Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 59 - Aku Pulang


__ADS_3

"Aku pulang," ucap Gala lirih saat dia sudah berdiri persis di hadapan Giselle.


Tatapan mereka bertemu seperti garis lurus. Menyelami hati satu sama lain melalui tatapan itu, ada cinta yang begitu besar dan mereka sama-sama menyadarinya.


"Maaf, aku membuat mu menunggu lama," ucap Gala lagi.


tapi Giselle masih bergeming, dia menatap lekat wajah gala memindai satu-persatu pahatan indah itu. Kedua mata Gala, hidungnya, bibir dan rahang yang terlihat semakin tegas.


5 tahun tidak bertemu dan Gala jadi semakin tinggi. Benarkah ini Gala? lidah Giselle terasa kelu untuk berucap, untuk sekedar memastikan jika ini benar, untuk sekedar bertanya benarkah ini dia, tapi mulut Giselle mendadak bisu, dia masih yakin jika ini hanya mimpi.


Sampai akhirnya ada air mata yang mengalir di wajahnya sendiri, membuat Giselle sadar jika ini nyata.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak, seolah kini semua kerinduan, kemarahan, cinta dan semua rasa yang selama ini dia pendam berebut ingin keluar, lalu melampiaskan semuanya kepada Gala.


"Aku membenci mu," ucap Giselle lirih diantara air mata yang keluar dengan semena-mena.


Giselle menghapus air mata itu lalu kembali keluar, terus seperti itu sampai kedua tangannya tak bisa diam.


Gala terpaku, cukup tau betapa banyak dia menyiksa Giselle dengan rindu.


"Maafkan aku ..."


"Maafkan aku ..."

__ADS_1


"Maafkan aku ..."


Gala terus mengucapkan dua kata itu, lalu menarik tubuh Giselle untuk masuk ke dalam dekapannya. Gala memeluk erat, sangat erat hingga suara tangis Giselle tertahan di dadanya.


Sementara dua tangan Giselle terus memukul punggung Gala, pukulan yang lama-lama jadi belaian lembut dan memeluknya erat.


"Aku membencimu," ucap Giselle dan Gala hanya mengangguk.


"Aku sangat mencintaimu Sell, sangat."


"Aku membencimu! sangat-sangat membencimu!"


Cukup lama Giselle menangis dan selama itu pula Gala terus mendekapnya erat.


Dilihatnya wajah Giselle yang sembab, basah dengan air mata.


"Kamu siapa?" tanya Giselle, dengan sisa-sisa suara yang dia punya.


"Aku calon suamimu, ayo kita menikah," jawab Gala, satu tanganmya bergerak untuk menghapus air mata sang wanita dan Giselle tidak menolaknya.


"Apa ini mimpi?"


"Bukan, ini nyata, aku memang dihadapan mu, aku pulang dan tidak akan pergi-pergi lagi."

__ADS_1


"Bohong!"


"Janji."


"Kamu terlalu banyak janji."


"Tapi aku menepati semuanya."


Giselle terdiam, menyisahkan tatapan di antara mereka yang kembali bertemu dan terkunci.


"Ini bukan mimpi kan?" tanya Giselle sekali lagi, dengan suaranya yang terdengar lebih lirih daripada tadi. Sungguh Giselle tidak ingin kembali kecewa untuk kesekian kali, karena sudah berulang kali dia memimpikan Gala yang menemuinya seperti ini.


"Bukan sayang, ini bukan mimpi."


Gala mengambil tangan kanan Gisel dan membawanya untuk menyentuh wajahnya. Gala pun mengerakan wajahnya agar Giselle membelai wajah itu.


Seketika air mata Giselle kembali mengalir, ini semua terasa begitu nyata, membuatnya semakin takut untuk bangun.


"Kamu masih menganggap ini mimpi?" tanya Gala dan Giselle mengangguk kecil.


Kedua mata Giselle langsung membola saat melihat Gala yang mengikis jarak diantara mereka, Giselle ingin mundur namun Gala menahan tubuhnya, lalu menahan tengkuk dan menjatuhkan sebuah ciuman dalam di atas bibir ranum itu.


Mata Giselle masih mendelik, merasakan ciuman seperti yang dulu, ciuman pertamanya.

__ADS_1


Sampai akhirnya Giselle menutup mata, membalas ciuman Gala dan meremat kuat jas yang dikenakan pria ini.


__ADS_2