
Kiara mengatakan hal tersebut Ambil melajukan mobilnya, sungguh saat ini dadanya sangat sesak ya sesak karena untuk kesekian kalinya Kiara kembali di ingatkan bahwa semua hal yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
Kiara tau bahwa jatuh cinta terhadap suami orang lain itu tidak di perbolehkan, namun Kiara pada akhirnya tetap mengambil jalan tersebut dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia bisa untuk melakukan hal itu.
Namun kenyataannya di dalam perjalanan cinta, Kiara berulang kali harus kembali merasa bersalah ketika bertemu dengan Meira sebagai istri sah dari Adrian
Sementara itu masih di dalam perkiraan mobil, nampak satu orang laki-laki tersenyum tipis dengan setiap hal yang saat ini sedang terjadi.
"Pak Erik, semua sudah siap untuk dikerjakan."
Satu orang pengawal mengatakan hal tersebut kepada Erik yang masih asyik menghisap rokoknya.
"Ya aku tau, esok hari sebelum matahari terbit, lakukan apa yang sudah direncanakan, aku berharap tidak ada kesalahan apapun saat kau melakukan hal ini, apakah kau mengerti?"
Dengan cepat pengawal tersebut segera menganggukkan kepalanya.
"Mengerti pak Erik."
"Adrian esok hari kesuksesan mu akan berganti dengan duka terdalam yang akan kau hadapi lebih dari satu hari."
sungguh senyum yang mengerikan telah ada di dalam diri Erik, Erik sudah tidak sabar untuk segala sesuatu yang akan terjadi esok hari.
Malam hari ini Adrian memilih untuk tidur memeluk Meira, semua letih nya terbayar ketika dirinya bersama Meira.
"Mbak Kiara, mbak Kiara, mbak Kiara coba lihat ini!"
Pagi ini karyawan Kiara berteriak-teriak memanggil - manggil namanya.
"Ada Jen, kenapa kau berteriak sampai seperti ini?"
"Mbak Kiara, apakah mbak sudah melihat media sosial mbak Kiara pagi ini?"
Dengan cepat Kiara langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum Jen, aku belum melihat ponsel pagi ini."
"Astaga mbak Kiara, medi sosial pagi ini sedang membahas mbak Kiara dan juga pak Adrian."
"Aku? Ada apa dengan aku Jen?"
"Mbak maafkan Jen, jika Jen harus menunjukkan satu video yang kurang pantas di hadapan mbak Kiara."
Setelah Jen mengatakan hal tersebut Jen menghadapkan ponselnya kepada Kiara.
__ADS_1
"Video ini ada di dalam media sosial, dan mencuat dengan berita paling hangat."
Seketika itu juga Kiara mundur beberapa langkah, dadanya sesak, pandangannya mulai kabur saat melihat video tak senonoh itu.
"Itu aku dan mas Adrian Jen."
Air matanya mengalir dengan deras saat adegan persetubuhannya dengan Adrian kini beredar luas di jejaring sosial.
"Bagaimana, bagaimana ini bisa terjadi Jen? Jen, apakah aku sedang bermimpi?"
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara terduduk dan menangis sejadi - jadinya, harga diri yang selama ini dia jaga hancur seketika.
Hancur karena kini semua orang dapat melihat tubuh telanjangnya, semua orang bisa melihat permainannya yang begitu liar di atas tempat tidur.
"Mbak Kiara, mbak Kiara Jen tidak bisa berkata-kata lagi mbak, mbak yang kuat, sabar."
Jen pada akhirnya hanya bisa memeluk erat Kiara, meskipun Jen mengetahui apa yang dilakukan Kiara adalah sebuah kesalahan besar namun Jen sama sekali tidak ingin menjadi hakim untuk Kiara.
"Jen, aku tidak mungkin bisa keluar dari toko ini, ya aku harus segera pergi."
Setelah mengatakan hal tersebut Jen segera meraih tangan Kiara.
"Mbak Kiara, di luar sana itu lebih jahat mbak."
