
Mas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan mu? Apakah kau baik - baik saja? Baru kali ini engkau memperlakukan aku seperti ini mas Adrian.
Di dalam hati, Meira mengatakan hal tersebut, ke dua matanya masih menatap Adrian yang ini sudah tenggelam di alam mimpi dengan keadaan yang tidak sadar bahwa dirinya telah membuat hati sang istri sakit.
Meira berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan mencoba untuk menatap kembali satu laki - laki yang yang sangat dia cintai.
Mental yang jatuh ketika untuk pertama kalinya Adrian menolak pelayanan Meira, karena biasanya Adrian sangat antusias jika sang istri memberikan kejutan demi kejutan dengan baju tidurnya yang seksi.
Mas, aku harap esok hari kau sudah kembali baik, jika memang ada hal perlu aku perbaiki aku harap engkau mengatakan hal itu kepada ku.
Setelah mengatakan hal tersebut Meira menarik selimut dan mencoba untuk memejamkan ke dua matanya, malam ini Meira berusaha keras untuk tetap bisa tertidur tanpa melibatkan perasaannya.
Sangat susah memang, namun pada akhirnya Meira berhasil untuk memejamkan ke dua matanya dengan berbalut duka, tidur di samping orang yang paling dia sayang, namun malam ini seperti orang lain.
"Astaga apa saja yang telah terjadi semalam?"
Pagi ini Kiara bangun dengan keadaan telanjang, selimut putih yang membalut tubuhnya terlalu tipis untuk menembus dinginnya ruangan tersebut.
"Aku harus segera menggunakan semua pakaian ku lagi."
Dengan keadaan masih linglung, Kiara mencoba untuk kembali mencari pakaiannya satu per satu, ya pakaian yang semalam telah di lemparkan Adrian ke segala arah.
"Astaga hari ini Helen ujian, aku harus menyiapkan bekal untuknya ke sekolah."
Setelah selesai menggunakan semua pakaian dengan lengkap Kiara bergegas keluar dari ruang kerja, begitu keluar kedua mata Kiara mendapatkan Helen sudah duduk dengan tenang di kursi makan sambil menyantap roti panggang kesukaannya.
"Helen maafkan mama sayang, mama bangun kesiangan."
Seketika itu juga pandangan mata Helen langsung tertuju kepada Kiara, kini Helen memandang Kiara dari ata sampai bawah secara bergantian.
"Mama tidak perlu menyiapkan Helen sarapan!"
Setelah mengatakan hal tersebut Helen kembali menyantap roti panggang dengan santai, Helen melakukan hal itu seakan - akan tidak peduli jika sampai saat ini Kiara masih menatapnya.
"Helen sayang, Helen marah dengan mama? Helen mama mohon jangan perlakukan mama seperti ini, jika Helen marah, Helen boleh mengatakan semuanya, namun mama mohon jangan mendiamkan mama."
Untuk kesekian kalinya Kiara mengatakan hal tersebut kepada Helen, bagi Kiara lebih baik dirinya mendapatkan marah yang luar biasa dari Helen daripada Helen memperlakukan dirinya seperti ini.
__ADS_1
"Helen."
Kiara yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian Helen mencoba untuk menyentuh tangan Helen.
"Lepaskan Helen ma!"
Kini Kiara melihat tatapan benci dari ke dua mata Helen, saat Helen memandangnya.
"Helen katakan salah mama."
"Baju mama sejak tadi malam belum ganti."
Deg
Seketika itu juga Kiara langsung melihat ke arah bajunya.
"Iya sayang mama ketiduran di ruang kerja, maafkan mama."
"Bersama dengan om Adrian ma?"
Deg
"Apa maksud Helen?"
Seketika itu juga Helen tersenyum sinis.
"Helen bukan anak kecil lagi ma, Helen bukan anak kecil yang bisa mama bohongi, semalam Helen melihat om Adrian keluar dari ruang kerja mama, bukan malam namun sudah larut malam".
Deg
untuk pertama kalinya Kiara kini hanya bisa terdiam seperti patung, dan untuk pertama kalinya Kiara menyadari bahwa putri kecilnya bukalah anak kecil lagi yang bisa dia tipu.
"Jika mama mengizinkan laki - laki dengan leluasa masuk ke dalam rumah kita, dan pulang sampai larut malam, berarti Helen juga bisa melakukan hal yang sama seperti mama."
Setelah mengatakan hal tersebut Helen beranjak dari tempat duduknya, Helen mengambil tas sekolah dan kembali menatap tajam ke arah Kiara.
"Mama tidak perlu mengantarkan Helen ke sekolah, hari ini om Hendra yang menjemput Helen, kata om Hendra sekaligus karena harus ke rumah sakit pagi - pagi, Helen pergi dulu ma."
__ADS_1
Kiara masih terdiam dengan semua perkataan Helen, Kiara hanya bisa menatap langkah kaki Helen yang kini sudah membuka pintu rumah.
"Maafkan mama sayang, mama memang bukan mama yang baik untuk Helen."
Seketika itu juga Kiara duduk di kursi makan, saat ini Kiara sangat malu, ya malu dengan putri kandungnya sendiri, malu ketika dirinya tidak bisa menjadi contoh untuk putri semata wayangnya, malu karena tidak bisa mengendalikan hasratnya dan semua yang Kiara lakukan kali sungguh - sungguh di luar nalar logikanya.
"Ya halo."
Semua tangisan Kiara terpaksa berhenti ketika ponselnya berbunyi.
"Aku bisa bertemu jam makan siang nanti, datanglah ke toko buku, aku tidak bisa keluar karena hari ini karyawan ku tidak masuk."
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara langsung menutup panggilan ponselnya, dan beranjak dari tempat duduknya.
Pagi ini Kiara mencoba untuk berdamai dengan hatinya sendiri, Kiara mencoba untuk memalingkan semua pikiran demi pikiran kotor yang semalam sudah terjadi antara dirinya dengan Adrian.
"Mas, aku sudah kembali mencintai mu, dan setelah ini kita akan terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam lagi."
Di dalam kamar mandi Kiara mengatakan hal tersebut, Kiara menguyur kepalanya dengan air dingin, Kiara berharap bahwa jika waktu kembali datang dia ingin sekali menghindar dari laki - laki bernama Adrian.
Namun kini Kiara sudah masuk ke dalam lubang yang lebih dalam lagi, dan sepertinya Kiara enggan untuk keluar, karena dirinya tak mampu untuk melawan hatinya sendiri.
"Maafkan aku Anyelir jika siang ini aku menganggu waktu mu."
Siang ini satu wanita cantik ingin bertemu dengan Kiara di toko buku, wanita tersebut datang dengan tepat waktu dan sungguh Kiara tidak berhenti memandang dan mengagumi kecantikannya.
"Tak masalah mbak Meira, maafkan aku yang tidak dapat menemui mu di luar, hari ini aku harus berada di toko buku."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil membalas sapaan Meira dengan senyuman manisnya.
"Tidak masalah Anyelir, aku sudah senang di balik waktu mu yang padat, kau mau memberikan sedikit waktu mu untuk ku."
"Duduklah mbak Meira."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mengambil beberapa minuman dingin dari kulkas yang berada di dalam ruang kerjanya.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?"
__ADS_1
Meira terdiam beberapa menit saat Kiara mengatakan hal tersebut, saat ini Meira ragu untuk membagikan cerita pribadinya, namun di satu sisi Meira membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesahnya.
"Anyelir aku tau, kita baru beberapa lama mengenal, namun aku sudah merasakan cocok untuk berteman dengan mu."