
"Mas Adrian, apakah pernah membayangkan apa yang saat ini aku rasakan?"
Meira mengatakan hal tersebut dengan ke kedua matanya memandang tajam ke arah Adrian yang kini hanya bisa terdiam.
"Pagi - pagi ketika aku bangun dan selesai berdoa, ponsel ku sangat ramai dengan pesan dari teman - teman ku sendiri, pagi - pagi aku sampai di hubungi oleh salah satu sahabat ku agar aku segera membuka media sosial."
Meira berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, bagaimanapun juga Meira tidak ingin sampai Michelle mengetahui segala sesuatu yang terjadi saat ini.
"Dan begitu aku membuka ponsel, aku melihat mu mas, dan juga Anyelir sahabat yang selama ini aku percaya, kalian astaga kalian jahat mas!"
Meira mengatakan hal tersebut dengan perlahan namun penuh dengan tekanan.
"Kau tau aku sampai melemparkan ponsel ku sendiri ke tembok dan berharap semua ini hanya mimpi!"
Meira mengatakan hal tersebut sambil memperlihatkan ponselnya yang sudah remuk redam dia lempar.
"Dan yang lebih membuat aku sakit, kau melakukan hubungan **** tersebut di kamar yang selalu kita pakai untuk berbulan madu ketika kita sedang tidak bisa pergi keluar kota."
"Di kamar yang sama, di tempat tidur yang sama, kau menjamah dua wanita yang berbeda, di mana hati mu mas Adrian?"
Meira sakit sekali hatinya ketika mengatakan hal tersebut, sungguh kali ini Meira tidak bisa lagi menghentikan tangisnya.
"Ma, jawab apa yang sebenarnya mas Adrian pikirkan ketika mas Adrian membawa Anyelir ke kamar itu? Mas kamar itu atas nama ku mas, aku membeli hotel mewah itu dengan keringat ku sendiri!"
Meira kembali hancur hati saat dia mengingat bagaimana dulu sebelum dirinya menikah, karir Meira sanga bagus.
Beberapa pekerjaan besar berada di bawah kekuatannya, untuk itulah Meira bisa dengan mudah membeli hotel tua yang pada akhirnya dia rombak menjadi hotel berbintang di kota kecil tempat tinggal mereka sekarang.
"Dan dengan leluasa mas Adrian memasukan wanita lain di dalam terbaik."
Setelah mengatakan hal tersebut Meira kembali menangis, sungguh tangisan yang sangat pilu ketika Adrian mendengarkannya.
__ADS_1
"Sebutkan saja mas, apa kekurangan ku? apa yang membuat mas Adrian tidak puas sehingga mas Adrian selingkuh dengan wanita yang berada di bawah level ku!"
"Anyelir adalah janda beranak satu mas, wajahnya juga sama sekali tidak cantik, apa yang mas Adrian ambil dari dia, sehingga mas Adrian pada akhirnya lebih memiliki nafsu dengannya."
Setelah mengatakan hal tersebut Meira terdiam, ingatannya kembali menjelajahi setiap peristiwa demi peristiwa yang akhir - akhir ini sudah terjadi di antara mereka.
Tolakan Adrian ketika Meira mengajaknya berhubungan badan, sikap dingin Adrian kepadanya, serta hal - hal kecil aneh yang kini menjadi titik terang mengapa semuanya terjadi.
"Meira aku memang salah ya aku salah, kau boleh memukul ku dengan sekuat tenaga, namun ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan kepada mu sayang!"
"Hal apa lagi mas Adrian, apakah mas Adrian belum cukup untuk menyakiti hati Meira?"
Di tengah tangisannya yang tertahan Meira kini hanya bisa mengatakan hal tersebut kepada Adrian yang seakan - akan tidak diberikan kesempatan untuk berbicara.
"Arrrrh, aku memang laki - laki bodoh!"
Adrian mengatakan hal tersebut sambil memukul - mukul meja.
