ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
PERTENGKARAN


__ADS_3

Hendra mengatakan hal tersebut dengan mengacak - acak rambutnya, sungguh ironi bagi Hendra ketika dirinya harus beradu dengan hati dan juga harga dirinya sebagai seorang dokter dan juga laki - laki kaya raya yang diam - diam mencintai janda beranak satu dengan setiap masa lalu kelamnya.


Hari ini kembali Kiara dan Adrian menimbulkan banyak luka bagi setiap orang terdekatnya, meskipun sampai saat ini luka itu belum jelas terlihat, namun rasa yang timbul sudah mulai ada.


"Mas Adrian, baru pulang?"


Menjelang tengah malam Adrian yang baru sampai langsung di sambut Meira ketika membuka pintu rumah.


"Kau masih belum tidur Meira?"


Dengan cepat Meira langsung menggelengkan kepalanya.


"Besok hari libur mas, jadi Michelle tidak sekolah."


"Ah jadi seperti itu."


Adrian mengatakan hal tersebut dengan acuh tak acuh kepada Meira.


"Rapat hari ini padat ya mas, sampai mas Adrian pulang lagi malam?"


Meira mengatakan hal tersebut sambil memberikan Adrian secangkir cokelat panas.


"Ya lumayan Me, ada banyak pekerjaan yang harus aku tangani."


Adrian kembali mengatakan hal tersebut sambil menegak cokelat panas yang sudah di berikan Meira.


"Mas, besok Michelle libur, kita jalan - jalan ya mas."


Dengan cepat Adrian langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa Me, besok ada tamu dari Jakarta datang, dan aku harus menemani dia."


Seketika itu juga Meira diam, hatinya sedih sekali ketika Adrian menolak untuk kesekian kalinya menghabiskan waktu bersama.


"Mas, apakah untuk kali ini mas Adrian tidak bisa memberikan tugas ini kepada Dave? Bukankah Dave juga asisten mas Adrian, seharusnya Dave bisa membantu mas Adrian untuk menyelesaikan hal - hal semacam ini juga kan?"


Kali ini karena Meira sudah tidak tahan dengan semua penolakan Adrian, dengan berani Meira mengatakan hal tersebut kepada Adrian.


"Kenapa kau jadi begini Meira?"


Deg

__ADS_1


Kini dengan jelas Meira dapat melihat ke dua mata Elang Adrian memandangnya dengan tajam.


"Aku hanya ingin menghabiskan hari libur bersama dengan Michelle dan juga dengan suami ku, apakah aku salah jika meminta waktu mu yang super sibuk ini mas?"


Dan seketika meledakkan perkataan Meira.


"Aku setiap hari berada di rumah, mengurus rumah, mengurus anak, aku butuh liburan mas, tidak seperti mas Adrian yang bebas untuk pergi kemanapun mas Adrian, bahkan ketika mas Adrian mungkin berbohong pun aku juga tidak tau!"


Deg


Perkataan Meira yang terakhir langsung membuat Adrian berdiri dari tempat duduknya.


"Apa maksud perkataan mu Meira? Jadi selama ini kau curiga terhadap semua hal yang aku lakukan?"


Adrian mengatakan hal tersebut dengan menunjuk - nunjuk wajah Meira, sungguh sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah Adrian lakukan sepanjang pernikahan mereka.


"Mas kau kasar!"


Seketika itu Meira mengatakan hal tersebut dengan air mata yang berlinang.


"Kau yang membuat aku harus melakukan hal ini, kau yang menyulut semua amarah ku Me, semuanya ini bermula dari mu!"


Adrian yang kali ini tidak mau mengalah kembali mengatakan hal tersebut dengan menunjuk - nunjuk wajah Meira.


Hancur sudah hati Meira ketika mengatakan semua hal ini, sungguh baginya tuduhan yang diberikan oleh Adrian adalah tuduhan yang tidak memiliki dasar.


