
Setelah puas menangis bersama-sama di taman belakang sekolah, kini mereka semua sudah kembali tenang.
Hanya Giselle yang suaranya masih terdengar sesenggukan.
"Tidak apa-apa, ini memang perpisahan tapi bukan berarti akhir dari persahabatan kita," ucap Anjas mencoba tegar. sebelum bertemu dengan Usman dan Robby, Anjas lah teman pertama Gala. Mereka sudah seperti saudara meski tidak sedarah.
"Benar, lagipula nanti kan aku dan Usman juga akan kuliah di luar kota, tapi bukan berarti persahabatan kita ini berakhir." Robby pun buka suara.
"Kira-kira kamu bisa kembali lagi ke sini atau tidak selama masa kuliah?" tanya Lili pada Gala, Giselle pun menatap kearah gala ingin mendengar jawabannya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa."
"Bagaimana janji 25 kita?" tanya Giselle lirih, nyaris menangis lagi. Dan Gala langsung merangkul pundak gadisnya itu dan kembali memeluk Giselle erat.
"Percayalah padaku, janji itu pasti akan aku tepati."
"Jangan menjanjikan sesuatu yang terasa sulit, serahkan saja semuanya kepada Allah," ucap Robby, meski tidak tahu janji apa yang dibicarakan oleh Gala dan Giselle namun dia tetap dingin menengahi keduanya.
Agar selama menunggu antara Giselle dan Gala tidak ada yang terluka.
"Tidak! aku akan tetap menjanjikan itu padamu!" ucap Gala mantap, dan Giselle menganggukkan kepalanya di dalam dekapan Gala.
Menit sudah berubah jam, tak sadar jika waktu sudah semakin sore.
__ADS_1
Mereka semua memutuskan pulang sebelum hujan turun.
"Nanti kalay hujan turun kita masih di jalan tidak usah berhenti, biar kita hujan-hujanan," ucap Giselle saat Gala memasangkan helm di kepalanya.
"Ucapan adalah doa, harusnya mengatakan jangan turun hujan sebelum kita semua sampai di rumah."
Giselle mencebik, sudah sedih masih saja salah.
Mereka semua akhirnya pulang, Di tengah perjalanan langit menjadi semakin mendung. angin bahkan semakin semilir terasa dingin. dan Gala menarik tangan Giselle yang melingkar di pinggangnya agar semakin memeluknya erat.
"Tuh kan hujan, ini semua gara-gara doa mu," ucap Gala saat hujan mulai turun dari atas langit.
Giselle tersenyum. dia dengan tegas melarang galak untuk berteduh apalagi memakai mantel. Gisel ingin tetap seperti ini menikmati hujan bersama orang yang begitu dia cintai.
Tanpa diminta pun, tidak peduli hujan ataupun panas Gala pasti akan selalu teringat akan Giselle, Cinta Pertamanya yang akan dia kejar hingga nanti.
Tubuh mereka sudah basah kuyup namun masih terus melaju membelah hujan sore itu.
Bahkan saat sampai di depan gerbang rumah Gisel pun hujan masih juga belum reda bahkan jatuh semakin deras.
Giselle turun, namun dia tidak langsung berlari masuk, malah melepas helm dan berdiri di samping Gala dengan air mata yang mengalir, namun coba dia sembunyikan dengan air hujan ini,
Tapi Gala tidak bodoh, dia tahu Giselle menangis. Gala pun turun, melepas helm nya dan memeluk Giselle erat.
__ADS_1
"Ini bukan perpisahan Sel, kita hanya tidak bertemu untuk beberapa waktu," terang Gala.
Giselle membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Tapi lama sekali, hanya membayangkannya saja aku sudah sesak menahan rindu."
Gala melerai pelukan mereka, menatap wajah Giselle yang penuh dengan air hujan dan air mata.
"Sel, ini bukan omong kosong, aku mencintaimu, sangat," ucap Gala sungguh-sungguh.
Hati Giselle berdebar, dia sungguh tak menyangka Gala akan mengucapkan kata-kata indah itu.
"Aku mencintai mu!" ulang Gala lagi, takut Giselle tak mendengar karena kalah dengan suara deras hujan.
Dan saat Gala melihat Giselle tersenyum, dia baru yakin jika pernyataan cintanya didengar.
"Aku juga mencintaimu Gal, ini bukan omong kosong."
Mereka sama-sama tersenyum dibawah guyuran air hujan itu. Hingga akhirnya Gala memberanikan diri untuk mengikis jarak dan menjangkau bibir sang gadis.
Giselle terkejut bukan main, namun yang bisa dia lakukan hanyalah mengepalkan tangannya kuat dan menutup mata. Lalu dengan kaku membalas ciuman itu.
Ciuman pertama mereka.
__ADS_1