Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 39 - Arti Teman


__ADS_3

Kini mobil Arumi sudah berhenti tepat dihadapan rumah Giselle. Tapi si pemilik rumah masih sibuk sendiri dengan pikirannya dan tidak langsung turun.


diam-diam Arumi tersenyum melihat Gisel yang mulai galau.


"Sel, kita sudah sampai," ucap Arumi, mencoba bicara biasa saja tanpa menunjukkan kebahagiaan yang sedang dirasa. Mencoba tidak terjadi apa-apa di antara mereka dan bahkan seolah barusan mereka tidak membicarakan tentang Gala.


Giselle tersadar, dia pun menoleh ke arah Arumi.


"Aku dan Gala bukan hanya teman, tapi kami teman yang sesungguhnya. Teman juga memiliki arti yang sangat penting, Andai kamu tulus dalam pertemanan itu," ucap Giselle hingga berhasil membuat Arumi tersentak.


jawaban Giselle itu seolah sedang menyindir, dan Arumi merasa sesak ketika mendengarnya. seolah hatinya ditusuk tepat di inti.


Arumi terdiam tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Terima kasih kamu sudah mengantarku," ucap Gisel dengan senyum tulusnya.


Dan Arumi bergeming, sementara Giselle sudah turun dari dalam mobilnya menggunakan payung dan segera berlari masuk ke dalam rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari-hari berlalu, bulan sibuk yang penuh dengan belajar akhirnya sudah terlewati.


Ujian Nasional pun sudah berada di depan mata.


Tepatnya tiga hari lagi Ujian Nasional itu akan dilaksanakan, dan selama tiga hari ini pula siswa kelas 3 diliburkan.


Memberikan kesempatan untuk semua murid agar beristirahat di rumah untuk menyambut hari yang sangat penting bagi mereka semasa SMA ini.


Giselle, Lili, Gala, Anjas, Usman dan Robby benar-benar memanfaatkan waktu 3 hari itu untuk merilekskan pikiran mereka. sesekali kembali mengulang semua pelajaran yang sudah mereka pelajari.


Bunda Sarah dan Ayah Bambang pun merasa bersyukur kini Giselle sudah bersungguh-sungguh dalam belajarnya.


Sementara itu di tempat lain, bukannya beristirahat dan memikirkan tentang ujian, Arumi malah sibuk sendiri dengan pikirannya.


pembicaraannya dengan Gisel tentang Gala dan teman saat itu masih terus terngiang di ingatannya. Ucapan Gisel itu sangat mengganggu, sehingga tidak bisa membuat dia berkonsentrasi dalam belajar.


bukannya sadar Dika pemikirannya selama ini salah Arumi Malah semakin membenci Giselle, benci yang lama-lama menguasai hatinya yang lembut.


"Dia berkata seperti itu hanya ingin menyindir ku saja, padahal dia juga ingin sekali berpacaran dengan Gala. Dasar munafik!"

__ADS_1


Arumi mencoret-coret buku yang ada di hadapannya, tanpa sadar jika buku itu berisi catatan-catatan penting yang selama ini sudah dia buat untuk ujian nasional.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Gala.


Agam yang merupakan paman Gala menghampiri sang keponakan yang sedang belajar di dalam kamar.


"Om, ada apa?" tanya Gala, dia memutar kursi belajarnya dan menghadap sang paman yang sudah duduk di tepi ranjang. Meja belajar milik Gala berada tak jauh dari tempat tidurnya itu.


Agam tersenyum dan menatap sang keponakan dengan sayang. 3 tahun Gala tinggal bersamanya dan Agam sudah menganggap Gala seperti anaknya sendiri.


"Seminggu lagi Ayahmu akan datang ke sini, untuk menjemputmu."


Mendengar itu senyum Gala perlahan memudar.


"Om sengaja mengatakannya sekarang, agar kamu bisa lebih semangat dalam menghadapi ujian nasional mu nanti. Tunjukkan pada ayahmu jika kamu pun bisa mendapatkan nilai yang sempurna."


Hening.

__ADS_1


Sampai akhirnya Gala menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.


__ADS_2