"Lalu apa lagi yang bisa kau katakan, kau mencurigai suami mu sendiri yang setiap pagi sampai malam mencari nafkah untuk mu dan juga untuk Michelle!"


Wajah Adrian memerah menahan marah saat mengatakan hal tersebut kepada Meira, ke dua mata Elangnya masih menatap tajam Meira yang saat ini masih menangis dengan setiap perkataan Adrian.


"Jadi aku dan Michelle kau anggap beban mas di dalam kehidupan mu?"


Masih dengan berlinang air mata Meira mengatakan hal tersebut kepada Adrian.


"Jika selama ini kau anggap aku dan Michelle jadi beban untuk apa kau masih melakukan semua hal ini mas? Mas Adrian kan yang meminta aku untuk tetap tinggal di rumah mengurus keluarga? Mas Adrian kan yang meminta aku tidak usah untuk ikut bekerja di rumah produksi? Dan mas Adrian mengatakan semua hal tersebut jauh sebelum pernikahan ini berlangsung."


"Jadi apakah sekarang aku harus menanyakan kembali apakah semua perkataan yang telah mas Adrian ucapkan dulu itu tidak bisa aku pegang? Karena jika memang seperti itu, jika memang aku dan Michelle menjadi beban di dalam rumah tangga ini, lebih baik aku kembali bekerja lagi mas, karena sebagai wanita aku juga sama sekali tidak ingin menjadi beban untuk orang lain apalagi suami sendiri."


"Dasar istri kurang ajar!"


Seketika itu juga tangan Adrian melayang ke arah pipi Meira, sontak Meira mundur beberapa langkah dari Adrian dan kini menatap tajam ke arah Adrian yang malam ini berani melayangkan satu tamparan kepadanya.

__ADS_1


"Mas, kau jahat!"


Seketika itu juga Meira berteriak dengan kencang, rasa sakit yang luar biasa kini masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam


Untuk pertama kalinya Meira mendapatkan kekerasan fisik dari laki - laki yang paling dia cintai.


"Meira, Meira maafkan aku!"


Adrian yang pada akhirnya menyadari bahwa hal ini cukup berbahaya untuknya segera mendekat ke arah Meira.


"Jangan mendekat mas!"


Meira kembali berteriak ketika Adrian mencoba untuk mendekat ke arahnya.


"Mas sudah keterlaluan, apakah mas tidak mengingat janji sebelum menikah, bahwa semarah apapun mas Adrian, mas Adrian tidak boleh menggunakan kekerasan fisik, mas Adrian sudah melanggar semua janji ma Adrian sendiri, aku, aku."


Tiba - tiba saja Meira menghentikan semua kata - katanya.


"Aku tidak tau apakah aku masih bisa bertahan dengan semua sikap mu ini mas, aku tidak pernah tau di kemudian hari kau bisa melakukan hal apalagi untuk ku."


"Ma, pa."


Deg


Di saat yang bersamaan pandangan Meira dan Adrian beralih kepada satu anak kecil yang terbangun dari tidurnya dan menangis menatap mereka berdua.


Dengan cepat Meira langsung mendekat ke arah anak kecil tersebut dan menggendongnya.


"Sayang ku Michelle, ada apa?"


"Mama, papa kenapa?"


Masih dengan suara tangisnya, Michelle yang mendengarkan keributan kedua orangtuanya kembali menanyakan hal tersebut dengan polos.


"Mama dan papa tidak ada apa - apa sayang, sudah Michelle tidak perlu menangis ya sayang."


Deg


Kini Meira sadar bahwa ada satu anak yang menjadi penyatu dirinya dengan Adrian, darah daging mereka berdua, buah cinta yang membuat Meira harus sekuat tenaga mempertahankan hubungan ini dengan Adrian.


"Ayo sayang mama temani Michelle tidur ya."

__ADS_1


Meira mengatakan hal tersebut sambil terus memeluk Michelle dan sama sekali tidak melihat ke arah Adrian yang sejak tadi hanya bisa memandang adegan tersebut.


__ADS_2