
Namun baru sebentar mengemudikan mobil, pada akhirnya Hendra kembali menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobil.
"Astaga Kiara baru kali ini aku mendengarkan semua masa lalu mu."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menenggelamkan wajahnya di dalam kemudi, sungguh Hendra tidak pernah menyangka jika Kiara memiliki masa lalu yang sangat suram.
"Mungkin aku masih bisa menerima jika kau adalah seorang janda dengan satu orang anak remaja, namun akan sangat sulit bagiku ketika aku mengetahui bahwa kau adalah mantan narapidana."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya kau memang belum mengetahui perasaan ku yang sebenarnya terhadap mu Kiara, namun aku memang sedang ingin mengenalmu lebih dalam, tanpa engkau perlu mengetahui terlebih dahulu untuk saat ini."
"Ada beberapa hal yang ingin aku katakan kepada mu di saat hari ulang tahun mu malam ini Kiara, salah satunya aku ingin mengajakmu untuk memiliki hubungan yang lebih serius."
"Namun malam hari ini, aku malah mendapatkan pengakuan yang sangat mengejutkan dari mu."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil mengacak - acak rambutnya.
"Sungguh Kiara aku sama sekali tidak menyangka, aku tau kau melakukan hal itu untuk membela diri, namun...arrrrh, sulit Kiara sulit untuk aku bisa menerima semuanya dengan pikiran dan hati ku."
"Rasa cinta ku kepada mu pasti masih tetap ada, namun rasa cinta saja tidak akan pernah cukup untuk membina hubungan yang lebih serius, apa yang saat ini harus aku lakukan Tuhan?"
Sungguh saat ini Hendra begitu bingung dengan dirinya sendiri, di satu sisi perasaan cintanya terhadap Kiara sangat besar, namun di sisi yang lainnya berat bagi Hendra untuk menerima status Kiara sebagai mantan narapidana.
"Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan tetap membiarkan cinta ini tumbuh dengan subur? Atau apakah dengan dengan sengaja aku harus memangkas perasaan ini?"
Kembali Hendra bertanya apa yang harus dia lakukan saat ini, kondisinya yahh masih bingung membuat Hendra membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk berpikir.
Dengan keadaannya yang masih sangat kacau, Hendra kembali melajukan mobilnya ke arah jalan raya.
Sungguh malam ini semua rencana pribadi Hendra sangat berantakan, malam hari ini Hendra mendapatkan pengakuan dari satu wanita yang akan diajaknya melakukan hubungan lebih serius lagi.
Sementara itu di dalam rumah Kiara saat ini masih duduk di kursi rias dengan memandang ke arah cermin.
"Apa yang dikatakan oleh Hendra memang benar, namun sampai saat ini aku belum siap untuk mengatakan semua kebenarannya terhadap Helen, aku tau bahwa ini sangat tidak adil untuk Helen, namun di saat yang sama aku juga butuh kesiapan untuk mengatakan semua hal ini."
Kiara terus mengatakan hal tersebut sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, malam hari ini seakan - akan Kiara sudah tidak mengingat lagi akan hari ulangtahun nya, saat ini pikiran demi pikiran Kiara sedang di liputi banyak hal yang itu sangat lebih penting dari hari ulang tahunnya.
__ADS_1
Malam ini Kiara kembali memejamkan ke dua matanya dengan perasaan yang masih gundah, Kiara sadar bahwa apa yang saat ini dilakukan adalah sesuatu hal yang sangat tidak adil untuk putrinya.
"Semoga besok akan menjadi hari lebih baik daripada hari ini."
Dengan keadaannya yang masih pusing akibat alkohol, Kiara mengatakan hal itu dengan memejamkan ke dua mata.
Malam ini Kiara kembali dilanda perasaan demi perasaan takut sekaligus perasaan bersalah terhadap sang anak.
"Jadi seperti itu Dave cerita tentang Anyelir?"
Pagi - pagi sekali Adrian sudah berada di dalam ruangannya bersama dengan Dave, saat ini kedua laki - laki tersebut sedang membahas kehidupan pribadi satu orang penulis novel wanita yang novelnya akan diadaptasi menjadi film.
"Betul pak, dari sumber yang beredar mengatakan jika sampai saat ini Anyelir tidak pernah menyebutkan nama suaminya."
"Gosip yang beredar di luar anak Anyelir yang saat ini sudah beranjak dewasa, adalah anak haram, atau tidak mengetahui siapa ayah kandungnya."
"Berapa usia sang anak Dave?"
"Namanya Helen, saat ini anak tersebut berusia empat belas tahun."
"Terima kasih Dave, aku rasa sudah lebih dari cukup untuk setiap informasi yang telah kau berikan, kau boleh kembali ke ruangan mu sendiri."
"Baik pak Adrian."
Setelah mengatakan hal tersebut Dave segera keluar dari ruangan Adrian.
"Jadi siapa sebenarnya papa mu nak?"
Adrian pada akhirnya mengatakan hal tersebut sambil memandang ke arah foto Helen.
"Arrrh tidak mungkin, tidak mungkin, kita hanya melakukan satu kali, dan itupun aku dalam keadaan mabuk, mana mungkin perempuan itu hamil gara - gara aku."
Adrian terus mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepala.
Saat ini Adrian berusaha untuk memangkas semua pikiran dan kekhawatiran yang pelan - pelan mulai masuk ke dalam semua aktivitasnya.
Sementara itu di pagi yang sama Kiara yang sudah bangun dan sedang memasak di dapur di kejutkan dengan pelukan sayang dari putri kecilnya tersebut.
__ADS_1
"Sayang ada apa?"
"Ma , maafkan Helen."
Begitu bangun pagi itu Helen langsung berlari menuju ke arah dapur dan memeluk sang ibunda tercinta.
"Sayang, Helen tidak salah apa - apa, mama yang harus meminta maaf kepada Helen, karena semalam mama yang mengacaukan semua kejutan yang telah Helen rencanakan bersama om Hendra."
"Helen juga salah ma, semalam Helen curhat dengan om Hendra."
Seketika itu juga Kiara langsung mengernyitkan dahi.
"Curhat dengan om Hendra?"
Dengan cepat Helen menganggukkan kepalanya.
"Iya ma, dan om Hendra memberikan banyak masukan untuk Helen, dan salah satunya Helen harus meminta maaf dengan mama."
Seketika itu juga Helen kembali menangis.
"Sayang, mama tidak pernah terluka karena mu, mama sangat sayang kepada Helen."
Kiara yang mendapatkan putri kesayangannya tersebut banjir dengan air mata segera langsung memeluknya.
"Ma, Helen senang ada om Hendra di sini, ok Hendra baik ma, baik dengan Helen dan tentu dengan mama juga, apakah mama tidak ada rasa dengan om Hendra?"
Deg
Seketika itu juga Kiara langsung melepaskan pelukannya terhadap Helen.
"Sayang, mama masih belum ingin menikah lagi, bagi mama kehadiran Helen itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi ma, bagaimana jika Helen nanti sekolah keluar kota, Helen punya pacar dan pada akhirnya menikah, Helen tidak akan mungkin tinggal bersama dengan mama terus."
Seketika Kiara tertawa dengan pemikiran sang putri yang sudah sangat jauh.
"Sayang, mama yakin mama bisa hidup sendiri, jika nanti Helen akan tinggal bersama pasangan Helen, mama sama sekali tidak akan keberatan dan mama akan dengan bahagia melepaskan Helen."
__ADS_1