
Giselle masuk ke dalam rumahnya setelah memastikan Gala sudah pergi dan tidak lagi terlihat.
Dengan bibir yang tersenyum lebar dia membuka gerbang rumahnya sendiri dan berjalan dengan melenggangkan tubuh masuk ke dalam rumah.
"Giselle!" pekik sang ibu, langsung menyambut kedatangan anaknya. Giselle bahkan sontak beristighfar dan memegangi jantungnya yang terkejut.
"Ya Allah Bundaa! anak pulang malah di kagetin!" keluh Giselle, jantungnya hingga kini masih juga berdegup kencang.
"Jam berapa ini! udah jam 3 baru sampe rumah," ketus bunda Saras, menunjuk jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan pukul 3 sore hari.
Hari ini Gisel memang pulang terlambat, biasanya jam 2 dia sudah sampai di rumah. Keterlambatannya kali ini tentu saja penyebabnya adalah Gala. pertama tentang berdebat di halte bus, lalu membeli helm ini pula, helm yang kini masih Giselle pegang di tangannya.
"Maaf Bunda_"
"Itu helm siapa kamu bawa-bawa? kamu pulang naik motor? Diantar siapa?"
"Gala_"
"Alhamdulilah!" potong Bunda Saras, sedari tadi dia terus memotong ucapan Giselle, tidak membiarkan anaknya menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu. Membuat Gisel meradang dan jadi malas untuk berbicara dengan sang ibu.
"Ya sudah sana cepat masuk, ganti baju. Kirain bunda kamu pergi kemana, kalau pergi sama Gala ya nggak pa-pa," pas bunda Saras seraya mendorong sang anak gadis untuk masuk ke kamarnya.
"Et! tunggu dulu, itu helm siapa? sepertinya masih baru," tanya bunda Saras lagi, sekarang mereka sudah berdiri tepat didepan pintu kamar Giselle.
"Heml ku Bunda, dibeliin Gala, helm couple."
"Hih! kamu, belum apa-apa udah morotin Gala, berapa harganya? besok bunda kasih uangnya, kamu kasih uang itu ke Gala," sahut bunda Saras tidak terima.
Dia tahu Gala masih sekolah dan uangnya pasti dari orang tua Gala. Bunda Saras tidak ingin Gala memakai uang kedua orang tuanya untuk membelikan Giselle ini dan itu.
"Harganya 290 ribu."
Bunda Saras menganggukkan kepalanya.
"Nanti bunda kasih uangnya, besok kamu kembalikan ke Gala."
"Iya."
Setelahnya Giselle benar-benar masuk ke kamarnya sedangkan bunda Saras entah pergi kemana.
__ADS_1
"Nanti kalau Gala nggak mau terima uang itu, uangnya bisa untukku, ditambah 10 ribu bisa dapet 1 paket MS Glouw, hahahaha," tawa Giselle, seperti tawa nenek sihir jahat.
Dengan segera ia mengganti baju dan membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Gisel benar-benar bangun lebih awal, setelah salat subuh pun dia langsung mandi dan tidak tidur lagi. Dia menuruti perintah gala siang kemarin.
Seolah Gala bisa melihat semua pergerakannya. Andai Dia tidak menuruti itu Gala akan segera memberinya hukuman.
Jam 6.30 pagi Gisel sudah berada di meja makan, duduk rapi dan memperhatikan sang ibu yang masih berkutat di dapur.
Bunda Sarah bahkan sampai heran melihat anak gadisnya yang hari ini begitu rajin.
Sampai lambat laun keheranannya itu terjawab, apalagi saat melihat Giselle yang keluar membawa helm di tangannya. Sudah bisa dipastikan bahwa pagi ini anak gadisnya itu akan pergi ke sekolah bersama Gala, Karena itulah Gisel bersiap lebih awal agar tidak membuat Gala menunggu lama.
"Bun, aku nggak usah makan nasi ya, aku makan buah sama roti aja."
"Buah sama roti itu juga termasuk makan," jawab bunda Saras, dia mendekati Giselle dan memberikan uang 290 ribu untuk membayar helm itu.
