
Happy reading
...💕...
Seketika Gala membeku ketika mendengar pertanyaan dari Giselle itu.
Jadi kamu akan melanjutkan kuliah di Harvard?
Semua orang menatap Gala, Anjas dan yang lainnya yang ikut mendengar pertanyaan Giselle pun langsung menatap ke arah Gala. Menatap dengan penuh tanda tanya dan menunggu jawaban.
Sebuah teka-teki yang selama ini memang bersarang di kepala mereka.
"Aku_"
"Jangan bicara di sini, ayo ke taman belakang!" potong Robby dengan suaranya yang mulai meninggi. Tidak mungkin Gisel bertanya seperti itu jika tidak ada penyebabnya. Pastilah tadi Giselle bertanya tentang Gala dan mendapatkan informasi tentang Universitas Harvard dari Bu Tuti.
Dugaanya beberapa hari lalu ternyata memang benar adanya dan hal itu membuat dada Robby bergemuruh, dia ingin segera mencerca Gala dengan banyak pertanyaan.
Bicara di sini hanya akan menjadi pusat perhatian semua orang, karena itulah dia menarik semua teman-temannya untuk ke taman belakang sekolah.
dan disinilah kini mereka semua berdiri, di bawah salah satu pohon rindang yang sesekali menjatuhkan daun kering nya.
"Jawab pertanyaan Giselle, apa kamu akan melanjutkan kuliah di Harvard?" Robby yang lebih dulu buka suara, rahangnya mulai mengeras dengan menatap gala dengan tatapan yang tak biasa.
Anjas dan Usman yang mulai menyadari jika suasana mulai tak kondusif pun coba untuk melerai keduanya. Usman berdiri disebelah Gala sedangkan Anjas berdiri disebelah Robby, memegang lengannya sejenak, meminta sang sahabat untuk tenang dulu dan memberikan kesempatan pada Gala untuk menjelaskan semuanya.
"Kemungkinan besar iya." Gala menjawab pertanyaan Robby tapi tatapannya terus bertatapan dengan kedua mata Gisel yang menatapnya lekat. Seolah dari tatapan itu keduanya saling mengirimkan perasaan yang tak tenang di hati.
Sesuatu yang terasa mengganjal dan sulit untuk dibuang.
"Jangan mungkin mungkin saja, tentukan pilihanmu! Jika benar kamu ingin melanjutkan kuliah di Harvard maka katakan!" balas Robby dengan suaranya yang makin meninggi.
"Robby! bukan seperti itu caranya bicara, gunakan akal sehatmu!" Anjas mulai merasa tak nyaman dengan sikap kasar Robby. Karena itulah dia terpaksa membentak sang sahabat.
"Sudah jangan ribut begini, aku jadi takut." Lili pun buka suara dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia tidak pernah melihat pertengkaran, dan saat ini ketika menyaksikannya langsung dia sungguh tak sanggup.
"Aku bukan mempermasalahkan Gala untuk kuliah di Harvard, yang aku permasalahkan adalah kenapa dia tidak memberitahu kita. Menggantung menggunakan alasan belum menemukan universitas yang tepat Lalu setelah itu dia pergi tanpa memberitahu kita semua!" bentak Robby lagi, bukan hanya Gala kini Anjas pun menjadi sasarannya.
__ADS_1
Sementara Gala masih terus menatap Giselle, ingin gadisnya tidak salah paham seperti Robby.
Dan setelah menderang bentakan Robby yang terakhir, Usman dan Anjas pun mulai membenarkan ucapan Robby itu.
Nanti Gala tiba-tiba pergi meninggalkan mereka semua.
"Kita bukan sahabat, bagi Gala mungkin kita semua hanya kenalannya," sindir Robby, Kini dia bahkan bicara tanpa menatap kearah Gala, lebih memilih untuk melihat kesembarang arah.
Namun ucapan Robby itu berhasil membuat hati Gala terasa teremat, sesak sekali.
"Cukup Rob, biarkan Gala menjawab dulu," ucap Arumi, yang merasa jika Gala tidak diberikan kesempatan untuk bicara, karena Robby terus mendesaknya dengan berbagai tuduhan.