"Bagaimana jika Helen melihat ini Jen? Atau bagaimana jika semua orang melihat ini?"
Tangis Kiara semakin menjadi-jadi ketika mengatakan hal tersebut kepada Jen.
"Mbak, semua orang sudah melihatnya, media sosial begitu ramai mbak, jadi mustahil jika Helen belum melihat semua ini!"
Jen terpaksa mengatakan hal yang sebenarnya terhadap Kiara, hal tersebut karena Jen sangat yakin saat ini para awak media sudah bersiap-siap untuk mencerca Kiara dengan berbagai pertanyaan.
"Ayo mbak kita masuk ke ruang kerja mbak Kiara lagi."
Kiara langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Jen.
"Tutup saja toko buku ini untuk sementara Jen, aku tidak ingin toko yang ku bangun dengan segala jerih payahku harus rusak karena ulah orang lain yang sangat membenci ku."
"Iya mbak."
Jen melepaskan Kiara dan langsung membereskan semua perlengkapan toko, terbersit kesedihan yang mendalam ketika Jen harus melakukan hal ini, karena itu bisa menjadi dampak untuk pekerjaannya.
Sementara itu Kiara yang kini sudah masuk ke dalam ruang kerja hanya bisa duduk dan memand foto - foto dirinya dengan Helen.
__ADS_1
"Helen maafkan mama."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat foto Helen dan dirinya di sebuah taman, rasa sesak yang tidak tara kini Kiara rasakan di dalam hatinya.
Seketika itu juga semua penyesalan muncul menjadi satu, semua seperti film yang saat ini sedang diputar kembali.
"Seharusnya, seharusnya aku mengikuti semua kata hati ku untuk meninggalkan Adrian."
Dengan berlinang air mata Kiara mengatakan hal tersebut.
"Seharusnya aku mendengarkan kata - kata Hendra waktu itu, Kiara kau memang bodoh!"
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara membenturkan kepalanya beberapa kali ke tembok, hal tersebut dia lakukan untuk menghilangkan rasa frustrasinya yang sangat luar biasa.
"Astaga mbak Kiara, jangan lakukan ini!"
Begitu Jen masuk, Jen sangat kaget dengan pemandangan yang dia dapatkan saat ini, Jen melihat pelipis Kiara yang mulai berdarah akibat tindakan bodoh yang dia lakukan.
"Jen, untuk apa aku hidup lagi? Untuk apa Jen?"
"Mbak Jen tau apa yang saat ini mbak Kiara hadapi, namun ini bukan menjadi jawaban dari permasalahan yang ada, mbak Kiara harus berani untuk menghadapi semuanya mbak!"
Jen mengatakan hal tersebut sambil memeluk Kiara dengan kuat.
"Jen, sekarang pasti Helen sudah membenciku, mungkin Helen tidak mau mengakui aku lagi sebagai ibu kandungnya."
Kiara mengatakan hal tersebut dengan menangis histeris, sedangkan Jen hanya bisa memeluk Kiara tanpa mengatakan banyak hal lagi.
"Mbak Kiara tenang yah, mbak Kiara harus tenang."
Tidak ada lagi yang harus Jen katakan kecuali hanya mengatakan hal tersebut.
Sementara itu di pagi yang sama, di sebuah ruang tamu nampak sepasang suami istri sedang duduk dengan tatapan mata kosong.
"Sayang, maafkan aku, aku mohon aku tidak sengaja melakukan hal ini, sayang."
Adrian yang sejak tadi duduk diam di samping sang istri berkali-kali mengatakan hal tersebut, namun sepertinya Meira kali ini memilih untuk diam.
"Mas, jangan sentuh aku lagi, aku tidak ingin di sentuh seujung kaki pun oleh laki-laki yang berani mengajak wanita lain menginap di kamar hotel milik pribadinya sendiri, jangan sentuh aku!"
Deg
Adrian terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika Meira mengatakan hal itu
__ADS_1