
Entah sudah berapa banyak mereka berciuman, entah sudah berapa lama mereka saling memeluk erat.
Namun kepergian Giselle masuk ke ruangan Direktur Utama itu mampu membuat Putri dan Arumi terusik. Putri merasa cemas, takut di dalam sana Giselle mendapat masalah, sementara Arumi mulai menuduh yang bukan-bukan, pasti Giselle sedang menggoda pimpinan mereka.
Bukan rahasia lagi jika pimpinan di perusahaan ini masih muda, single dan tampan. Itulah beberapa desas desus yang Arumi dengar.
Tapi seolah dunia ini milik mereka berdua, Giselle dan Gala tidak ada yang memperdulikan waktu dan tempat.
Bahkan hingga kini mereka masih saling mendekap erat, puas-puas menatap wajah satu sama lain. Giselle berulang kali membelai wajah Gala seolah sedang melukis, begitu pun Gala, berulang kali dia menangkup wajah kekasihnya, melihat secara langsung Giselle yang semakin cantik dan menawan, bukan lagi menatap foto-foto yang selama ini Sean kirim.
"Aku mencintaimu," ucap Gala, Giselle tersenyum dan membalas kata cinta itu.
"Aku mencintaimu."
Mereka sama-sama tersenyum, rasanya masih belum puas memandang satu sama lain.
"Jadi ini perusahaan mu?"
Gala mengangguk.
"Aku diterima jadi sekretaris pribadi gara-gara kamu?"
Gala menggeleng, "Tidak," jawabnya pasti.
"Jangan bohong."
__ADS_1
"Tidak Sayang, aku hanya tau saat kamu masuk ke perusahaan ini, aku lihat saat kamu di interview, juga saat tes."
Giselle mencebik.
"Lagipula kamu akan jadi istriku, untuk apa kamu ku jadikan sekretaris pribadi. Tapi aku tidak ingin egois, kamu juga pasti ingin merasakan bekerja kan, memberi uang ayah dan bunda dari hasil kerja keras mu sendiri. Karena itulah aku tidak ikut campur dengan keputusan HRD." Jelas Gala panjang lebar.
Dan bibir Giselle yang mencebik akhirnya berubah jadi senyum.
"Ayo kita temui bunda, ayah dan abang Gilang, aku tidak sabar membawa mu menemui mereka," ajak Giselle.
"Ayo, tapi sebelumnya aku ingin bertemu dengan anjas, Lili, Usman dan Robby dulu."
Giselle mengangguk.
"Tapi apa?"
"Kita keluarnya sendiri-sendiri ya, ketemu di bawah."
"Kenapa begitu?"
"Nggak enak sama yang lain, aku udah banyak kenal sama karyawan disini, apa kata mereka kalo kita jalan sama-sama," terang Giselle dengan sedikit menundukkan pandangannya, antara malu-malu dan bingung.
Dan Gala mengulum senyum.
"Biarkan saja mereka lihat, jangan lupa, selain calon istriku sekarang kamu juga sekretaris pribadi ku, jadi bukan hal aneh kalau kita jalan sama-sama."
__ADS_1
Dan Giselle ber Oh ria di dalam hatinya.
"Tapi ..." ucap Gala, kini dia yang jadi ragu-ragu.
"Tapi apa?"
"Cium dulu."
Giselle memukul dadanya, namun kemudian sedikit berjinjit dan menjangkau bibir sang kekasih. Gala memeluk pinggangnya dan Giselle langsung menggantungkan kedua tangan di leher sang kekasih.
Ciuman dalam dan menuntut, namun mereka sama-sama sadar untuk segera mengakhirinya.
Mereka terkekeh setelah ciuman itu terlepas, sama-sama tahu jika mereka harus segera menikah.
"Ayo pergi." ajak Gala dan Giselle mengangguk.
Dilangkah mereka yang keluar, Gala menghubungi Sean, meminta asisten pribadinya itu untuk menyiapkan mobil di pintu depan. Dia akan menyetir sendiri mobilnya.
Saat pintu ruangan Direktur utama terbuka, Putri dan Arumi pun sontak melihatnya.
Bahkan kini mereka bisa melihat dengan jelas wajah sang dirut, mereka sama-sama terpana, sampai akhirnya Arumi menyadari satu hal.
Dia mengenal siapa pria itu.
Gala.
__ADS_1