
Di dalam mobil dengan kesendiriannya Kiara menangis tanpa suara.
"Seharusnya aku batalkan saja tanda tangan kontrak tadi, Kiara kau bodoh, kau bodoh sekali Kiara!"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil memukul- mukul kemudinya, saat ini hati Kiara sedang tidak stabil, di satu sisi dia menginginkan untuk bertemu dengan laki - laki yang selama ini dia cari, namun di sisi yang lainnya timbul kebencian yang begitu dalam terhadap laki - laki tersebut.
Hari ini Kiara hanya bisa menangis dan merenungkan setiap keputusan yang salah, ya keputusan yang telah dia ambil.
"Dave, kau urus saja semuanya, aku serahkan semua produksi film kepada mu."
Adrian pada akhirnya mengatakan hal tersebut saat Dave sedang berdiskusi masalah biaya dan juga apa saja yang akan di angkat di dalam film layar lebar terbaru mereka.
"Baiklah pak Adrian."
"Pergilah, dan kembali ke ruangan mu."
Adrian yang saat ini sedang ingin sendiri meminta Dave untuk meninggalkannya sendirian.
"Kau, astaga jadi Anyelir yang selama ini dibiarkan oleh istriku, adalah kau, dan novel masa lalu Mauren adalah.."
Seketika itu juga Adrian terdiam dan mencoba mengingat-ingat kembali semua sinopsis yang telah dia baca.
"Siit, itu adalah kisah kitah Kiara, bodoh kau Adrian, kau bodoh sekali sampai tidak menyadari bahwa apa yang telah di tulis oleh perempuan itu adalah cerita mu di masa lalu!"
Adrian mengatakan hal tersebut sambil memukul - mukul meja, sungguh saat ini dirinya merasa sangat bodoh karena sama sekali tidak menyadari sinopsis yang selama ini dia baca, adalah kisah dirinya dengan Kiara di masa lalu.
"Ini tidak boleh terjadi, aku harus kembali bertemu dengan perempuan itu, arrrrhh!"
Sungguh geram sekali Adrian, geram akan setiap hal di masa lalu yang saat ini takut terbongkar oleh banyak orang, geram karena pada akhirnya kembali bertemu dengan wanita yang sudah dia lupakan.
Hari ini kemarahan tanpa sadar kembali menjadi alasan untuk Adrian melampiaskan terhadap semua karyawannya.
Menjelang sore setelah suasana hati Kiara tenang, Kiara memutuskan untuk datang kembali ke rumah sakit.
"Ada apa Kiara, hari ini kau nampak pucat sekali?"
Di dalam ruangan, Hendra kembali menegur Kiara.
"Aku baik - baik saja Hendra, Hen bagaimana apakah Helen bisa aku jemput esok hari?"
__ADS_1
Kiara yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan menggunakan Helen sebagai alatnya.
"Tidak ada masalah dengan Helen, saat ini kondisi hatinya juga sudah lebih baik daripada saat dia datang kemari, justru saat ini aku sedang menanyakan keadaan mu, apakah kau tidak enak badan atau ada sesuatu hal yang sedang mengganjal hati mu?"
Kini Hendra mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arah Kiara.
"Aku baik - baik saja Hen, mungkin aku lelah karena menulis novel hingga larut malam."
"Sungguh Kiara? apakah kau sedang tidak berbohong?"
Hendra mengatakan hal tersebut sambil memandang tajam ke arah Kiara mencoba mencari kebenaran di dalam setiap nada bicaranya...
"Ya apa yang aku katakan itu benar Hen, Hendra boleh aku bertanya satu hal kepadamu?"
"Lebih dari satu hal juga tidak masalah Kiara."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil tersenyum seolah - olah mengetahui jika saat ini Kiara sedang berbohong.
"Sebagai seorang dokter psikiater pasti kau tau kondisi kejiwaan seseorang bukan?"
"Hmmm."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menganggukkan kepalanya.
Seketika itu juga Hendra langsung mengernyitkan dahi mendengarkan pertanyaan Kiara.
"Bukan untuk siapa - siapa Hendra, untuk novel yang saat ini sedang aku kembangkan."
"Ah seperti itu."
"Iya Hendra."
"Hmm, aku tidak bisa menebak - nebak Kiara, sebagai seorang dokter semua harus dilakukan dengan pemeriksaan yang tepat, analisa yang baik akan menentukan kondisi seperti apa yang sebenarnya terjadi saat ini."
"Baiklah, itu jika kau gunakan ilmu kedokteran mu Hendra, namun sebagai laki - laki biasa apa yang akan kau lakukan jika kembali bertemu dengan cinta di masa lalu mu?"
Seketika itu juga Hendra terdiam dan kembali menatap Kiara.
"Manusia itu memiliki ruang demi ruang untuk orang - orang yang dia cintai ya termasuk dengan cinta di masa lalunya, yang membedakan adalah di dalam setiap ruangan itu hanya berisi tentang ingatan atau ruangan itu berisi ingatan dan juga rasa yang masih tetap sama untuk dirinya?"
__ADS_1
"Jika kau bertanya kepada ku, aku adalah laki - laki yang tidak suka untuk merasakan masa lalu, jika aku kembali menoleh aku hanya akan kembali melihatnya saja, dan ya sudah setelah itu aku akan kembali menatap ke depan."
"Jadi dengan kata lain wanita itu sudah tidak ada artinya lagi bagi mu Hen?"
"Sama sekali tidak Kiara."
Dengan cepat Hendra langsung menggelengkan kepalanya.
"Meskipun mungkin kau belum menemukan penggantinya?"
"Sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukan penggantinya karena wanita yang seperti dia hanya satu di dunia ini, setiap orang memiliki karakter dan semuanya berbeda-beda."
"Jadi jika di tanya sudah menemukan penggantinya secara fisik, jawaban aku belum, namun secara hati wanita itu sudah terhapus dari perasaan ku."
Penjelasan demi penjelasan Hendra membuat Kiara terdiam, kini dia sadar bahwa laki - laki yang selama ini dia nantikan tidak akan pernah bisa kembali dia dapatkan.
"Baiklah Hendra, terima kasih, aku harus ke administrasi terlebih dahulu."
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara bangkit berdiri dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan ruangan Hendra.
"Aku tau Kiara setiap pertanyaan yang baru saja kau tanyakan itu pasti bukan untuk novel, dari setiap gerak gerik mu sangat terlihat bahwa ada sesuatu hal yang saat ini sedang kau sembunyikan dari ku."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil memandang ke langit - langit ruangannya.
Sementara itu Kiara yang sudah berada di dalam mobil segera melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan tinggi.
"Aku benci jatuh cinta, aku benci dia, arrrh untuk apa selama ini aku harus meminta Tuhan untuk mempertemukan aku kembali dengannya!"
Sungguh tangisan Kiara kini begitu kencang dan tangisan tersebut hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Hati yang hancur pada akhirnya membuat Kiara membelokkan mobilnya ke sebuah tempat hiburan malam..
Satu tempat yang selama ini sangat Kiara hindari, namun malam ini Kiara dengan sengaja ingin mendatangi tempat itu.
Dengan cepat Kiara masuk ke dalam tempat hiburan malam tersebut dan memesan banyak minuman beralkohol.
"Satu meja untuk ku."
"Baik pak Adrian."
__ADS_1
Terdengar suara Adrian masuk ke dalam tempat hiburan yang sama dan memesan satu meja untuk dirinya sendiri.
Hari yang sama dengan dua orang berbeda namun cerita masa lalu yang kini telah kembali terjadi.