
Kata - kata yang Helen ucapkan sungguh saat ini tertancap di dalam relung hati dari Adrian.
Hari ini Adrian mendengarkan ucapan itu dari dari seorang gadis berusia empat belas tahun, sungguh pemikiran Helen bisa dewasa sebelum waktunya semua itu karena keadaan yang ada di dalam setiap kehidupan Helen.
"Helen sayang, rupanya kau ada di sini."
Belum sempat Adrian membalas semua perkataan Helen, tiba - tiba saja Kiara datang. bersama dengan Meira.
"Iya ma, Helen bosan berada disana!"
Dengan angkuh Helen mengatakan hal tersebut kepada semua orang yang saat ini sedang memandanginya.
"Apa yang aku katakan layak untuk kau pertimbangkan Anyelir, Helen sangat tertarik di dalam hal ini, alangkah lebih baik untuk kau mengasah bakatnya lagi."
"Pasti Meira, terima kasih untuk setiap hal yang telah kau sampaikan kepada ku, semuanya pasti akan selalu menjadi motivasi ku."
"Helen, ayo kita pulang sayang, mama harus kembali menulis beberapa novel yang malam nanti sudah harus muncul di beranda novel online."
Kiara yang sejak tadi sudah ingin lari dari hadapan Adrian langsung mengatakan hal itu kepada Helen.
"Iya ma."
Helen mengatakan hal itu sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Om Adrian, jika suatu saat Helen bosan di rumah, apakah om Adrian mengizinkan Helen untuk main ke lokasi syuting?"
Deg
Seketika itu juga Adrian langsung menatap tajam ke arah Kiara, seakan - akan meminta persetujuan darinya.
"Tentu saja boleh Helen sayang, kami akan dengan senang hati menerima kedatangan Helen."
Dan pada akhirnya jawaban di peroleh dari Meira.
"Terima kasih tante Meira dan om Adrian, Helen pamit pulang."
Setelah mengatakan hal tersebut Helen dan Kiara berjalan meninggalkan Adrian dan juga Meira.
"Mas Adrian, aku kasihan terhadap Anyeli."
__ADS_1
"Kasihan? apa yang membuat mu kasihan terhadapnya?"
"Ya aku kasihan karena menjadi orang tua tunggal itu tidak mudah mas, usia Anyelir masih cukup muda untuk melakukan hal itu."
"Ah sudahlah Meira, hal seperti itu tidak perlu kau perdalam lagi, setiap orang punya kesusahannya sendiri, lebih baik kau bantu aku untuk menemani para pemain film yang saat ini sedang beristirahat, sebagai istri CEO aku sangat membutuhkan mu di dalam area ini sayang."
"Dengan senang hati mas Adrian."
Meira pada akhirnya menutup pembicaraan tentang Kiara dan berjalan bersama Adrian ke ruang para pemain film, sungguh hati Adrian sangat lega ketika pada akhirnya Meira bersedia menutup semua pembicaraan tentang Kiara tanpa dia sadari, karena jika Meira masih melanjutkan dirinya tidak tau lagi harus menjawab apa.
"Selamat siang dokter Hendra, apakah anda baik - baik saja?"
Siang ini di salah satu rumah sakit salah satu perawat menegur Hendra yang sejak tadi melamun sambil memandang gelas kaca yang ada dihadapannya.
"Ah suster Dian, tentu aku baik - baik saja, apakah ada yang bisa aku bantu?"
Suster Dian hanya tersenyum melihat dengan jelas kegelisahan Hendra yang sampai saat ini tidak dapat di sembunyikan lagi.
"Semua pasien sudah selesai di periksa, dan pada saat akan pulang aku malah melihat dokter Hendra melamun parah di dalam ruang prakteknya sendiri, apakah dokter Hendra baik - baik saja?"
Suster Dian mengatakan kembali hal tersebut seakan - akan mencari tau kebenarannya apakah Hendra baik - baik saja.