"Kalau Gala nolak, uangnya balikin ke Bunda, daripada buat kamu jajan mending buat bayar listrik."
Saat Ayah dan sang kakak mendatangi meja makan, Giselle sudah bersiap untuk pergi. Dia akan menunggu Gala di depan gerbang rumahnya.
Tingkah Gisel itupun membuat Ayah Bambang dan abang Gilang pun merasa heran, namun cukup senang karena pagi ini suasana rumah jadi lebih tenang. Tidak terdengar suara Bunda Sarah yang teriak-teriak membangunkan sang anak.
Tidak lama menunggu kedatangan Gala, akhirnya Giselle melihat sang pujaan hati mulai datang dari ujung sana. Seketika jantungnya berdebar, ia bahkan berulang kali menggigit bibir bawahnya merasa gugup.
Dia juga sedikit membenahi rambutnya agar terlihat sempurna. Dan berulangkali membasahi bibirnya agar terlihat lebih merona.
Sampai akhirnya Gala benar-benar berhenti persis di hadapan dirinya. Gala membuka kaca helm nya dan menatap wajah Gisel yang pagi ini nampak begitu cerah dan cantik, berseri.
Sangat menawan, apalagi saat melihat Gisel yang menyelipkan beberapa rambutnya ke belakang telinga dengan malu-malu.
Membuatnya jadi merasa tersipu.
"Ayo naik," ajak Gala, dia mengambil helm di tangan Gisel dan memasangkan hanya untuk sang gadis. Sedangkan Gisel menurut, dia menundukkan kepalanya sedikit.
Lalu segera naik dengan hati-hati ke atas motor dan memeluk Gala dari belakang dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Lets Go!" ucap Gala dan Giselle hanya mampu mengulum senyum dengan kedua pipinya yang sudah merah merona.
Senyum Giselle itu, menular pada 3 pasang mata yang mengintip dirinya dari dalam rumah. Ayah, bunda dan abangnya mengintip lalu ikut tersenyum-senyum.
Bunda Saras menunjukkan pada Gilang betapa tampannya sang calon menantu.
Dan Gilang pun mengakui itu, namun Gilang merasa bahwa wajah Gala itu tidak asing. Seolah dia pernah melihatnya tapi lupa dimana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu dan semuanya terasa begitu indah. Bahkan mereka semua sampai tidak sadar jika musim sudah berganti.
Giselle, Lili, Gala, Anjas, Usman dan Robby semakin dekat, saling berbagi kebahagiaan, canda, tawa dan juga air mata. Tanpa ada kata cinta yang terucap, namun hubungan mereka semua semakin kuat.
Sejak studi tour di Bogor kala itu, kini bukan hanya Anjas yang menjadi guru privat Giselle dan Lili, tapi Gala juga membantu kedua Gadis itu untuk belajar.
Belajar bersama-sama untuk menghadapi ujian nasional yang sudah di depan mata.
Bahkan jadwal try out pun sudah mulai ditempel di dinding pengumuman.
Rencana acara perpisahan pun sudah mulai digadang-gadang oleh banyak orang. Bahwa untuk perpisahan kelas tiga kali ini semuanya akan terasa lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya.
"Jadi setelah lulus nanti, kamu dan Lily akan melanjutkan kemana?" tanya Anjas.
kini ke-6 sahabat ini sedang duduk bersimpuh di atas rerumputan hijau di taman belakang sekolah mereka.
"Universitas Indonesia, kalau masuk," jawab Lily, kemudian dia dan Giselle tergelak, sadar jika harapan keduanya terlalu besar untuk dicapai.
"Kalau kamu?" tanya Lili pula pada Anjas.
"Sama, aku juga maunya di UI."
Sampai akhirnya giliran Usman dan Robby yang mengatakan tentang rencana mereka, keduanya kompak menjawab akan memilih Universitas di luar kota. Tujuannya untuk memiliki pengalaman dan teman yang lebih luas lagi.
"Kalau Gala?" tanya Giselle.
Gala tidak langsung menjawab. Dia menatap secara bergantian semua wajah para sahabat, sampai akhirnya berhenti pada Giselle.
"Belum tau," jawab Gala dengan tersenyum ragu.
__ADS_1