
Hendra mengatakan hal tersebut dengan mata yang memerah menahan marah, pada dasarnya Hendra masih belum bisa menerima dengan setiap ucapan demi ucapan Kiara yang menusuk di dalam dadanya.
"Pergilah Hendra, aku sudah tidak ingin bertengkar lagi dengan mu, satu hal yang aku minta aku mohon jangan campuri urusan keluarga ku, termasuk hubungan ku dengan mas Adrian, aku tau semua ini memiliki konsekuensinya sendiri, namun aku akan menerima konsekuensi apapun itu, ya apapun itu."
Kedua tangan Kiara mengepal ketika dirinya mengatakan hal tersebut, rasa marah, rasa benci dan rasa tak berdaya bercampur menjadi satu ketika setiap kata - kata tersebut keluar dari dalam mulutnya sendiri.
"Termasuk jika kau harus kehilangan Helen? Sakit jiwa kau Kiara!"
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Tinggalkan Adrian demi Helen itu yang benar, bukan tinggalkan Helen demi Adrian!"
"Helen tidak akan pergi dan mas Adrian pun juga tidak!"
"Bagaimana bisa Kiara? Jelas - jelas Adrian suami orang, dia punya anak, dia juga punya istri, coba bayangkan jika kau ada di posisi istrinya dan mengetahui suami yang kau cintai selingkuh dengan wanita yang kau kenal, bagaimana perasaan mu?"
"Pergilah Hendra, aku mohon pergilah, jika kau masih ingin disini, berarti aku yang akan pergi!"
Setelah mengatakan hal tersebut Kiara mengambil tas dan menuju ke arah pintu ruang kerjanya.
"Tidak perlu, ini ruangan mu, aku yang harusnya tau diri dan pergi dari sini."
Hendra mengatakan hal tersebut sambil menarik lengan Kiara yang sebentar lagi akan membuka pintu.
"Kiara aku mengenal mu sudah lama, sebagai teman baik hanya ini yang bisa aku berikan untuk mu, aku sama sekali tidak memiliki maksud apapun ketika aku melakukan hal ini, murni karena aku adalah sahabat mu."
Setelah mengatakan hal tersebut Hendra langsung meninggalkan Kiara di dalam ruangan, kini Kiara menghempaskan tubuhnya di sofa dan memijit - mijit pelipisnya sendiri.
"Kau benar Hen, aku memang gila, aku memang sudah tidak tau lagi jika hal ini bisa menjadi boomerang bagi ku, namun aku sudah masuk terlalu dalam Hen, dan tidak mungkin keluar lagi, kecuali..."
Sejenak Kiara terhenti dengan kata - katanya sendiri, kata - kata yang sangat takut dia ucapkan.
"Kecuali mas Adrian kembali meninggalkan aku lagi dan memilih kembali bersatu dengan istrinya."
Rasa sesak menyeruak masuk ke dalam relung hati Kiara ketika dirinya mengatakan hal tersebut, satu hal yang sangat dia takutkan tiba - tiba saja datang dan menjadi bayang - bayang gelap untuk dirinya sendiri.
Kemungkinan yang sangat bisa untuk terjadi, namun kemungkinan tersebut selalu di tepis dengan keras oleh Kiara.
__ADS_1
Hari ini untuk kesekian kalinya Kiara melanjutkan pekerjaan demi pekerjaan menjadi rutinitasnya sehari - hari.
Sesekali Kiara melamun di dalam setiap pekerjaan yang dilakukan tersebut, melamun memikirkan perkataan Hendra namun melamun memikirkan tentang Adrian.
Hari ini bahkan beberapa hari setelahnya Kiara tetap memulai aktivitasnya dengan penuh kecemasan.
Sesekali Adrian berkunjung dan menyewa satu kamar hotel mewah untuk digunakan melalukan hubungan seksual terlarang antara Kiara dan Adrian.
Beberapa hari juga berlalu, Kiara seolah - olah juga sudah terbiasa dengan sikap Helen yang berbicara hanya sepatah dua patah kata saja tanpa menghargai lagi dirinya lagi.
