidak ada ma, hari ini Helen ingin di rumah saja."


"Ah baiklah sayang akhir Minggu seperti ini memang lebih enak tinggal di rumah saja, mama akan pergi sebentar ke lokasi syuting perdana novel mama dulu ya."


"Tunggu ma."


Helen yang mendengarkan lokasi syuting di sebutkan langsung menarik kembali tangan sanga ibunda.


"Helen ikut ma."


Deg


Seketika itu juga Kiara langsung terdiam.


"Ikut? untuk apa Helen ikut, bukanya tadi mau di rumah saja?"


Dengan cepat Helen langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak ma, Helen ini langsung melihat syuting novel mama, apakah Helen boleh ikut ma? Helen berjanji tidak akan menganggu acara syuting tersebut."


Cukup lama Kiara memandang wajah putrinya tersebut, ada sedikit rasa khawatir jika sampai Helen ikut dirinya ke lokasi syuting, namun rasa khawatir tersebut tidak akan pernah bisa dia ungkapkan semuanya.


"Baiklah Helen sayang, kau boleh ikut, namun seperti janji mu kepada mama, bahwa kau tidak akan menganggu proses syuting."


"Helen janji, tunggu ya ma Helen bersiap - siap dulu."


Setelah mengatakan hal tersebut Helen lamb berlari ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan diri.


"Semoga hal aku khawatirkan tidak akan pernah terjadi."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas Adrian kau tidak boleh mengetahui jika Helen adalah putri kandung mu,aku tidak ingin Helen di rebut oleh mu, kau memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan hal itu, beda dengan ku mas."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menarik nafasnya dalam - dalam, dan di saat yang bersamaan Helen kembali turun dari lantai dua.

__ADS_1


"Helen siap ma, ayo."


Dan seketika itu juga Kiara langsung mengandeng tangan Helen dan mengajaknya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


Sementara itu di lokasi syuting.


"Selamat datang pak Adrian dan ibu Meira."


Dave mengatakan hal tersebut ketika melihat Adrian dan Meira datang ke lokasi syuting di sebuah rumah mewah.


"Pagi Dave, bagaimana apakah semuanya berjalan dengan lancar."


"Semuanya berjalan dengan lancar pak Adrian, dan hari ini kebetulan Anyelir juga akan datang ke lokasi syuting."


"Ya aku tau Dave, jika bukan karena Anyelir kau tidak akan pernah melihat kami datang berdua bukan?"


Adrian mengatakan hal tersebut sambil melirik ke arah Meira yang sejak tadi hanya tersenyum.


"Ayo sayang, kita beristirahat saja di ruang tamu, saat ini para pemain film sedang berada di ruang rias."


Adrian mengatakan hal tersebut kepada Meira dan langsung mengandeng tangannya.


"Mas Adrian kenapa tadi mas mengatakan hal yang sebenarnya?"


Setelah mereka duduk di ruang tamu, Meira mengatakan hal tersebut dengan perlahan kepada Adrian.


Adrian mengatakan hal tersebut sambil membelai punggung Meira yang kini sangat menikmati sentuhan dari suaminya.


"Selamat pagi pak Adrian dan ibu Meira maaf menganggu."


Deg


Kedua mata Adrian kini menatap tajam ke arah Dave yang kini bersama dengan Kiara dan satu gadis remaja berkulit putih dan berwajah oriental.


"Ini Anyelir dan putrinya sudah hadir."


Seketika ini juga Meira langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekatkan diri ke arah Kiara.


"Astaga, mas ini Anyelir, sungguh ini Anyelir, akhirnya aku bisa bertemu dengan penulis kesayangan ku!"


Meira mengatakan hal tersebut kepada Adrian dengan rona bahagia.


"Selamat pagi Anyelir, perkenalkan aku Meira istri mas Adrian, dan ini?"


Sejenak Meira berhenti berkata - kata dan kini ke dua matanya berganti menatap ke arah Helen


"Senang bertemu dengan anda ibu Meira, perkenalkan ini Helen putri semata wayang saya."

__ADS_1


Kiara tersenyum mengatakan hal tersebut, namun tidak dengan Adrian yang sejak tadi menatap tajam ke arahnya.


"Ah ya, ini pasti putri Anyelir yang pernah di tuliskan di dalam novel masa lalu Mauren bukan?"


Dengan cepat Kiara langsung menganggukkan kepalanya.


"Tepat sekali ibu Meira, saya adalah orang tua tunggal dari Helen, karena ayahnya sudah lama tiada."


Deg


Hati Adrian seperti di hantam batu yang sangat besar ketika Kiara mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arahnya.


"Ah maafkan aku jika menyinggung sedikit cerita kehidupan mu Anyelir, tapi aku percaya bahwa semua anak dengan cinta dan kasih sayang yang tulus dari sang ibunda bisa tetap tumbuh dan berhasil di dalam segala hal."


"Amin bu Meira, itu yang saat ini saya selalu doakan untuk Helen."


"Sayang, maafkan sepertinya aku harus segera bersama Dave untuk menjumpai kru film, apakah kau bisa aku tinggalkan sendiri?"


"Tentu saja mas Adrian, Anyelir dan Helen pasti akan selalu menemani ku."


Deg


Hati Kiara sakit sekali rasanya ketika melihat Meira mengatakan hal tersebut dengan manja kepada Adrian.


"Ah betul pak Adrian, anda tidak perlu khawatir karena saya pasti akan menemani ibu Meira."


" Baiklah jika seperti itu, sayang aku pergi dulu."


Setelah mengatakan hal tersebut Adrian memberikan kecupan sayang ke kening Meira.


Sungguh seperti rasa sedih yang tidak dapat dikatakan ketika Kiara melihat semuanya.


"Ayo Anyelir kita berkeliling tempat ini, kau tau mas Adrian sampai turun langsung untuk mencari lokasi - lokasi syuting film ini, ternyata bukan aku saja yang antusias, namun mas Adrian juga sangat antusias terhadap film ini."


dengan bahagia Meira menceritakan semua hal tersebut kepada Kiara, tanpa Meira mengetahui tentang siapa sebenarnya Kiara dan juga Helen yang kini berada di hadapannya.


"Pak Adrian apakah bapak bisa tetap konsentrasi?"


Tak jauh dari tempat Meira dan Kiara Dave kembali memberikan teguran ketika melihat Adrian sama sekali tidak fokus dengan arahan dari sutradara akan naskah yang kini sedang dia pegang.


"Pasti Dave, aku pasti bisa konsentrasi, sampai dimana tadi?"


Adrian mengatakan hal tersebut sambil kembali menatap ke arah naskah yang sejak tadi hanya dia pegang tanpa dibacanya lagi.


Dave yang mengerti sedang ada yang tidak beres dengan atasannya kini hanya bisa menganggukkan kepala dan memilih untuk diam serta melanjutkan pembicaraannya dengan sang sutradara.


Hari ini telah terjadi kembali pertemuan yang akan meninggalkan banyak cerita.

__ADS_1


__ADS_2