
Hari ini adalah pelaksanaan try out pertama untuk kelas 3 SMAN 1, untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Gala dan semua teman-temannya pun merasa gugup. Seolah ini adalah Ujian Nasional sungguhan.
Datang lebih pagi, kini Gala dan Giselle sudah berada di parkiran sekolah.
Gala pun melepaskan helm Giselle dengan penuh perhatian dan Giselle langsing merapikan rambut sepunggungnya yang sedikit berantakan.
Saat Giselle mengikat rambutnya tinggi Gala bisa melihat kalung pemberiannya yang dipakai oleh Giselle, membuat Gala langsung tersenyum lebar.
Merasa dihargai dan kembali mengingat janji-janji mereka.
"Ingat ya, jangan sepelekan TO, anggap ini adalah Ujian Nasional sungguhan," ucap Gala. Dia membuka jok motornya dan menggantungkan kedua helm mereka di pengait kecil di ujung jok.
"Bila perlu kamu ingat-ingat soalnya, yang kira-kira kamu sulit mengerti nanti kita bahas lagi bersama," ucap Gala lagi, lalu menutup jok dan menguncinya.
"Iya Gal, iyaa," jawab Giselle sedikit menggerutu.
Semakin lama Gala semakin mirip dengan ibunya, yang suka mengatur dia ini dan itu. Padahal Giselle sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
"Di rumah tadi, Bunda sudah ingetin kamu ya?"
"Hooh!" balas Giselle kesal.
Sementara Gala tergelak, lalu mulai memimpin jalan untuk menuju kelas. Gala terlebih dulu mengantar Giselle lalu dia menuju kelasnya sendiri.
Duduk di kelas, menunggu dengan gugup guru yang akan datang dengan soal ujian.
"Sell, serius amat sih, sampe nggak inget aku disini," ucap Lili yang duduk di meja samping kanan Giselle.
"Berisik ah, lagi baca doa," ketus Giselle.
Bukan hanya Lili, temannya lain yang ikut mendengar itu pun langsung tergelak.
Dan tawa semua murid reda saat pak guru mulai masuk ke kelas mereka.
Semua tas diletakkan di bawah meja, laci harus kosong dan meja steril dari catatan contekan.
Di rasa aman, TO di mulai.
Lama berguru dengan Gala dan Anjas, kini Giselle dan Lili dapat lebih mudah mengerjakan soal-soal itu. Bahkan sekali baca mereka bisa langsung memahaminya.
Sesekali bahkan Giselle dan Lili tersenyum saat membaca satu soal yang sama persis seperti yang pernah mereka bahas bersama Gala dan Anjas.
__ADS_1
90 menit waktu mengerjakan soal itu namun tidak terasa lama, tiba-tiba waktu sudah habis saja.
Untunglah Giselle, Lili dan semua teman-temen sudah selesai mengerjakan soal itu. Dengan perasaan campur aduk, antara lega, takut dan gugup mereka semua mengumpulkan lembar jawaban ke depan secara bergantian dari sisi kanan.
"Huh! kira-kira gimana Sell? aman nggak?" tanya Lili setelah guru keluar meninggalkan kelas mereka.
Semua murid kembali duduk di kursi masing-masing, saling berbagi cerita tentang pengalamannya mengerjakan soal tadi. Juga buru-buru membuka buku, memeriksa apakah jawaban tadi benar atau salah.
"Aman lah, keluarlah di luar kok!"
"Anjim!"
Plak! Bahu Giselle langsung di pukul oleh salah satu teman laki-lakinya yang ikut mendengar pembicaraan kedua gadis itu.
Jawaban ambigu Giselle yang membuat mereka semua geleng-geleng kepala.
Sementara Giselle hanya terkekeh, dia pun sedang mencoba menghilangkan kegugupannya dari mengerjakan soal tadi.
"Untung aku nggak kebalik tentang sinonim dan antonim nya," gumam Lili setelah dia membuka buku catatannya, Giselle pun melakukan hal yang sama. Namun masih merasa ada beberapa soal yang dia salah menjawabnya.
Fokus kedua gadis ini buyar saat di ambang pintu sana, beberapa orang memanggil nama mereka berdua.
