ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
HELEN BERCERITA


__ADS_3

"Ini tehnya Anyelir."


Di tepi kolam renang Kiara dan Meira duduk, Meira membuatkan Kiara teh hangat dengan gula batu kesukaannya.


"Terima kasih ibu Meira."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menghirup wangi teh tersebut.


"Aroma bunga melati, mas Adrian yang membawa teh itu dari Semarang saat dia ada pekerjaan disana."


Deg


Kembali hati Kiara terasa aneh ketika ada satu wanita menyebut nama Adrian dengan penuh bangga.


"Panggil aku Meira saja Anyelir, aku kira usia kita tidak terpaut jauh bukan?"


Kembali Meira mengatakan hal tersebut dengan tersenyum, dan senyumnya tersebut terasa hangat.


"Mungkin seperti itu Meira."


Kiara yang saat ini gugup mencoba untuk memposisikan diri se netral mungkin, dirinya tidak ingin kegugupannya itu bisa terlihat oleh Meira.


"Aku rasa Helen punya bakat menjadi seorang sutradara film, hal ini bisa kau perhitungkan kedepannya nanti Anyelir."


Meira mengatakan hal tersebut sambil melihat Helen yang sejak tadi mengamati sutradara sedang memberikan arahan.


"Terima kasih untuk perhatiannya Meira, aku bahkan tidak sadar jika Helen memiliki bakat seperti itu, mungkin aku terlalu sibuk."


Tiba - tiba saja hal tersebut keluar dari mulut Kiara sambil menatap tajam ke arah Meira.


"Anyelir, kau tidak boleh berkata seperti itu, semua ibu adalah orang yang paling peka terhadap anak kandungnya sendiri, kau tidak boleh menyalahkan kesibukan mu yang aku yakin semua itu kau lakukan untuk Helen."


Seketika itu juga Kiara terdiam dengan semua hal yang Meira katakan, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam saat ini dia ingin berkata, jika tujuannya bekerja keras, salah satunya untuk bisa kembali bertemu dengan ayah kandung daripada Helen.


"Kau benar Meira, mungkin selama ini yang aku hadapi adalah puluhan naskah novel, sehingga terkadang aku lupa untuk bersosialisasi dengan orang lain, sekedar menceritakan keluh kesah yang aku alami."


"Aku mengerti Anyelir, menjadi orang tua tunggal itu pasti tidak mudah, peran yang harusnya di bagi berdua, pada akhirnya harus di rasakan seorang diri, tidak ada tempat untuk bercerita, dan semuanya harus kita telan sendiri."

__ADS_1


"Meskipun aku belum pernah mengalami menjadi orang tua tunggal, namun aku bisa merasakan apa yang dialami oleh ibu - ibu muda di luar sana, kau pasti kuat Anyelir."


Meira mengatakan hal tersebut sambil tersenyum ke arah Kiara, dan senyuman Meira seperti memberikan kekuatan tersendiri kepada Kiara.


"Terima kasih Meira."


"Sama - sama Anyelir, jika kau membutuhkan teman untuk berbagi, aku siap untuk mendengarkan, mas Adrian adalah suami yang sangat mengerti jika istrinya ini juga butuh sahabat wanita, oleh sebab itu mas Adrian sangat memberikan kebebasan untuk ku bisa berteman dengan banyak orang, terlebih lagi wanita, jadi kau tidak perlu khawatir soal waktu, itu bisa di atur."


Tidak ada kata - kata lagi yang bisa Kiara katakan kecuali anggukkan kepala dan senyuman yang sedikit dipaksa agar tetap terlihat menghargai Meira.


Siang itu Meira menceritakan lebih banyak tentang dirinya, tentang putrinya Michelle dan paling banyak tentang Adrian sang suami yang sangat dia puja.


Berkali - kali Kiara ingin menutup ke dua telinga agar tidak mendengarkan semua perkataan Meira tentang Adrian, namun pada akhirnya Kiara tetap harus mendengarkan semuanya tanpa bisa beranjak dari tempat duduk yang sebenarnya sudah sangat ingin dia tinggalkan.


