
"Kiara boleh aku bertanya sesuatu hal kepada mu?"
Di tengah - tengah pembicaraan tiba - tiba saja Hendra memberanikan diri untuk mengatakan hal ini kepada Kiara.
"Katakan saja Hen."
Cukup lama Hendra terdiam sebelum pada akhirnya berbicara.
"Apakah selamanya kau akan seperti ini Kiara?"
Deg
Pertanyaan dari Hendra kini membuat Kiara terdiam.
"Apa maksud dari perkataan mu Hendra?"
"Ya aku bertanya sampai kapan kau akan menjadi orang tuan tunggal bagi Helen?"
Kini dengan penuh serius Hendra mengatakan hal itu kepada Kiara.
"Entahlah Hen, aku juga tidak tau, sampai kapan aku akan berada di dalam statusku yang seperti ini."
"Apakah kau nyaman dengan apa yang kau lakukan saat ini Kiara?"
Kiara langsung mengernyitkan dahi ketika Hendra bertanya akan hal itu.
"Nyaman? apakah rasa nyaman itu begitu penting Hen?"
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mengaduk - aduk es kopi yang saat ini ada di hadapannya.
"Ya bagi ku salah satu faktor mengapa seseorang membutuhkan pasangan karena dia ingin mengisi kekosongan hatinya tersebut."
"Lalu bagaimana dengan orang - orang yang memilih untuk menutup kekosongan hatinya itu Hen? apakah jika pada akhirnya mereka tidak menjadi kosong mereka tidak berhak untuk mendapatkan pasangan hidup juga?"
Hendra terdiam dengan semua perkataan dari Kiara.
"Aku tau saat ini mungkin kau akan mengatakan hal itu Kiara, namun itu jika kau memikirkan dari satu sisi saja yaitu hanya dari perasaan mu, namun apakah kau pernah berpikir dari sisi Helen?"
__ADS_1
Deg
Untuk kesekian kalinya Kiara kembali terdiam, memang selama ini Kiara tidak pernah membicarakan hal ini dengan Helen, Kiara tidak pernah bertanya kepada Helen, apakah dirinya kurang akan kasih sayang atau tidak.
."Kiara meskipun kita sudah mengenal cukup lama dan bagi ku kau adalah seseorang wanita yang luar biasa, namun di satu sisi sampai saat ini aku masih belum mengetahui apa yang membuat mu menutup hati sangat berat."
"Dan aku juga tidak akan pernah memaksa seseorang untuk terbuka jika memang dirinya tidak mau untuk terbuka."
"Namun alangkah baiknya untuk kau tidak hanya bisa berpikir dari sisi mu saja, ajaklah Helen untuk berdiskusi masalah ini juga, Helen sudah cukup dewasa untuk bisa diajak diskusi sebenarnya apa yang dia inginkan."
"Aku mengerti Hendra terima kasih untuk setiap saran mu, aku akan memikirkan semua hal yang sudah kau katakan."
Hendra yang melihat Kiara tersenyum kini kembali tertawa, sungguh malam hari ini adalah malam yang penuh dengan keceriaan dari kedua belah pihak yang saat ini sedang mencoba untuk menghilangkan rasa penat di dalam setiap pekerjaannya.
"Hati - hari Hen, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
Kiara mengatakan hal tersebut ketika mobil Hendra sudah masuk ke dalam halaman rumah mungilnya.
"Pasti Kiara, selamat tidur salam untuk Helen."
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara turun dari dalam mobil dan membiarkan mobil Hendra menghilang dari pandangan matanya.
"Hen, jika kau mengetahui semua kebenarannya, maka kau akan mengerti mengapa sampai saat ini aku memilih untuk tetap sendiri."
"Tidak semua laki - laki mau menerima setiap masa lalu ku, tidak semua laki -laki mau memiliki istri mantan narapidana bukan?."
