
Untuk pertama kalinya Kiara merasakan kelemahan hati yang begitu dalam, tidak dapat di pungkiri tatapan mata Adrian masih begitu membekas di hati meskipun terkadang bersatu dengan rasa benci.
"Pikirkanlah lagi, yang jelas aku tidak akan berhenti untuk memperjuangkan masa lalu ku yang dulu sengaja harus aku lupakan, satu hal lagi meskipun sampai saat ini kau masih belum memberitahukan kebenaran tentang Helen, namun aku sangat yakin dia adalah putri kandung ku."
Deg
Kiara cukup tercengang dengan semua hal yang telah dikatakan oleh Adrian.
"Aku tidak tau apa motif mu menyembunyikan identitas Helen dari ku, namun aku akan mencoba untuk mengerti kau melakukan hal ini, aku tau kau bukan wanita yang jahat dan bukan pula wanita yang kejam, jadi aku akan sangat menunggu jika pada akhirnya kau mau mengatakan kebenaran itu."
Tidak ada kata - kata lagi yang Kiara ucapkan saat ini, yang ada hanya tatapan demi tatapan nanar terhadap Adrian yang tidak pernah kunjung berhenti.
"Aku pergi dulu mas."
Dan pada akhirnya Kiara mengatakan hal tersebut dengan membalikan badan tanpa memandang ke arah Adrian lagi.
Tuhan, bagaimana mungkin aku menaruh hati terhadap satu laki - laki di masa lalu yang kini kembali hadir, dan terlebih lagi dia sudah menjadi seorang suami, dan tidak seharusnya aku berada di dalam posisi ini.
Kiara mengatakan hal tersebut di dalam hati sambil berjalan ke arah mobilnya, hari ini pada akhirnya Kiara memilih untuk kembali pulang, rasa perih, rasa marah, rasa lelah atas semua hal yang telah Adrian lakukan semalam seakan - akan menghilang ketika Kiara mendengarkan ucapan demi ucapan masih dari seseorang CEO rumah produksi film tempatnya meletakkan naskah novel.
"Kau tidak akan cukup kuat Kiara untuk menjadi orang ke tiga di dalam sebuah pernikahan, lupakan Adrian dan jangan pernah memulai api yang seharusnya tidak perlu untuk di mulai."
Kiara mengatakan hal tersebut seakan-akan memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri atas apa saat ini dia hadapi, sungguh hati dan pikirannya sedang bertolak belakang dan belum mengetahui apa saja yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan kecepatan penuh Kiara melajukan mobilnya seakan - akan tidak peduli lagi apakah nyawa akan menjadi taruhannya atau tidak.
"Pagi Kiara."
Deg
Begitu Kiara sampai ke toko buku, satu orang laki - laki yang sangat dia kenal menyapa dengan lembut.
"Hendra."
__ADS_1
"Ya aku Hendra dokter ganteng di novel cinta sang dokter."
Kiara yang mendengarkan lelucon Hendra kini hanya bisa tersenyum.
"Pagi - pagi sekali kau datang Hen, apakah kau sedang mencari sesuatu?"
"Hmmm tidak, aku hanya ingin menanyakan keadaan mu apakah kau baik - baik saja? semalam Helen bercerita kau tidak pulang ke rumah."
Deg
Kiara terdiam, sejenak Kiara melupakan Helen, ya Kiara lupa memberitahukan kepada Helen kemana dia semalam.
"Aku, aku.."
"Aku kenapa Kiara?"
"Masuklah ke dalam ruang kerja ku Hendre, maka aku akan menjelaskan semuanya."
"Jadi apa yang akan kau ceritakan kepada ku Kiara?"
"Semalam aku pergi Hen, aku pergi ke sebuah tempat hiburan dan memesan satu kamar VVIP untuk melepaskan penat ku disana."
"Apakah kau sendiri di dalam ruangan itu?"
