ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
HENDRA LAGI


__ADS_3

Malam hari ini, Meira pada akhirnya bisa melihat sikap asli Adrian terhadap dirinya.


Meira tidak pernah menyangka jika dia harus mengalami pemukulan oleh laki - laki yang selama ini dia cintai.


Laki - laki yang datang kepadanya di saat laki - laki tersebut sedang tidak memiliki apapun lagi, namun di saat itulah Meira berani untuk menerima cintanya, Meira yang yakin akan setiap keputusan membawa hubungan dengan Adrian di dalam ikatan janji suci pernikahan.


Namun apa yang Meira malam ini terima, menjadi luka hati yang luar biasa sakitnya, luka hati baru yang saat ini terasa begitu perih di dalam dirinya.


"Sayang, mama akan tetap mencoba untuk bertahan, mama janji kepada Michelle, mama akan tetap memberikan keluarga yang utuh untuk Michelle."


Di dalam kamar sang anak, Meira mengatakan hal tersebut sambil sesekali mencium kening Michelle yang saat ini sudah tertidur.


Trauma yang masih membekas dari masa kecil Meira adalah bagaimana dia mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah, dan kini di dalam rumah tangganya perlakukan kasar itu kembali terjadi lagi.

__ADS_1


"Tuhan aku yakin saat ini Engkau tidak tidur, saat ini Engkau pasti sedang melihat apa yang sebenarnya terjadi, aku mohon Tuhan berikan aku kekuatan untuk aku tetap bisa berada di dalam posisi ini."


"Jika memang mas Adrian memiliki wanita idaman lain, tunjukkan kepada ku Tuhan siapa orangnya, biarkan aku bisa melihat melihat dengan ke dua mata ku sendiri, dan di saat aku melihatnya tolong berikan aku kekuatan untuk bisa menerima."


Meira mengatakan hal tersebut di depan meja rias di dalam kamar sang putri, air matanya tetap mengalir dengan deras saat Meira mengutarakan isi doanya, namun Meira sama sekali tidak boleh terdengar oleh siapapun bahwa saat ini dirinya sedang menangis.


"Rasanya sakit Tuhan, ketika untuk kesekian kalinya aku mendapatkan perlakuan kasar dari laki - laki yang aku cintai, entah papa di masa lalu dan saat ini mas Adrian pun melakukan hal itu kepada ku."


Meira mengatakan hal tersebut sambil memegang pipi tempat Adrian mendaratkan tamparannya tadi.


Seketika itu juga rasa sesak di dalam dada begitu menyeruak, ada sesuatu hal yang tidak beres sedang terjadi di dalam diri Adrian yang Meira tidak siap untuk menerimanya, dan hal tersebut lah yang pada akhirnya membuat Meira menangis sepanjang malam di samping putri kecilnya yang sedang tertidur pulas.


"Pagi Kiara."

__ADS_1


Deg


Begitu Kiara membuka pintu toko, nampak satu laki - laki yang sangat dia kenal.


"Hen pagi - pagi sekali kau sudah ada di sini?"


"Ya Kiara, aku kebetulan lewat, Kiara bagaimana keadaan Helen? semalam aku yang mengantarkan dia untuk kembali ke rumah."


Kiara terdiam dan kedua matanya menatap tajam ke arah Hendra.


"Dia masih tidak mau berbicara dengan ku Hendra."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya, Kiara seolah-olah frustasi dengan kelakuan putrinya sendiri.

__ADS_1


"Ya aku tau, namun kau harus sabar untuk menghadapi Helen, saat ini usia Helen masih belasan tahun, dia masih sangat membutuhkan mu di dalam tumbuh kembangnya."


Kiara yang mendengarkan perkataan Hendra kini hanya bisa terdiam, bagi Kiara Hendra ternyata lebih mengerti isi hati Helen daripada dirinya.


__ADS_2