Sementara itu Adrian yang sudah selesai dengan pekerjaannya menghampiri Helen yang saat ini duduk di taman sambil memperhatikan banyak bunga.


"Halo, boleh om duduk di samping mu?"


Helen yang mendengarkan ada suara segera menegakkan kepalanya dan langsung menganggukkan tanda bahwa dirinya setuju Adrian duduk di sana.


"Duduklah om."


Dengan tenang pada akhirnya Adrian duduk di samping Helen.


"Kau suka bunga?"


Dengan cepat Helen langsung menganggukkan kepalanya.


"Suka om, tapi mama tidak memperbolehkan Helen untuk menanamnya di halaman rumah."


"Kenapa?"


Adrian mengatakan hal tersebut seakan - akan begitu penasaran dengan jawaban acuh tak acuh dari Helen.


"Mama mengatakan nanti rumah dan kotor, dan alasan demi alasan yang lainnya lagi."


Helen mengatakan hal tersebut sambil terus melihat lurus ke depan.

__ADS_1


"Om, apakah om CEO di rumah produksi ini?"


Kini ke dua mata Helen mengarahkan pandangannya ke arah Adrian.


"Ya om adalah CEO rumah produksi ini, ada apa?"


"Apa yang membuat om tertarik dengan novel mama yang ini? karena menurut Helen novel ini akhir ceritanya tidak selesai, apakah om tidak takut rugi dengan biaya produksi yang om keluarkan, karena menurut Helen ini sangat mahal om."


Helen sang gadis kecil memberikan analisanya kepada Adrian tentang novel sang ibunda yang akan diadaptasi menjadi film.


"Kuakui kau gadis yang sangat hebat di dalam menganalisa sesuatu, di usia mu yang masih sangat muda, kau bisa memikirkan untung dan rugi satu produksi film, om salut kepada mu Helen."


"Terima kasih om, namun om belum memberikan Helen jawaban mengapa om berani mengambil resiko dengan mengambil novel mama yang minim pembaca dan membuat produksi film dengan sangat megah?"


Untuk kali ini Adrian kembali terdiam, karena tidak mungkin Adrian mengatakan hal yang sebenarnya bahwa novel yang akan diangkat menjadi film adalah cerita masa lalu dirinya dengan Kiara.


"Om, apakah om baik - baik saja?"


Pertanyaan Helen yang belum di jawab membuat Helen kembali bertanya untuk kesekian kalinya kepada Adrian.


"Di dalam dunia bisnis ada namanya resiko, dan saat ini itu yang om sedang ambil, om mengambil resiko ini, karena om sangat yakin cerita yang ada di dalam novel tersebut bisa menjadikan film ini sukses."


"Bagaimana jika pada akhirnya membuat om rugi? berarti om sudah mempersiapkan segalanya?"


Dengan cepat Adrian langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya om sudah mempersiapkan semuanya, suatu saat jika Helen menjadi wanita karir dengan banyak pekerjaan Helen akan mengerti."


"Helen tidak mau menjadi karir om."


Seketika itu juga Adrian langsung memandang tajam ke arah Helen.


"Kenapa? bukannya sekarang anak - anak muda sangat menginginkan hal itu?"


"Ya om, tapi tidak dengan Helen, Helen ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak - anak Helen dengan baik."


"Selama ini Helen melihat mama bekerja dari pagi sampai malam, terkadang mengucapkan selamat malam kepada mama saja itu sangat sulit, Helen tidak mau nanti mengalami hal yang serupa seperti mama om."

__ADS_1


"Helen ingin mendampingi anak Helen dengan kasih sayang orang tua yang lengkap, tidak seperti Helen sekarang, punya mama, satu rumah dengan mama, namun Helen seperti tinggal sendiri."


"Om tau, hal paling sakit yang dialami seorang anak adalah ketika tinggal satu rumah dengan ke dua orang tua, namun terasa asing dengan ke dua orang tua sendiri."


__ADS_2