ANYELIR ( KIARA)

ANYELIR ( KIARA)
BUKU HARIAN


__ADS_3

Saat ini sungguh menjadi dilema tersendiri ketika Kiara menatap buku harian berwarna merah tersebut.


Sayang, apakah kau akan semakin membenci mama jika dengan lancang mama membuka buku harian mu?


Namun sayang mama sangat ini mengetahui apa saja yang kau tulis di buku harian tersebut.


Akhir - akhir ini kita sering berselisih paham, dan mama yakin kau pasti banyak menuangkan tulisan mu di sini.


Kiara mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk mendekatkan ke dua tangannya kepada buku harian berwarna merah tersebut.


Sejenak Kiara terdiam, namun pada akhirnya dengan mantap Kiara membuka buku harian milik putrinya tersebut.


Pagi ini aku bermimpi lagi bertemu dengan papa, di dalam mimpi itu papa begitu tampan, aku dipeluk papa dan papa mengatakan bahwa dia sangat mencintai ku.


Namun saat aku bangun dan kembali menanyakan keberadaan papa jawaban mama selalu sama, aku benci jawaban mama, aku benci dengan setiap hal yang mama katakan tentang papa.


Aku hanya ingin merasakan rasanya di peluk papa, di sayang papa, di lindungi papa, apakah salah ketika aku ingin hal itu?


Tuhan sebentar lagi aku ulang tahun, aku tau ini adalah permintaan yang aneh, namun kado yang aku ingin dapatkan dari Tuhan adalah aku kembali bertemu dengan papa, Tuhan jika memang papa betul - betul sudah kembali kepada Mu, izinkan aku untuk mengetahui dimana tempat istirahat terakhir papa.


Namun jika semua perkataan mama itu bohong, bawa aku bertemu dengan papa kandung ku, karena begitu aku bertemu dengannya aku ingin sekali berlari dan memeluk papa..


Tuhan itu kado yang aku minta dari Mu, karena mama tidak akan pernah bisa untuk mengabulkan semua permintaan ku ini.


Helen kangen papa, Helen ingin di peluk papa.


Lembar demi lembar kini Kiara baca, setiap kata demi kata membuat Kiara kembali meneteskan air mata.


Sesak hati Kiara ketika melihat tulisan demi tulisan Helen yang kini dia baca, tangisan yang kini keluar dari dengan erat dia sembunyikan, karena bagaimanapun juga Kiara tidak ingin Helen tau jika malam ini dengan lancang Kiara telah membaca semua isi hati sang putri tercinta yang telah dia tuangkan di dalam buku harian.


Sayang maafkan mama, maafkan mama sampai saat ini belum bisa mengatakan banyak kebenaran terhadap mu, mama takut sayang, mama takut jika Helen tidak bisa menerima semuanya, mama takut jika pada nantinya Helen semakin membenci mama.


Mama melakukan semua ini agar tidak ada timbul pengharapan Helen untuk mencari papa, karena besar kemungkinannya jika mas Adrian tidak akan mengakui Helen sebagai putrinya.

__ADS_1


Kiara mengatakan semua hal tersebut dari dalam hati sambil menangis tanpa suara, dengan perlahan salah satu tangannya kini mengusap kepala Helen, sakit sekali ketika Kiara melihat wajah Helen yang sangat mirip dengan laki - laki jahat di masa lalunya..


"Selamat tidur sayang."


Dengan menarik nafas panjang Kiara mengatakan hal itu dan beranjak dari tempat duduknya.


Setelah keluar dari dalam kamar Helen, Kiara segera berlari ke dalam kamarnya untuk memuaskan hati menangis.


"Mas Adrian, mas, saat ini putri mu sangat ingin bertemu dengan mu, Tuhan dimanapun saat ini mas Adrian berada aku mohon sampaikan hal ini kepada mas Adrian, karena hanya Engkau yang bisa melakukan hal itu mas."