Dengan hati yang sedih Kiara mengatakan hal itu, sadar akan setiap hal yang pernah di laluinya Kiara memilih untuk tetap sendiri hingga saat ini.
"Dokter tampan seperti mu tidak akan pernah mengalami situasi seperti ini Hen."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil memandang indahnya malam yang menjadi saksi persahabatan mereka.
Dengan langkah yang pelan Kiara mengeluarkan kunci dari dalam tas dan membuka rumah mungil yang dia beli dari hasil kerasnya menjadi seorang penulis novel platform.
Begitu masuk ke dalam rumah Kiara melihat rumah yang sedikit berantakan karena semenjak pagi dirinya meninggalkan rumah tidak ada yang membereskan rumah tersebut.
"Helen pasti masih marah kepada ku, rumah masih berantakan dan dia sama sekali tidak mau membantu."
__ADS_1
Kiara mengatakan hal tersebut dengan pelan sambil melihat tumpukan piring kotor dan bekas makanan di meja makan.
Segera saja Kiara meletakkan tas kerjanya, lalu menggulung lengan baju dan mencuci piring kotor yang bertumpuk-tumpuk di tempat cucian piring.
"Mama tau nak, Helen pasti masih marah dengan mama sehingga Helen sama sekali tidak mau membantu mama."
"Tuhan kenapa sampai saat ini aku sama sekali tidak bisa bersikap tegas terhadap Helen? apakah aku seperti itu karena rasa bersalah yang teramat dalam akibat masa lalu ku?"
Kiara bergumam sambil terus mencuci piring - piring kotor dengan ke dua tangannya.
Selama ini Kiara sama sekali tidak pernah marah kepada Helen, rasa bersalah yang sangat dalam membuat Kiara seperti itu terhadap putri yang paling dia sayang.
"Apakah hal ini baik untuk Helen Tuhan? apakah dengan didikan ku yang tidak pernah memberikan teguran untuk setiap hal yang akan dia lakukan berdampak baik untuk dia di masa depan."
Seketika itu juga Air mata Kiara kembali mengalir, Kiara kembali menangis tanpa suara dan terus melakukan pekerjaan rumah tangga meskipun malam semakin larut.
"Suatu saat nanti kau akan mengerti mengapa harus seperti ini sayang, mama hanya. berharap saat pada nantinya engkau menjadi dewasa, mama masih bisa melihat mu nak."
Air mata yang terus mengalir kini mulai di hapus oleh Kiara, sapu dan kain lap yang ada di ke dua tangannya membuat dia sadar bahwa pekerjaan yang dilakukan saat ini belum selesai.
Masih dengan baju kerjanya yang sejak tadi pagi belum di ganti, malam ini Kiara membereskan rumah yang dia beli dengan cicilan setiap bulan.
Selesai membersihkan rumah, Kiara masuk ke dalam kamar dan membersihkan badannya di dalam kamar mandi.
Kesendirian yang kini telah menjadi sahabat karib dari Kiara membuatnya dengan mudah bisa beradaptasi.
Air mata yang telah lelah dia keluarkan membuatnya bersahabat dengan semua hujatan demi hujatan yang terkadang masih dia terima ketika orang tersebut mengetahui bahwa dirinya adalah mantan seorang narapidana.
"Sayang seperti biasa ketika mama sampai di rumah kau pasti sudah tidur."
Kiara yang telah selesai mandi langsung menuju ke kamar Helen dan begitu membuka pintu Kiara melihat putrinya tersebut sudah tertidur dengan sangat lelap.
Dengan perlahan Kiara masuk ke dalam kamar putrinya yang kini telah beranjak remaja.
Kiara melihat beberapa tembok kamar di hiasi foto - foto Helen dan juga beberapa foto yang Helen dan juga para sahabatnya.
Ke dua mata Kiara tertuju kepada satu buku harian yang tergeletak di meja rias di samping tempat tidur Helen dan dengan cepat Kiara duduk dan menatap buku harian tersebut.
__ADS_1