"Hentikan mas Adrian, atau kau mau Michelle terbangun dan mengetahui keadaan kita saat ini?"
"Sayang aku mohon maafkan aku, aku mohon Meira."
Adrian dengan kekuatannya yang terakhir terus mengatakan hal tersebut kepada Meira.
"Apabila aku harus bersujud berkali - kali di hadapan mu, aku mau, aku hanya ingin kau bisa memaafkan aku."
Dengan cepat Meira langsung kembali menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku mas, namun kali ini apa yang telah mas Adrian lakukan terlalu membuat aku terluka, dan di belahan dunia manapun tidak akan ada wanita yang bisa dengan gampang menerima maaf dari dari sebuah perselingkuhan mas."
Dan pada akhirnya Adrian bisa terduduk lesu di kursi.
__ADS_1
"Saat ini Michelle tidak mengetahui semuanya, namun jejak digital tidak akan pernah bisa terhapus, aku mau tetap menjaga nama baik mu dihadapan Michelle sebisa yang aku mampu, itu sebabnya aku mohon untuk mas Adrian pergi dari rumah ini."
Deg
Sungguh kata - kata Meira membuat Adrian tersentak.
"Kau mengusir aku Meira?"
Dengan cepat Meira langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengusir mu mas, aku butuh waktu untuk sendiri, rasa sedih ku, rasa kecewa ku terhadap mu akan sulit sembuh ketika setiap hari aku harus terus berhadapan dengan mu."
"Tolong mas Adrian mengertilah posisi ku, untuk apa aku mengusir mu, rumah ini, segala apapun yang ada di rumah ini bukan milik kita, namun semuanya milik Michelle, atas nama Michelle, lantas apa hak ku untuk mengusir mu ketika aku sendiri tidak memiliki wewenang terhadap semuanya lagi."
Adrian termenung dengan semua hal yang saat ini telah diucapkan oleh Meira, apa yang dikatakan oleh Meira memang benar adanya, seharusnya dia tidak perlu berprasangka buruk apapun ketika Meira memintanya untuk pergi dari rumah ini.
"Baiklah Meira aku menghormati keputusan mu, aku menghormati atas apa yang telah kau putuskan, bagaimanapun aku telah melakukan kesalahan besar namun di dalam kehidupan rumah tangga kita."
"Tak seharusnya aku egois dengan aku tetap berada di dalam rumah ini, sedangkan kau sendiri masih trauma dengan keberadaan ku."
"Terima kasih mas Adrian, aku harap kita bisa bekerja sama di dalam hal ini, aku akan mengatakan kepada Michelle bahwa kau sedang pergi keluar kota untuk urusan kantor, aku juga akan memindahkan Michelle untuk home schooling saja, karena jika dia masih berada di sekolah umum, mentalnya pasti akan terganggu, bisa jadi para guru atau orang tua murid yang lain mengetahui dan mencibir Michelle."
"Aku tidak ingin anak ku mengalami apa yang telah aku alami dulu, masa lalu ku tentang perselingkuhan papa cukup membuat ku membekas sampai sekarang."
Deg
Seketika itu juga Adrian langsung mengingat bahwa Meira berasal dari keluarga kaya raya yang berantakan, hidupnya memang penuh dengan kemewahan, namun hati dan semuanya rusak, semua itu terjadi akibat perselingkuhan sang ayah.
Dan kini Meira harus kembali menghadapi hal itu dari suaminya sendiri, sungguh saat ini Adrian tidak tau lagi harus mengatakan apa kepada Meira.
Rasa bersalahnya semakin memuncak ketika Adrian kembali teringat cerita demi cerita Meira saat mereka masih pacaran.
__ADS_1
"Me, maafkan aku."
"Pergilah mas Adrian, nanti semua baju dan apapun yang kau butuhkan akan aku minta bibi untuk mengantarkan ke apartemen."