Diatas tempat tidur dan dalam keadaan menangis Kiara mengatakan hal tersebut, statusnya sebagai mantan narapidana membuat dirinya tidak memiliki keberanian yang terbuka untuk mencari Adrian, laki - laki di masa lalu yang meninggalkan dirinya saat mengetahui Kiara tersandung satu kasus cukup berat sehingga hukuman pidana harus dia terima.


Dengan penuh air mata dan ratapannya kepada Tuhan malam ini Kiara kembali tertidur, sungguh hancur sekali hatinya ketika dia membaca kata demi kata dari dalam buku harian Helen.


Sementara itu di tempat lain.


"Mas, mas Adrian bangun mas, mas baik - baik saja?"


Meira mengatakan hal tersebut sambil mengguncang - guncang baju Adrian.


Adrian kembali berteriak dan pada akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Mas Adrian mimpi buruk lagi pasti."


Meira dengan sigap menyalakan lampu kamar dan memberikan air minum air mineral kepada Adrian.


"Terima kasih Meira."


Dengan cepat Adrian meneguk air mineral yang telah diberikan kepadanya.


"Mas, apakah betul jika saat ini tidak ada yang mengganjal di dalam hati mas Adrian?"


Di tengah malam Meira menanyakan kembali pernyataan yang sama untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Sungguh Me, aku baik - baik saja, mungkin aku terlalu lelah."


Adrian mengatakan hal tersebut sambil menyeka keringat yang bercucuran meskipun keadaan kamar dingin.


"Mas, jika memang ada masalah jangan pernah ragu untuk bercerita dengan Meira yah, dengan senang hati Meira akan mendengarkan mas Adrian, mas jangan pernah di pendam sendiri."


"Pasti Me, terima kasih karena kau sangat peduli dengan ku, sekarang tidurlah lagi, percaya lah aku baik - baik saja."


Meira berusaha mencari kebenaran dari perkataan Adrian dengan ke dua matanya yang memandang dengan tajam.


"Iya mas."


Setelah mencoba untuk menyakinkan diri sendiri, Meira kembali membaringkannya badannya.


"Mas ke kamar mandi dulu ya."


Dengan penuh kelembutan Adrian mencium kening Meira dan di sambut dengan anggukan kepala dari Meira.


"Apa yang ada di dalam pikiran mu Adrian, wanita itu sudah lama pergi dari hati mu bukan, ah bukan dia sama sekali tidak pernah singgah di dalam hati mu, lalu kenapa akhir - akhir ini wanita itu yang tiba - tiba muncul di dalam setiap mimpi - mimpi mu, arrrrh Adrian ayolah bukan seperti ini yang kau harapkan bukan?"


Adrian mengatakan hal tersebut di dalam kamar mandi dan di depan cermin, Adrian yang saat ini sangat merasa aneh dengan apa yang terjadi hanya bisa mengacak - acak rambutnya saja.


Sungguh hal ini di luar kendali Adrian dan Adrian sama sekali tidak menginginkan hal ini.


"Ya Adrian wanita itu tidak lebih dari sekedar sampah di dalam perjalanan hidup yang pernah kau lalui, hanya Miera yang sangat kau cintai, ya hanya Meira."


Adrian memvalidasi perkataannya sendiri, malam hari ini Adrian kembali masuk ke dalam kamar dan memeluk erat sang istri..


Pagi yang hampir menyerang membuat Adrian harus berusaha untuk memejamkan ke dua matanya...


Keangkuhan Adrian yang sampai saat ini tidak pernah pernah mau mengakui bahwa dia pernah memiliki satu masa lalu bersama dengan seorang gadis yang perjumpaannya sangat tidak di sengaja.


Keangkuhan yang membuat Adrian berusaha untuk mengunci dan tidak berusaha untuk menyelesaikan semuanya dengan baik.

__ADS_1


Dan keangkuhan yang pada akhirnya membuat Adrian menutup semuanya seorang diri meskipun berkali -kali Meira menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik.


__ADS_2