
Meira mengatakan hal tersebut kepada Kiara yang sejak tadi sudah ingin lari keluar dari gedung bioskop.
"Terima kasih mbak Meira, aku langsung pulang saja."
Dengan sekuat tenaga Kiara menggelengkan kepalanya dan mengatakan hal tersebut Meira.
"Baiklah jika seperti itu, hati - hati di jalan Anyelir."
Meira mengatakan hal tersebut kepada Kiara sambil memeluknya.
Setelah berpelukan dengan sekuat tenaga Kiara mempercepat langkah kakinya, ya harus lebih cepat karena air mata Kiara dengan perlahan mulai mengalir tanpa bisa untuk di kendalikan lagi.
"Arrrrh Kiara kenapa kau harus sampai seperti ini, bukankah kau sangat yakin jika mas Adrian hanya mencintai mu saja!"
Di dalam mobil Kiara mengatakan hal tersebut sambil memukul-mukul kemudinya, sungguh hati seorang wanita sangat teruji dari Kiara ketika dirinya melihat Adrian begitu sayang terhadap wanita lain..
Rasa cemburu yang saat ini dia rasakan menjadi rasa cemburu yang sangat tidak pantas untuk dia rasakan, karena bagaimanapun apa yang dilakukan Adrian terhadap istrinya adalah perilaku yang seharusnya terjadi.
"Mas Adrian, rupanya apa yang selalu kau katakan kepada ku tidak pernah bisa kau tepati, lihat saja mas, jika kau sampai ingkar janji maka aku akan melakukan banyak cara untuk dapat merebut mu dari Meira!"
Perkataan demi perkataan keji yang keluar dari mulut Kiara membuatnya sudah melupakan akal sehat, kini Kiara sudah bukan menjadi Kiara yang seperti dulu lagi, Kiara yang sangat lembut dan menghargai banyak orang.
Sosok Kiara kali ini berubah menjadi wanita yang penuh dengan amarah dan luka di balut dengan rasa bahagia.
Dengan penuh kemarahan Kiara melajukan mobil ke arah jalan raya.
Sementara dari kejauhan ada satu mobil yang saat ini sedang mengamati mobil Kiara yang sudah perlahan pergi.
"Hen, sampai kapan kau akan seperti ini?"
Satu wanita cantik yang saat ini berada di samping dokter Hendra pada akhirnya berani memulai percakapannya.
"entahlah Dian, aku juga tidak tau entah sampai kapan aku gila akan cinta ku sendiri, terima kasih suster Dian hari ini kau bersedia menemani ku."
"Ya Hendra, aku sangat mengerti apa yang kau rasakan saat ini."
Suster Dian mengatakan hal tersebut sambil tersenyum ke arah Hendra.
__ADS_1
"Aku pernah mengalami rasa yang sama seperti yang kau rasakan saat ini, aku mencintai seseorang namun seseorang tersebut tidak memberikan perasaan yang sama."
Deg
Mendengarkan ucapan dari suster Dian, dokter Hendra langsung membalikkan badan.
"Dian maafkan aku, sungguh maafkan aku, bukan maksudku untuk menyakiti hati mu, maafkan aku."
"Sssst Hen, kau tidak perlu untuk meminta maaf, aku sudah cukup bahagia karena pada akhirnya aku bisa mengungkapkan semua isi hati ini kepada mu."
"Meskipun hal ini bukan hal yang wajar dilakukan oleh seorang wanita, namun pada akhirnya aku tetap melakukan hal ini, aku tau seperti apa Hendra, untuk itulah aku berani mengatakan hal ini."
Suster Dian mengatakan hal tersebut sambil tersenyum, keberanian suster Dian di dalam mengungkapkan perasaannya membuat Hendra pada akhirnya tetap memberikan penilaian terbaik kepada suster Dian.
Meskipun Hendra tidak bisa menerima segala rasa yang telah di tawarkan oleh suster Dian, bukan berarti Hendra tidak ingin menjalin persahabatan...