Sejenak Kiara terdiam dan kembali menatap ke arah Hendra.
"Apa urusan mu Hen? Aku pergi sendiri atau aku pergi bersama dengan seseorang pun kau tidak pernah berhak untuk mengurusinya."
Hendra cukup tersentak dengan semua perkataan yang telah Kiara katakan..
"Ya kau benar Kiara aku memang tidak ada hak untuk menanyakan hal ini kepada mu, seandainya saja jika Helen tidak menghubungi dan menceritakan keluh kesahnya terhadap ku, maka aku juga tidak akan menanyakan hal ini kepada mu."
Kini Hendra pun menjawab dengan ketus apa yang telah Kiara sampaikan.
__ADS_1
"Kau punya Helen Kiara, kau punya satu orang putri yang akan mencari keberadaan mu jika kau tidak ada di rumah, yang merasa kehilangan jika ibunya tidak ada di sampingnya, kau harus ingat hal ini Kiara."
"Aku tau Hendra, aku tau bahwa aku seorang ibu, aku tau hanya aku yang merawat Helen, dan aku tau bahwa mungkin kau merasa terganggu dengan curahan hati yang telah Helen lakukan terhadap mu, maaf kan kami Hendra."
"Tunggu Kiara bukan maksudku seperti itu, aku sama sekali tidak keberatan jika Helen mau terbuka dengan ku, justru aku."
"Sudah cukup Hendra! Kau boleh pergi, hari ini ada banyak naskah yang ingin aku tuliskan."
Kiara mengatakan hal tersebut dengan posisi membelakangi Hendra, sungguh saat ini Kiara sedang tidak ingin untuk beradu mulut dengan Hendra.
Kedua mata Kiara sedang tidak berani menatap Hendra dalam - dalam, ada perasaan bersalah yang dalam ketika Kiara melakukan hal itu.
"Baiklah, aku juga harus pergi, satu hal yang ingin aku katakan kepada mu,Helen saat ini sangat membutuhkan mu,.jangan sampai kau menyesal di kemudian hari."
"Usia Helen adalah usia yang rentan terhadap pergaulan, jika kau sama sekali tidak peduli terhadapnya, maka mungkin saja hal buruk bisa terjadi kepadanya, aku tetap orang luar yang hanya bisa membantu sedikit saja, karena peran utama untuk hal ini adalah ibunya."
Selesai mengatakan hal tersebut Hendra keluar dari ruang kerja Kiara, kini Kiara masih tetap terdiam sambil menatap ke arah jendela, Kiara melihat mobil Hendra yang kini mulai melaju ke arah jalan raya
"Tau apa kau Hendra soal kehidupan, kau sama sekali tidak pernah mengalami kelaparan di jalan, kau juga tidak pernah mengalami rasa sakitnya di perkosa oleh laki - laki yang di kira bisa melindungi kita."
"Apa yang kau tau Hendra, semua yang kau tau hanya teori demi teori yang kau pelajari dan tidak pernah kau hadapi secara langsung."
Kiara mengatakan hal tersebut sambil menggenggam ke dua tangannya, entah apa yang Kiara rasakan saat ini, namun hatinya begitu kesal ketika Hendra selalu ikut campur di dalam kehidupannya.
Kiara tidak ingin Hendra terlalu mencampuri setiap urusannya yang sebenarnya Kiara tau itu adalah kesalahan.
"Aku tau Hen bahwa semua hal yang telah aku lakukan itu salah, aku juga tidak ingin ada di posisi ini, tapi."
Tiba - tiba saja Kiara kembali terdiam, ke dua matanya memandang ke arah langit - langit ruangan kerjanya, ke dua matanya mulai sembab yang mengisyaratkan jika dirinya kembali menangis.
"Aku masih sangat mencintai mas Adrian, ya aku masih sangat mencintainya."
Kata - kata yang keluar dari mulut Kiara bercampur dengan rasa sesak di dalam dadanya.
__ADS_1