ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
KEMBALI BERBOHONG


__ADS_3

"Hendra kau kejam, kau memisahkan aku dengan anak ku sendiri."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil memandang langkah kaki Hendra dan juga Helen yang berjalan meninggalkannya.


Kini Kiara harus menelan pil pahit bahwa dirinya telah di tolak oleh putrinya sendiri, sungguh hati yang tidak dapat di bohongi ketika hal tersebut sangat membuatnya kecewa.


Dengan langkah yang gontai Kiara masuk kembali ke dalam mobil dan memilih untuk menghabiskan waktunya dengan melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan.


Menjelang sore rupanya Meira masih berada di dalam ruangan Adrian, Meira memilih untuk tidur dan beristirahat di dalam ruang kerja sang suami.


"Meira kau pulanglah terlebih dahulu, aku masih ada urusan."


Adrian mengatakan hal tersebut sambil mengambil jas dari kursinya.


"Mas Adrian mau kemana mas? bukankah ini sudah jam pulang kantor?"


Meira mengatakan hal tersebut sambil memandang Adrian yang menyisir rambutnya agar terlihat rapi dan memberikan bajunya parfum mahal, sungguh kebiasaan Adrian yang tidak pernah Meira lihat.


"Aku ada urusan dengan rekan bisnis ku di luar kantor, malam ini aku akan makan malam bersama dengannya, ada beberapa pekerjaan baru antara aku dengannya nanti."


Dengan acuh tak acuh Adrian mengatakan semua hal tersebut kepada Meira.


"Meira antar ya mas ke rekan kerja mas Adrian, kebetulan hari ini Meira tidak membawa supir, Meira membawa mobil sendiri."


Dengan cepat Adrian langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, cepatlah kau pulang, saat ini Michelle pasti sudah mencari mu."


Adrian mengatakan hal tersebut sambil mencium kening istrinya, namun sungguh ciuman tersebut seketika malah membuat hati Meira menjadi gelisah...


"Mas.."


"Aku pergi dulu."


Belum sempat Meira melanjutkan kata - katanya Adrian sudah membuka pintu ruang kerja dan meninggalkan Meira begitu saja di dalam ruangan kerja Adrian.


"Mas hari ini kau sungguh aneh, salah kah aku jika pikiran ku melayang kemana - kemana dengan semua tingkah aneh mu ini?"


Hanya hal itu yang bisa Meira katakan, Meira tidak mau lagi untuk mengatakan banyak hal, karena dirinya harus kembali pulang ke rumah untuk menemui Michelle, sepanjang jalan Meira tak henti - hentinya mencoba menghapus pikiran demi pikiran curiga terhadap Adrian yang hari ini tidak ingin kembali terlebih dahulu ke rumah.

__ADS_1


Hari ini kembali Meira harus berperang dengan pikirannya sendiri.


Sementara itu menjelang malam, di salah satu kamar VVIP hotel bintang lima Adrian dengan tergesa - gesa melangkahkan kaki masuk kedalam lift untuk menuju ke sebuah kamar hotel yang telah dia pesan.


"Kiara maafkan aku jika datang terlambat, maafkan aku sayang."


Adrian yang telah masuk ke dalam kamar langsung mengatakan hal tersebut kepada Kiara yang sejak tadi berdiri sambil menatap ke arah jendela kamar.


Hotel mewah yang menjadi tempat mereka bertemu merupakan satu - satunya hotel bintang lima di kota tersebut sehingga kesempatan tersebut tidak di sia - siapkan Kiara untuk melihat pemandangan dari jendela.


"Pasti ada mbak Meira bersama dengan mas Adrian bukan?"


"Hei darimana kau mengetahuinya sayang?"


Adrian mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat pinggang Kiara.


"Tadi pagi mbak Meira cerita, hari ini mbak Meira akan seharian bersama dengan mas Adrian untuk menepis rasa kecurigaannya."