"Terima kasih untuk pendewasaan mu Dian, aku percaya suatu saat ini kau akan bertemu dengan laki-laki yang tepat."
"Dan kau harus terus mendoakan aku Hendra, aku juga berdoa untuk setiap kisah cinta mu dengan Kiara, di sini aku tidak akan menghakimi siapapun, namun yang bisa aku doakan adalah semoga kisah cinta mu mendapatkan jalan yang terbaik, dan aku berharap kau bisa menerima setiap keputusan demi keputusan Tuhan yang diberikan untuk mu."
Kedua sahabat pada akhirnya saling tersenyum dan tertawa, Hendra yang sedang sedih dengan setiap hal yang telah dilakukan oleh Kiara, hari ini cukup terhibur dengan kehadiran suster Dian.
Penguatan demi penguatan yang diberikan suster Dian kepadanya membuat rasa lelah hati Hendra bisa terbayarkan.
"Untuk apa kau tetap datang ma Adrian?"
Keesokan harinya di sebuah hotel mewah, Kiara mengatakan hal tersebut kepada Adrian yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Sayang ayolah ada apa lagi?"
Adrian mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat Kiara.
"Lepaskan aku mas Adrian!"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mendorong tubuh Adrian sehingga membuat Adrian mundur beberapa langkah.
"Hei Kiara ada apa dengan mu? Kenapa kau menolak aku?"
__ADS_1
Adrian yang sampai saat ini belum mengerti apa yang membuatnya di perlakukan seperti itu kembali bertanya kepada Kiara.
"Mas Adrian belum sadar kesalahan apa yang telah mas Adrian lakukan kepada ku?"
Dengan cepat Adrian langsung menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Kiara, jika memang mas berbuat salah ayo katakan saja, jangan kau buat mas seperti ini."
"Jadi mas Adrian belum sadar apa yang membuat aku marah?"
Tiba - tiba saja air mata Kiara mengalir dengan deras ketika dirinya mengatakan hal tersebut.
"Sayang maafkan aku, tapi aku betul - betul tidak mengerti sayang."
Dengan menarik nafas panjang Kiara pada akhirnya mempersiapkan setiap kata - kata yang akan dia ucapkan.
"Mas Adrian bukan yang berjanji kepada ku bahwa setelah proses syuting masa lalu Maureen mas Adrian akan mengatakan semuanya kepada mbak Meira, mas Adrian sendiri yang berjanji kepada ku akan meninggalkan mbak Meira dan kembali lagi bersama dengan ku?"
"Kemarin aku melihat mas Adrian dan mbak Meira begitu mesra, hati ku sakit mas saat melihat semua hal yang mas Adrian lakukan!"
Sesak dada Kiara ketika dirinya mengatakan hal tersebut kepada Adrian.
Dari dalam lubuk hatinya Kiara sebenarnya sadar bahwa rasa cemburu yang dia rasakan adalah rasa cemburu yang tidak pantas diungkapkan, namun Kiara tetap melakukan hal ini, sebagai bentuk tuntutan tanggung jawabnya kepada Adrian.
"Mas kau anggap aku apa? Kau anggap aku wanita pemuas nafsu mu saja? Atau kau anggap aku hanya menjadi hiburan bagi mu?"
"Mas apa selama ini kita lakukan sudah terlalu jauh dan aku menuntut tanggung jawab yang besar dari mu!"
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara duduk di tepi tempat tidur, tenaganya habis terkuras dengan setiap hal yang baru saja dia katakan, kini Adrian hanya terdiam tanpa kata.
Adrian tidak menyangka jika Kiara akan mengingat setiap perkataan demi perkataan yang dia ucapkan saat dirinya menjelajahi tubuh sintal Kiara.
"Sayang, sungguh aku tidak menyangka jika kau sangat terluka sekali dengan setiap hal yang telah aku lakukan kepada mu tadi malam, sayang maafkan aku."
Dengan perlahan Adrian duduk di tepi tempat tidur mendekati Kiara.
"Semua yang aku lakukan hanyalah berpura -pura saja."
__ADS_1