ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
APARAT DATANG


__ADS_3

Dave mengatakan hal tersebut dengan penuh keyakinan terhadap Adrian yang kini hanya bisa memandangi saja.


"Aku tidak yakin Dave, aku tidak yakin jika kita bisa menangkap orang tersebut dengan mudah, seseorang tersebut pastilah bukan orang sembarangan, terbukti dia bisa memiliki akses terhadap semua kamar."


"Ya pak Adrian, namun sekali lagi saya minta maaf, kamar yang bapak gunakan bukannya kamar pribadi pak Adrian dan Bu Meira?"


Kali ini Dave mengatakan hal tersebut dengan penuh kehati-hatian.


"Kau tidak perlu meminta maaf Dave, semua yang kau katakan itu benar apa adanya, kamar yang aku pakai dengan Kiara adalah kamar pribadi ku dengan Meira."


"Dan bapak berhak untuk menyelidiki hal ini pak, karena hotel itu juga milik ibu Meira, dan apakah selama ini selain ibu Meira apakah ada orang lain yang memiliki saham terhadap hotel tersebut?"


Deg


Hati Adrian tersentak ketika Dave mengingatkan akan hal ini, karna meskipun Meira adalah pemilik, namun Meira pernah bercerita bahwa dirinya menjual beberapa persen sahamnya ke orang lain.


"Ya Dave, waktu itu Meira pernah menceritakan hal ini."


"Baiklah pak, lebih baik bapak selidiki hal ini, namun tidak perlu hari ini, lebih baik bapak istirahat saja dulu."

__ADS_1


"Ya kau benar Dave, pergilah hari ini kantor pasti sedang di datangi banyak awak media, jadilah moderator bagi kami semua."


Setelah mengatakan hal tersebut Dave bangkit berdiri dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan Adrian.


"Meira, Kiara maafkan, aku gralj menyakiti hati kalian berdua."


Dengan menarik nafas panjang Adrian pada akhirnya hanya bisa mengatakan hal tersebut, tak dapat dipungkiri bahwa setiap hal yang telah dia lakukan mendukakan orang - orang yang sangat dia cintai.


Hari ini baik Meira, Adrian ataupun Kiara ketiga - tiganya sedang berdiam diri di tempatnya masing-masing, mencob untuk berpikir dengan tenang langkah apa yang harus dilakukan.


Mencoba untuk berpikir dengan tenang agar setiap emosi yang masih dirasakan bisa terkendali dengan baik.


Kiara pun hari ini memilih untuk menginap di toko bukunya sendiri, karena Kiara masih belum siap untuk menghadapi anaknya sendiri.


"Mbak Kiara tidak pulang semalam?"


Malam yang pada akhirnya berganti dengan pagi, pagi ini Meira baru saja keluar dari ruang kerja dan melihat Jean sudah siap - siap untuk membuka toko.


"Ya Jen aku menginap disini, Jen apakah kau yakin akan tetap membuka toko?"

__ADS_1


Dengan cepat Jean langsung mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Ya mbak Jean yakin, sangat yakin, setiap orang pasti tetap ingin membeli, dan tidak semua orang adalah hakim bagi orang lain, di luar sana pasti masih banyak orang baik mbak."


Tidak ada kata - kata lagi yang bisa Kiara ucapkan selain Kiara sadar bahwa semua yang dikatakan oleh Jean itu ada benarnya juga.


"Terima kasih Jean, semua yang kau katakan sungguh membuat ku semangat."


"Sama - sama mbak."


Dan setelah Jean mengatakan hal tersebut, beberapa orang laki - laki masuk ke dalam toko buku.


"Betul toko buku ini adalah milik novelis bernama Anyelir?"


"Betul pak, apakah ada yang bisa kami bantu?"


"Kami dari aparat kepolisian mencari ibu Kiara."


Deg

__ADS_1


Kini Kiara dan Jean hanya saling pandang.


__ADS_2