Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 33 - Teman Bermuka Dua


__ADS_3

Happy reading


...💕...


Giselle hanya diam memperhatikan kepergian Gala, dia menatap nanar pada punggung yang semakin menjauh itu.


Sesak di dada makin terasa, namun ego masih menguasai diri. Menahan tubuhnya agar tak berlari dan menyusul Gala.


Sampai akhirnya tubuh Gala benar-benar menghilang dari pandangannya. Giselle goyah, dia sampai bersandar di dinding agar tak jatuh.


"Harusnya kan yang marah aku, kenapa jadi Gala?" gumam Giselle, masih mencari pembenaran untuk semua sikap yang dia ambil.


Cukup lama berdiri disana dan akhirnya Giselle pun memutuskan keluar. Dia ingin acuh pada pria yang baru saja meninggalkannya, namun ternyata tak bisa. Giselle mengedarkan pandangan, berjalan menuju kelas dengan mata yang mengamati sekitar, mencari kemana perginya Gala setelah dari perpustakaan tadi.


Tapi dimana-mana Giselle tidak menemukan Gala, dia malah melihat Lili dan semua temannya yang baru keluar dari kantin.


Giselle memutuskan untuk menghentikan langkah dan menunggu Lili sampai disini.


"Dimana Gala? kenapa sendirian?" tanya Lili, sebuah pertanyaaan yang juga ada di benak semua teman-temannya, termasuk Arumi. Namun bukannya menunggu Giselle menjawab, Arumi memilih untuk mundur perlahan.


Memutuskan untuk mencari Gala sendiri. Dalam keadaan seperti ini Arumi tahu jika Gala membutuhkan teman.


Apalagi Anjas, Usman dan Robby pun nampaknya sudah tak peduli pada Gala. Ketiga laki-laki itu sibuk sendiri dengan Giselle dan Lili.


"Aku tidak tahu, dia yang meninggalkan aku," balas Giselle apa adanya. Menjawab dengan raut wajahnya yang nampak kesal.


Anjas yang melihat itu pun tahu jika diantara Gala dan Giselle belum menemukan titik terang.


"Sini, duduk dulu," pinta Anjas. Mereka berlima duduk di pinggiran koridor ruang kesenian. Beralaskan lantai dan duduk memanjang. Menghadap ke arah lapangan bola basket yang ada di tengah-tengah sekolah.


Mereka tak menyadari jika Arumi sudah tidak ada disana, lebih tepatnya mereka memang terbiasa tanpa ada Arumi bersama mereka.


"Robby, Giselle, jangan terlalu lama menyalahkan Gala. Dia juga ada di kondisi yang sulit. Disatu sisi dia ingin tetap bersama kita, tapi disisi lain dia juga harus jadi anak yang baik untuk ayahnya. Seperti kita yang mencoba berbakti pada kedua orang tua," jelas Anjas, ingin Giselle dan Robby mengerti bahwa mereka tidak bisa mengendalikan keadaan, seperti yang mereka mau, seperti yang mereka rencanakan selama ini.


Giselle dan Robby terdiam, menarik dan membuang nafasnya pelan.

__ADS_1


"Daripada marah-marahan begini, lebih baik kita memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Selama Gala masih di Indonesia, kita ciptakan kenangan yang indah," timpal Anjas lagi.


Lili dan Usman tersenyum, setuju dengan ide itu. Namun Giselle dan Robby masih nampak berpikir.


"Jangan sampai kita kehilangan waktu untuk bersama dan nanti akan menyesal," putus Anjas untuk yang terakhir.


Tak lama setelah Anjas mengatakan itu, bell masuk berbunyi. Mereka semua lantas bangkit dan menuju ke kelas. Baik Giselle ataupun Robby terus terngiang ucapan Anjas itu.


Hingga lambat laun hati keduanya pun membenarnkan.


Giselle pun sungguh tak nyaman jika dia dan Gala jadi marahan seperti ini. Dia ingin seperti kemarin, seperti tadi pagi saat mereka saling bertukar canda dan tawa diatas motor.


Dulu, Giselle tidak pernah menyangka jika hubungannya dengan Gala akan sedekat ini. Jadi siapa yang bisa menerka masa depan? tidak ada! Giselle pun tidak tahu apa yang akan terjadi di usianya yang ke 25 nanti.