Di saat semua temannya diam akhirnya Gala buka suara.
Sejak sang Ibu meninggal dunia Ayah gala mengajak Gala untuk pindah ke Amerika, karena di Amerika lah negara sang ayah. Pernikahan antara pria amerika dan wanita indonesia, hingga lahirlah Gala.
Sang ayah tidak ingin kembali lagi ke Indonesia karena di negara ini dia selalu teringat akan sang istri, namun Gala sejak lahir hingga berusia 12 tahun tinggal di Indonesia membuat ingin kembali lagi ke negara ini.
Awalnya sang ayah tidak menyetujui,namun akhirnya Gala memberikan sebuah kesepakatan. Jika dia berada di Indonesia hanya sampai masa sekolahnya habis, 3 tahun. Dari kelas 1 SMA hingga kelas 3 dan setelahnya Gala akan kembali lagi ke Amerika.
Hening, Anjas, Giselle dan semuanya mendadak gamang. Isi kepala mereka seolah mendadak kosong.
Apalagi Giselle, harapannya untuk bersama Gala yang sudah setinggi langit tiba-tiba hancur ke bumi hingga pecah berkeping.
"Jadi janji 25 hanyalah sebuah bualan? kenapa menjanjikan sesuatu jika akhirnya kamu akan pergi," tanya Giselle.
Teman-temannya yang lain tidam tahu apa yang dibicarakan Giselle, namun tetep terenyuh ketika mendengarnya.
"Saat ini kita masih remaja, orang tua masih mengira jika kita belum mampu. Berbeda saat kita di usia 25," terang Gala.
Semua teman-teman merasa jika diantara Giselle dan Gala ada perdebatan batin yang begitu luar biasa.
Mereka bahkan sampai tak berani untuk melerai, memutus tatapan keduanya yang begitu dalam.
"Jadi benar kamu akan pergi?"
Gala mengangguk lemah.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kepergianku jadi masalah untuk persahabatan kita, karena itulah aku diam, mengulur jawaban yang selalu kamu tunggu."
"Apa kamu sadar jika itu sangat egois? benar kata Robby, setelahnya kamu akan pergi diam-diam. Kamu pikir itu baik-baik saja, tapi itu akan sangat menyakitkan bagi kami."
"Maafkan aku."
Untuk pertama kalinya, Gala tak mampu menjawabi ucapan Giselle.
Sementara teman-teman yang lain makin takut. Giselle yang sedang marah ternyata lebih mengerikan daripada bu Tuti.
"Sell_"
"Apa!" potong Giselle cepat, ketika Lili memanggil namanya. Lili yang terkejut bahkan sampai berjangkit kaget dan memegangi dadanya.
Sebelum kembali buka suara, Lili lebih dulu menelan ludahnya dengan kasar.
"Aku tidak tahu apa yang kalian janjikan di usia 25. Tapi benar kata Gala, sekarang kita masih remaja, membuat keputusan penting pun masih akan dikira main-main, berbeda saat kita di usia 25 nanti. Mungkin, mungkin saat kita berusia 25, Gala bisa membujuk ayahnya," terang Lili panjang kali lebar, meski di ujung kalimatnya dia sedikit ragu.
Keraguan yang juga di yakini semua orang.
"Jangan terlalu banyak berharap, setelah Gala kembali ke Amerika dia tidak akan ingat pada kita semua." Robby masih setia pada ketus nya.
Dan Gala menghembuskan nafasnya berat, ternyata yang harus dia bujuk bukan hanya Giselle tapi juga Robby. Bahkan Robby sepertinya lebih parah.
"Kalau kamu mempercayai persahabatan kita, kamu tidak akan berkata seperti itu," balas Gala pada ucapan Robby.
Setelahnya Gala melirik Giselle, gadis yang masih saja menatapnya tajam.
"Kalau kamu percaya pada janji kita, harusnya kamu tidak perlu ragu."
"Kenapa menceramahiku! yang salah itu kamu!" ketus Giselle dan Gala kembali terdiam.
Dia lupa rumusnya, jika perempuan selalu benar.
...💕...
Jangan lupa like dan komen ya 💕
__ADS_1