
Dan Kiara pada akhirnya hanya bisa terdiam melihat setiap ketegaran di dalam diri Meira.
"Saat itu aku ingin langsung menggugat cerai mas Adrian, apalagi ketika mengetahui jika mas Adrian hanya memegang sebagian kecil dari saham perusahaan milik mendiang papa ku."
Sontak Kiara langsung memincingkan mata ketika Meira membuka satu kebenaran kepadanya.
"Jadi mas Adrian bukan pemilik dari rumah produksi ini mbak?"
Dengan cepat Meira langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan, rumah produksi ini adalah milik keluarga ku."
Ingatan Kiara langsung kembali ke sepuluh tahun yang lalu saat Meira kembali berani membuka tentang cerita rumah tangganya sendiri.
"Anyelir apakah kau masih mendengarkan cerita ku?"
Meira yang melihat Kiara melamun segera menegurnya kembali.
__ADS_1
"Ah maafkan Kiara mbak, aku hanya membayangkan saja, pasti mbak Meira dulunya adalah seorang wanita karir yang hebat, lalu sekarang tiba - tiba jadi ibu rumah tangga biasa, apakah itu ?"
Ucapan Kiara berhenti ketika Meira kembali tersenyum seakan - akan mengerti apa yang ada di dalam pikirannya.
"Aku mencintai mas Adrian, aku percaya kepadanya, jadi saat mas Adrian meminta ku untuk di rumah, aku akan tunduk terhadap keputusan-keputusan mas Adrian sebagai kepala keluarga."
Kiara kini kembali hanya bisa menganggukkan kepalanya saja saat Meira dengan tulus mengatakan hal tersebut, kini dalam hati kecil, Kiara mulai berpikir apakah salah jika hubungan gelap ini semakin berlanjut?
Hari ini pada akhirnya Kiara memilih untuk duduk di sudut ruangan dan memperhatikan sekeliling.
"Tapi mbak Meira belum mengatakan kepada ku, apa yang pada akhirnya membuat mbak Meira tidak melanjutkan gugatan cerai tersebut?"
Meira berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum kepada Kiara.
"Pernikahan hanya untuk sekali seumur hidup, kita berjanji kepada Tuhan akan setiap sampai maut memisahkan, dan janji pernikahan adalah janji yang sangat sakral."
"Aku tidak mau mendukakan hati Tuhan, aku juga tidak mau mematahkan janji ku sendiri kepada Tuhan yang aku ucapkan dalam penuh keyakinan."
__ADS_1
"Jika memang suatu saat mas Adrian terbukti selingkuh dan aku melihat dengan ke dua mata ku sendiri, maka aku juga tidak akan pernah berhenti untuk menjaganya, dengan sekuat tenaga aku akan mempertahankan mas Adrian, suami ku, dan juga ayah dari Michelle."
Setelah mengatakan hal tersebut Meira beranjak pergi, sungguh kali ini Kiara sangat takjub dengan apa yang telah Meira katakan.
"Aku tidak menyangka bahwa di balik sikapnya yang terlihat sangat penurut, tersimpan kekuatan besar."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya, sadar bahwa kini dia memiliki saingan yang sangat berat untuk merebut Adrian dan kembali ke sisinya lagi.
Hari ini padahal akhirnya Kiara yang memperhatikan orang lalu lalang di depan ke dua matanya, sesekali matanya mengawasi Meira dan juga Adrian yang kini tampil mesra di hadapan semua orang.
"Sudah aku duga, aku tak lebih hanya pelampiasan nafsu mu mas, aku tak lebih hanya boneka dan patung bagi mu."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Sadar bahwa dirinya tidak ingin berlama - lama lagi di ruangan ini, Kiara pada akhirnya memutuskan untuk keluar dan menuju ke arah parkiran mobil.
"Aku berharap esok hari adalah dunia nyata ku yang sebenarnya
__ADS_1