"Giselle, Lili."
"Giselle, Lili."
"Giselle, Lili."
Panggil Gala, Anjas, Usman dan Robby secara bergantian. Seperti sebuah nada yang diakhiri dengan nada tinggi.
Membuat kedua gadis itu mendengus kesal, karena merasa nama mereka dipermainkan.
"Ayo ke kantin!" teriak Robby.
Giselle dan Lili langsung membenahi bukunya, juga langsung membawa tas mereka sekaligus.
Sehabis dari kantin mereka akan langsung pulang. Setiap hari selama TO mereka memang hanya akan mengerjakan 1 mata pelajaran untuk 1 hari, sama seperti saat UN nanti.
Berjalan beriringan menuju kantin, tiba-tiba Arumi menghampiri. Membuat langkah mereka semua terhenti dan menatap ke arah gadis ini. Hanya Gala yang memilih untuk menatap ke arah lain.
"Bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya Arumi, dengan jantungnya yang berdegub. Dia malu namun harus memulai semuanya lebih dulu untuk bisa kembali berteman dengan mereka.
"Bolehlah, ayok!" ajak Usman, dia yakin temannya yang lain pun akan mengizinkan.
__ADS_1
Lagipula mereka tidak ingin menghabiskan sisa-sisa masa SMA nya dengan musuh-musuhan. Karena damai itu lebih indah.
Awalnya memang canggung, karena biasanya tidak ada Arumi diantara mereka. Namun lambat laun kecanggungan itu pun menghilang. Bahkan Arumi mulai bisa tersenyum dan tertawa diantara mereka.
Setelah makan dan puas membahas masalah ujian tadi, merek semua memutuskan untuk pulang. Kali ini Usman dan Robby membawa motor masing-masing, jadi Robby bisa mengajak Arumi untuk pulang bersamanya. Karena meski rumah mereka tidak searah, namun persimpangan mereka tidak terlalu jauh.
"Rob, habis lulus nanti kamu lanjut kuliah dimana?" tanya Arumi, memulai obrolan di antara mereka.
"Belum tau, tapi sepertinya bukan di Jakarta, aku dan Usman berencana kuliah di luar kota," jawab Roby apa adanya.
Dan Arumi pun mengangguk, seolah Robby bisa melihat pergerakan kepalanya. Padahal Robby tidak melihat itu, dia fokus mengemudi dan menatap jalanan yang sedikit lenggang.
"Kalau Gala pasti ke luar negeri ya?" tanya Arumi lagi, membuat kedua netra Robby langsung membola.
Dia bahkan langsung menghentikan motornya di pinggir jalan.
"Apa? Gala keluar negeri? kamu tahu darimana?" tanya Robby, dia menoleh kebelakang dan melihat Arumi.
Sedangkan Arumi langsung menelan ludahnya dengan kasar.
"A-aku tidak tahu pastinya, aku hanya menebak," jawab Arumi gugup.
Sebagai tetangga Gala, Arumi sering mendengar simpang siur jika Gala akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Gala bukanlah anak kandung pak Agam yang kini menjadi tempat tinggal Gala.
Desas desus mengatakan juga orang tua kandung Gala tinggal di Amerika.
Tapi entahlah, Arumi pun tidak bisa memastikannya.
Pun Robby yang sangat terkejut mendengar duga-duga Arumi itu.
Meskipun dia dan Usman berencana kuliah di luar kota, namun mereka sudah berjanji untuk saling bertemu jika akhir pakan tiba. Ingin persahabatan ini tetap terjalin meski sudah di jalan yang berbeda.
Tapi luar negeri?
Itu bukanlah perkara mudah.
Mungkin mereka tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dan parahnya, Gala tidak pernah menyampaikan itu kepada mereka.
"Aku hanya menebak saja Bi, jangan diambil hati, mungkin dia Gala akan kuliah disini kok. Jangan beritahu Gala ya tentang ucapanku tadi," pinta Arumi, dia bahkan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Dia tidak ingin pertemanan yang kembali terjalin kembali rusak.
__ADS_1
Dan Robby tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil dan mulai kembali melajukan motornya.
Pulang.