Sungguh hal baru di dalam kehidupan Kiara yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
"Selamat datang di gala premiere film masa lalu Maureen."
Satu orang penerima tamu mengatakan hal tersebut kepada Kiara saat dirinya akan masuk ke dalam gedung bioskop yang sedang berlangsung pemutaran perdana film yang diadaptasi dari novelnya.
"Terima kasih mas Puji."
Hari ini Kiara datang dengan menggunakan gaun warna hitam, tubuhnya semakin terlihat menggoda ketika gaun yang dia gunakan sangat membentuk tubuhnya.
Dan di saat yang bersamaan Kiara melihat satu laki - laki tampan yang datang bersama keluarganya, sang istri tersenyum ramah kepada setiap tamu yang menyapa dirinya.
"Anyelir kemarilah!"
Deg
Baru saja Kiara ingin menghilang dari hadapan mereka, namun sang wanita cantik tersebut memanggil Kiara dengan suara nyaring, hal tersebut lah yang membuat Kiara mau tak mau harus datang untuk menghampirinya.
"Mbak Meira anda cantik sekali."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil mencium pipi Meira.
"Kau juga cantik, Anyelir kau datang sendiri? dimana Helen?"
Meira yang menyadari jika Kiara datang sendiri segera menanyakan keberadaan Helen.
"Helen sedang sibuk mengerjakan tugas mbak, jadi hari ini aku datang sendiri."
__ADS_1
"Ah ya seperti itu, baiklah, mas Adrian aku boleh ya mengajak Anyelir duduk bersama dengan kita?"
Deg
Kiara hampir lupa jika sejak tadi ke dua mata Adrian tidak henti - hentinya memandang tubuhnya.
"Ya terserah kau saja sayang, jika memang masih ada tempat siapapun bisa kau ajak duduk bersama dengan kita."
Deg
Sungguh hati Kiara seperti dihantam sebuah batu besar ketika Adrian memanggil Meira dengan sebutan kata sayang.
"Terima kasih, aku yakin satu tempat untuk wanita cantik sebagai penulis novel dari cerita ini pasti akan sangat ada, ayo Anyelir."
Tidak ada kata - kata lagi yang Kiara ucapakan selain senyuman dan pada akhirnya mengikuti langkah kaki sepasang suami istri yang sangat mesra di hadapan banyak orang.
sepanjang film di putar banyak sekali para penonton yang menitihkan air matanya, rupanya cerita novel Kiara mampu memainkan emosi para penonton dengan sangat apik.
Namun lain halnya dengan Kiara yang sejak tadi hal diam dan melihat pemandangan demi pemandangan yang sangat menjijikkan baginya.
Dengan jelas Kiara melihat betapa Meira begitu manja terhadap Adrian, dan betapa Adrian sangat menanggapi sikap manja Meira tersebut.
Perlakuan demi perlakuan istimewa Adrian terhadap Meira membuat Kiara hanya bisa menelan ludah.
Ingin rasanya Kiara berteriak di hadapan banyak orang dan mengatakan laki - laki ini adalah laki - laki sama yang berani berselingkuh dan berbohong dengan semua sikap mesranya.
Bukan kau yang dia cinta Meira, namun aku, ya hanya aku yang boleh untuk memiliki hati dari mas Adrian.
Di dalam hati Kiara terus mengatakan hal tersebut sambil ke dua tangan ******* - ***** ujung gaunnya.
Saat ini betapa Kiara berharap bahwa pemutaran film ini segera berakhir, segala sesuatu yang dia lihat pun segera selesai, sungguh Kiara rasanya ingin sekali cepat kabur dari hadapan Adrian dan juga Meira yang terlihat sangat mesra.
"Mbak Meira, aku pulang dulu saja, kasihan Helen di rumah sendiri."
Begitu pemutaran film selesai Kiara segera beranjak dari tempat duduknya dan mengatakan hal tersebut kepada Meira.
"Ah tadi kami ingin mengajak mu makan malam bersama."
__ADS_1