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menyandarkan kepalanya lebih dalam ke dada Adrian yang kini sangat membuatnya nyaman.


"Ya aku juga mendengar dari Meira jika hari ini dia bertemu dengan mu."


Adrian mengatakan hal tersebut dengan membelai rambut Kiara.


Kiara mengatakan hal tersebut sambil menarik nafasnya panjang.


"Ya sayang, aku juga sangat mengerti akan perasaan mu, aku pun pada awalnya berpikir demikian, namun sungguh sayang aku sama sekali tidak mampu untuk melawan perasaan cinta ini."


Setelah mengatakan hal tersebut Adrian membalikkan tubuh Meira, hingga pada akhirnya mereka berhadapan.


"Bukan hanya mbak Meira mas yang akan mengutuk hubungan kita, namun anak ku Helen juga akan melakukan hal yang sama jika sampai Helen mengetahui hubungan kita."


Setelah itu secara singkat Kiara menceritakan sikap Helen kepadanya.


"Beberapa hari ke depan, syuting dari film masa lalu Mauren selesai, dan di saat semuanya sudah selesai, aku akan menemui Helen dan mengatakan hal yang sebenarnya."


"Maksud mas Adrian, mas Adrian akan mengatakan jika mas Adrian papa kandung?"


"Ya sayang, bagaimanapun juga Helen berhak untuk mengetahui semua kebenaran yang ada."

__ADS_1


"Bagaimana jika pada akhirnya karena pengakuan mas Adrian semua ini jadi terbongkar dan."


Belum sempat Kiara berbicara, Adrian sudah menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


"aku memiliki cara agar semuanya berjalan dengan baik, percayalah kepada ku Kiara, semua akan baik - baik saja."


Kiara hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika Adrian mencoba untuk menyakinkan dirinya.


"Aku sudah memberikan harga diri ku untuk mu mas, jadi aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Pasti sayang."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Adrian kembali mencium bibir Kiara, ciuman yang pada akhirnya mengarah ke hubungan badan kembali terjadi untuk kesekian kalinya.


Untuk kali ini Adrian tidak memanfaatkan Kiara saat mencumbuinya, namun kali ini Adrian pun sangat menikmati tubuh satu wanita di masa lalu yang telah hadir kembali di dalam perjalanan hidupnya.


Penyatuan demi penyatuan kembali terjadi, nafsu begitu tinggi antara ke dua insan yang sedang melakukan kesalahan tersembunyi tanpa ada seorangpun yang mengetahui.


"Dokter Hendra apakah anda baik -baik saja?"


Sore hari, suster Dian kembali menegur Hendra yang melamun di meja kerjanya.


"Ah suster Dian aku baik - baik saja, bagaimana apakah masih ada pasien?"


"Tidak ada dokter Hendra, hari ini tidak begitu ramai."


"Baiklah jika seperti itu."


"Dokter mau ikut makan lagi bersama dengan ku?"


Kali ini suster Dian mengatakan hal tersebut tanpa malu - malu lagi terhadap Hendra.


"Terima kasih untuk tawarannya sus, namun aku harus segera pulang malam ini ada acara keluarga."


"Baiklah jika seperti itu dokter, saya pamit pulang dulu."


Dan setelah mengatakan hal tersebut suster Dian segera keluar dari ruang praktek Hendra, kini kembali Hendra diam dan menatap ke arah langit - langit ruangan.


"Seharusnya aku tidak peduli akan hal ini, seharusnya aku tidak harus peduli mengetahui keadaan Kiara, ya seharusnya seperti itu."

__ADS_1


Hendra kembali mengatakan hal tersebut sambil memejamkan ke dua matanya.


"Arrrrh, kau sungguh aneh Hendra, kenapa kau menjadi sangat lemah terhadap satu wanita seperti Kiara, wanita yang sejak dulu bukan menjadi tipe mu."


__ADS_2