
Hasrat yang menguasai Adrian membuatnya sampai seperti ini.
"Sayang, terima kasih, kau selalu sedia setiap ketika aku menginginkan semua hal ini."
Adrian mengatakan hal tersebut sambil membantu Miera menggunakan pakaiannya.
"Sama - sama mas Adrian, sudah menjadi tugas ku untuk melayani mu sayang."
"Apakah kau menikmati semua permainan ku tadi?"
"Aku sangat menikmatinya mas Adrian."
Meira mengatakan hal tersebut sambil tersenyum ke arah Adrian.
"Mas, aku harus menjemput Michelle, mas semangat untuk bekerja lebih giat ya mbak."
Meira mengatakan hal tersebut sambil mencium kening Adrian.
"Pasti sayang, aku mencintaimu Meira."
Meira tersenyum dengan ucapan yang selalu Adrian katakan kepadanya.
Dengan langkah mantap Meira melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan Adrian.
"Anyelir, ya Anyelir kenapa banyak sekali orang - orang di sekitar ku merekomendasikan mu."
Adrian mengatakan hal tersebut sambil mengambil sinopsis yang kini tergeletak di lantai.
Dengan penuh enggan Adrian mulai membuka halaman pertama dari sinopsis tersebut.
Sementara itu menjelang sore Kiara masih duduk termenung di meja makan.
"Dia belum keluar dari dalam kamar, sayang apakah kau begitu marah dengan apa yang telah mama lakukan terhadap mu?"
Semenjak pulang ke rumah Helen langsung lari ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi sampai sore.
"Kau belum makan dari tadi siang sayang, tidak mama tidak akan membiarkan mu seperti ini."
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara bangkit dari tempat duduk dan langsung naik ke lantai dua.
"Sayang, ayo makan, sayang sejak tadi kamu belum keluar dari dalam kamar, sayang mama khawatir, ayo nak keluar makan."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mengetuk - ngetuk pintu kamar Helen, namun tidak ada suara yang menjawab selain kebisuan semata.
"Sayang mama masuk ya."
__ADS_1
Begitu mendapatkan kamar sang putri tercinta tidak di kunci Kiara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dan begitu kaget ketika Kiara mendapatkan putri semata wayangnya tergeletak di lantai.
"Helen, Helen bangun sayang, ada apa dengan mu?"
Kiara yang saat itu panik mencoba untuk menepuk - nepuk wajah Helen, namun tidak ada reaksi apapun dari Helen.
"Bagaimana ini."
Kiara yang saat ini sedang bingung mencoba untuk mencari cara membawa Helen secepatnya ke rumah sakit.
Dengan tangan yang penuh gemetar Kiara menghubungi ambulan agar bisa secepatnya membawa Helen ke rumah sakit.
"Helen maafkan mama."
Dengan penuh ketakutan Kiara terus mengatakan hal itu saat Helen di bawa masuk ke dalam mobil ambulan.
Air mata Kiara mengiringi dirinya mendampingi Helen di dalam mobil ambulan.
Saat ini dirinya tidak peduli ketika harus menemani Helen seorang diri dengan penuh air mata.
"Kiara apa yang terjadi dengan Helen?"
Sesampainya di rumah sakit, Hendra yang sudah di hubungi terlebih dahulu oleh Kiara segera menyambut kedatangan Kiara di unit gawat darurat.
"Hen, aku, aku.."
"Kiara tenangkan diri mu terlebih dahulu, ayo ikut aku ke ruangan."
"Tapi Hen bagaimana dengan Helen? Siapa yang akan menemani dia di dalam sana?"
Kiara kembali mengatakan hal tersebut sambil menunjuk ruangan gawat darurat.
"Kau tenang saja, percayalah para dokter akan menangani Helen dengan baik, justru aku khawatir akan kesehatan mental mu Kiara."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menatap iba kepada Kiara.
"Ayo ikut aku, kau bisa bebas untuk bercerita di sana, kebetulan hari ini aku telah selesai praktek."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil membimbing Kiara, dan Kiara yang saat ini juga sedang membutuhkan tempat untuk bercerita hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil sesekali masih melihat ruangan unit gawat darurat dimana sang putri masih terbaring tak berdaya.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?"
Sesampainya di ruangan Hendra Kiara duduk dan mendengarkan Hendra menanyakan hal itu sambil memberikan secangkir teh hangat.
"Hari ini aku memarahi Helen Hen, tadi untuk kesekian kalinya aku di panggil pihak sekolah akibat ulah dari Helen."
__ADS_1
"Apa yang dilakukan Helen Kiara?"
"Helen memukul teman - temannya Hen, dan dari Helen mengatakan dia sedang membela dirinya dari ejekan teman - temannya sendiri."
"Apakah ada kata - kata yang membuat Helen sakit hati Kiara?"
dengan cepat Kiara langsung menganggukkan kepalanya.
"Ada Hen, semua temannya mengatakan bahwa Kiara adalah anak haram, anak yang tidak memiliki papa dan anak yang .."
Seketika Kiara kembali menangis dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
Kini hanya Hendra yang memandang satu wanita tersebut dengan ke dua matanya, sesaat Hendra ingin sekali memeluk wanita yang saat ini sangat membutuhkan dukungan itu, namun semua niat itu terpaksa Hendra urungkan karena status mereka hanyalah pertemanan.
"Kiara, aku sudah pernah mengatakan hal ini kepada mu, lambat lain Helen bukanlah anak kecil lagi, dia butuh sosok yang selama ini dia cari."
"Aku tau Hen, aku tau, tapi aku tidak bisa untuk membuka hati ku saat ini, aku tidak bisa memaksa membuka hati hanya untuk Helen saja Hendra, aku takut, ya aku takut."
Deg
Seketika Hendra terdiam dengan semua hal yang di katakan Kiara di dalam tangisannya.
"Ketakutan semacam apakah Kiara sampai membuat mu seperti ini?"
"Masa lalu Hendra, masa lalu ku."
Sejenak Hendra terdiam dan mencoba untuk mencari tau apa yang dimaksudkan oleh Kiara."
"Kiara mungkin saat ini kau masih belum mau untuk menceritakan masa lalu mu seperti apa, namun satu hal yang perlu kau ingat bahwa setiap orang memiliki masa lalu, dan kita tidak akan pernah bisa menghapus masa lalu itu."
"Segala sesuatu yang telah terjadi di dalam kehidupan kita tidak akan mungkin bisa kita hapus lagi."
"Ya perlu kita lakukan adalah kita harus berdamai dengan masa lalu itu, ya belajar menerima dengan setiap hal yang sudah terjadi dan tidak membenci segala sesuatu hal yang terjadi."
"Tidak sesederhana itu Hendra."
Kiara mengatakan hal tersebut untuk kesekian kalinya masih dengan air matanya, kini tidak ada lagi yang bisa Hendra perbuat kecuali hanya menjadi pendengar setia dan menemani Kiara yang terus menangis tanpa mau untuk menceritakan semuanya.
Sementara itu di dalam ruangan Adrian begitu serius membaca sinopsis yang beberapa menit lalu di buang olehnya ke tempat sampah.
"Siapa sebenarnya Anyelir?"
Begitu selesai membaca semua sinopsis novel, Andrian mengatakan hal tersebut sambil menyandarkan kepalanya di kursi, sungguh tulisan Anyelir sangat memiliki nyawa dan sesak tiba - tiba hinggap di hati Adrian.
"Tidak mungkin kau adalah dia, tidak - tidak mungkin dia bukan wanita yang pintar sekali merangkai kata - kata."
__ADS_1
Dengan cepat Adrian langsung menggelengkan kepalanya.