Benarkah Gala jodohnya atau bukan.


Tapi yang harus Giselle lalukan hanya dua, satu terus meyakini janji mereka dan yang kedua memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bersama saat Gala masih di Indonesia.


Giselle tak ingin ada penyesalan, andaikan nanti di usia ke 25 mereka tidak berjodoh, setidaknya semasa SMA kenangan mereka akan tetap indah.


Sampai di kelas, akhirnya Giselle bisa tersenyum kecil. Nanti saat istirahat kedua Giselle akan kembali menemui Gala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa menit sebelumnya.


Arumi mempercepat langkah untuk mencari Gala. Kepalanya pun menoleh ke kiri dan ke kanan menelisik tiap sudut sekolah.


Tapi Gala tidak ada.


"Mungkin dia kembali ke kelas," gumam Arumi, lalu secepat yang dia bisa dia segera menuju kelas mereka.


Arumi yakin disaat seperti ini Gala akan membutuhkan teman bicara dan dia akan selalu ada.


Dengan nafasnya yang memburu akhirnya Arumi sampai di kelas 3A, dan ternyata benar dilihatnya Gala yang sudah duduk di kursinya sendiri.

__ADS_1


Arumi sungguh bahagia, karena akhirnya Gala menjauh dari Giselle. Dengan bibirnya yang tersenyum, Arumi pun menghampiri.


"Gal," panggil Arumi, dia duduk di salah satu kursi kosong dan menghadap ke arah Gala.


Tapi Gala yang sedang dalam keadaan tak baik pun hanya acuh.


"Gal, aku mengerti posisimu, jika aku jadi kamu pun aku pasti akan diam. Karena mengatakan yang sebenarnya pun mereka tidak akan bisa mengerti," ucap Arumi, sudah payah dia menetralkan suaranya agar tak terengah.


Namun mendengar itu Gala sungguh jengah.


"Aku juga berencana kuliah di Harvard, disana kita bisa berdua, kamu tidak perlu merasa sendirian," jelas Arumi pula dengan senyum di bibirnya yang semakin mengembang sempurna.


Tapi Gala semakin kesal mendengarnya. Untuk terlihat baik di matanya, Arumi sampai harus menjelek-jelekan temannya yang lain.


"Arumi, berapa kali aku harus bilang. Berhenti mendekatiku, bukannya senang, aku malah muak. Andai Giselle, Lili, Anjas, Usman dan Robby tau sifatmu yang sesungguhnya, aku yakin mereka tidak akan mau berteman denganmu lagi. Kamu seperti teman yang bermuka dua," balas Gala akhirnya, dia bicara pelan namun begitu menusuk di hati Arumi.


Membuatnya merasa sesak dan mendadak kehabisan kata-kata. Senyum di bibirnya pun hilang seketika.


Sampai akhirnya Bell masuk berbunyi dan mau tak mau Arumi beranjak dari sana dan menuju kursinya sendiri.


Kamu jahat Gal, kamu selalu bersikap kasar padaku. Batin Arumi.


Dia sungguh merasa tidak adil, bersama Giselle dan Lili, Gala selalu bersikap manis, namun dengan dirinya? kini malah seolah jijik.


Rasanya jika seperti ini, dia pun jadi membenci Gala. Rasanya tak ingin jika Gala bisa bahagia setelahnya menyakitinya.


Sebaiknya kamu memang pergi, agar aku ataupun Giselle tidak ada yang bisa memiliki kamu. Batin Arumi lagi.


Tatapannya pada punggung Gala putus saat dia melihat Anjas, Usman dan Robby mulai masuk ke dalam kelas.


Arumi mengeryit, saat melihat Robby yang tiba-tiba memeluk Gala.


Apa Robby sudah memaafkan Gala, lalu bagaimana dengan Giselle?


Arumi menggengam erat tangannya diatas meja, tau begini dia tadi tidak akan pergi, tau begini dia akan tetap tinggal. Agar tetap bisa memastikan Robby dan Giselle tetap marah pada Gala.

__ADS_1


...💕...


Jangan lupa like dan komen ya💕


__ADS_2