Untuk kesekian kalinya Hendra mengatakan hal tersebut kepada suster Dian yang sampai saat ini masih belum percaya ucapan dari Hendra.
"Ah baiklah dokter jika seperti itu, jika dokter tidak berkeberatan aku ingin mentraktir dokter di cafe seberang rumah sakit ini, tapi itu jika dokter Hendra tidak keberatan."
Suster Dian mengatakan hal tersebut dengan harap - harap cemas, untuk kali ini dirinya berharap agar Hendra tidak menolak ajaknya.
"Hmm, aku mau, tapi biarkan tetap aku yang membayarnya bagaimana?"
"Baiklah dokter dengan senang hati."
Sungguh hati sister Dian sangat bahagia ketika pada akhirnya Hendra menerima ajakannya untuk bersantai di cafe seberang rumah sakit.
"Ayo suster Dian, sebelum aku berubah pikiran."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil melepaskan jas putihnya dan langsung berdiri dari tempat duduknya saat ini.
Sungguh hari ini menjadi hari paling bahagia bagi suster Dian, karena untuk kali ini Hendra menerima tawarannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju cafe tak henti - hentinya suster Dian mencuri pandang terhadap ketampanan Hendra, meskipun usia Hendra sudah kepala tiga, namun tak dapat di pungkiri ketampanan Hendra tidak akan lekang waktu.
"Jadi apakah dokter betul - betul tidak mau membagikan kegelisahan yang saat ini dokter alami?"
Setelah sampai di cafe dan duduk untuk kesekian kalinya suster Dian kembali menanyakan kondisi Hendra.
"Maafkan aku dokter jika aku tidak percaya dengan perkataan dokter, namun secara tidak sadar ketika aku di tempatkan bersama dokter Hendra yang hampir setiap hari menangani kesehatan mental, di saat yang bersamaan aku jadi bisa membedakan raut wajah yang sedang baik - baik saja dengan raut wajah yang sebenarnya tidak sedang baik - baik saja, namun mencoba untuk mengatakan bahwa dirinya sedang baik - baik saja."
Deg
Perkataan demi perkataan suster Dian membuat Hendra terbelalak.
"Ah kau benar suster, mungkin aku bisa menipu banyak orang, namun dengan mu yang secara ilmu kesehatan mengerti kondisi seseorang seperti apa."
"Jadi apakah ada hal yang membebani pikiran dokter Hendra?"
Hening seketika terjadi ketika suster Dian kembali menanyakan hal itu.
"Aku sedang jatuh cinta terhadap satu wanita."
Deg
Rasa perih paling dalam kini kembali di rasakan oleh suster Dian ketika dokter Hendra tiba - tiba saja berani mengatakan hal itu kepadanya.
Entah apa yang menjadi dasar dokter Hendra berani mengatakan hal itu, namun yang ada pikirannya saat ini dokter Hendra butuh teman untuk bisa berbagi apa yang sedang dia alami.
"Ya sus aku jatuh cinta, namun aku tidak yakin jika cinta ku ini akan di terima."
Seketika itu juga suster Dian langsung mengernyitkan dahi.
"Mengapa dokter sangat pesimis? Apakah dokter sudah mengatakan keseriusan dokter Hendra terhadap wanita itu?"
Dengan cepat dokter Hendra langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum sus, tidak segampang itu, ya dia bukan wanita biasa, namun dia adalah wanita spesial dengan masa lalunya."
"Aku memang dokter psikiater, namun untuk masalah cinta memang aku cukup bodoh untuk menjalaninya, mungkin hal inilah yang membuat aku sampai sekarang belum memiliki kekasih."
Tiba - tiba hal tersebut keluar dari mulut dokter Hendra yang selama ini sering di lihat orang sebagai dokter tampan yang sangat di inginkan pada wanita-wanita di sekitarnya.
__ADS_1
"Dokter, cinta itu butuh untuk diperjuangkan." ya itu butuh dokter."