
Beberapa hari ini Gala, Anjas, Usman dan Robby sibuk mengerjakan tugas mereka sebagai OSIS. Ini adalah tugas terakhir mereka sebelum akhirnya nanti diganti oleh kepengurusan OSIS yang baru.
Gala dan Giselle jarang menghabiskan waktu bersama saat di sekolah, mereka hanya sesekali bertemu, saling mengedipkan mata genit, kemudian tertawa dan berlalu.
Kebersamaan mereka hanya saat berangkat dan pulang sekolah di atas motor. Tapi seperti itu berhasil membuat keduanya semakin dekat.
Setelah kesibukan Gala dan yang lainnya di OSIS selesai, kini mereka semua mulai Les untuk menyambut ujian nasional.
Sebulan ini kegiatan Les akan dilaksanakan. Mereka pulang sekolah jam 1 siang, lalu setelahnya jam 2 mulai les dan selesai jam 4.
Pulang sekolah kali ini Gala, Giselle, Lili, Anjas, Usman dan Robby tidak pulang ke rumah. Mereka akan langsung mengikuti Les menggunakan seragam sekolah. Arumi dan beberapa murid yang lain ada pula yang memutuskan untuk pulang.
Nanti murid yang pulang-pulang itu diizinkan untuk menggunakan baju bebas asal sopan.
Kini Giselle dengan yang lainnya duduk di kantin, Usman bahkan memutuskan untuk tidur siang di sana dengan menggabungkan beberapa kursi.
Gala, Anjas, Usman dan Robby tadi shalat dzuhur lebih dulu. Sementara Giselle dan Lili menyusul. Jadi saat Gala dan yang lainnya sudah selesai makan siang, kini Giselle dan Lili belum menyelesaikan makan siangnya.
Gala terus memperhatikan Giselle, gadis cantik ini makan dengan lahap makanan favoritnya mie ayam bakso.
Tapi ada yang membuatnya tak nyaman, rambut panjang Giselle yang sesekali turun mengenai wajahnya yang sedikit menunduk.
"Biar ku ikat rambut mu," ucap Gala, dia bangkit dari duduknya dan mengambil ikat rambut yang biasa Giselle simpan di saku tas. Lalu tampa segan Gala langsung berdiri dibelakang Giselle dan menyentuh rambutnya.
"Yang rapi, jangan ada yang jatuh-jatuh nanti malah geli," pinta Giselle pula, tapi meski begitu kepalanya tak bisa tinggal diam, sibuk naik turun makan mie ayam bakso itu.
Robby yang melihat Gala kesusahan pun langsung menahan Giselle agar diam.
"Diam dulu! Gala jadi sulit mengikat rambutmu!" kesal Robby.
Lili dan Anjas lalu terkekeh, Anjas pun menyerahkan tissue pada gadisnya karena ada saos yang menempel di sudut bibir Lili.
Giselle mendengus kesal pada Robby, akhirnya pasrah kepalanya diam dulu, terus mengunyah hingga mulutnya kosong.
"Selesai," ucap Gala dengan bangga, meski miring tapi ikatan rambutnya cukup rapi.
__ADS_1
Dan Giselle terlihat semakin cantik saat rambutnya diikat tinggi seperti ekor kuda seperti itu. Leher jenjengnya pun nampak jelas, juga kalung pemberian Gala yang semakin terlihat, menyempurnakan penampilannya.
"Widih, kalo gini keliatan agak cantik Sel," seloroh Robby dan berhasil membuat Giselle semakin mendengus kesal padanya.
"Emang udah cantik dari lama kan Gal, iya kan?" tanya Giselle pada Gala mencari dukungan.
Dan Gala menganggukkan kepalanya seraya menarik hidung Giselle gemas, lalu kembali duduk di hadapan gadis ini. Dan Giselle pun menjulurkan lidahnya pada Robby.
Belum sempat Robby kembali berucap untuk meledek Giselle tiba-tiba Arumi datang menghampiri mereka semua.
Dia terlihat sangat cantik, bahkan wajahnya lebih segar dengan riasan tipis. Rambutnya pun diikat tinggi seperti Giselle.
Dan melihat ikat rambut Giselle itu cukup membuat Arumi tak suka, berpikir jika Giselle mengikuti gayanya.
"Masya Allah cantiknya, duduk Rumi," ucap Robby lalu menjulurkan lidah pada Giselle.
Dengan senyumnya yang manis Arumi duduk di salah satu kursi, berulang kali melirik ke arah Gala, berharao laki-laki itu melihat kecantikannya lalu terpesona, apalagi kini Arumi menggunakan gaun dengan motif bunga-bunga kecil yang makin membuatnya terlihat manis.
Tapi Gala tak sedikitpun melihat ke arahnya, terus memperhatikan Giselle yang asik makan.
"Kalian tidak makan?" tanya Arumi, melihat ke arah Gala, Robby dan Anjas secara bergantian. Juga melirik Usman yang sedang tertidur.
Tapi Gala, lagi-lagi hanya diam tidak memberikan respon apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 4 sore, mereka semua pulang.
Sore itu langit nampak mendung, isyarat jika hujan akan segera turun.
"Lebih baik kamu minta ayah untuk menjemput, aku takut nanti kita malah kehujanan," ucap Gala, kini dia, Giselle dan yang lainnya sedang berjalan menuju parkiran.
"Iya, lebih baik begitu, aku dan Gala akan menemani sampai kalian di jemput." Anjas pun buka suara. Ingin Lili dan Giselle pulang bersama dengan ayah Bambang.
"Tapi jam segini ayah belum pulang, dia pulangnya jam 5. Anter aja sih, nggak papa ujan-ujanan biar romantis," sahut Giselle dan disetujui pula oleh Lili.
__ADS_1
Lain hal nya dengan Usman yang langsung menjitak kepala Giselle dan Lili.
"Bukan romantis namanya, tapi pinter, ada pilihan biar nggak kehujanan malah milih kehujanan," balas Usman, penuh dengan sindiran.
"Yaudah kalo nggak mau anter, aku sama Giselle naik Bus sana."
Gala dan Anjas saling pandang, mereka sama-sama tidak membawa mantel.
"Ya udah ayok ku anter, nanti di depan kita beli mantel," ucap Gala.
"Oke!" sahut Giselle dan Lili.
Anjas pun menganggukkan kepalanya, setuju.
Arumi yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepalanya kecil.
Sebenarnya apa istiewanya Giselle dan Lili, sampai mereka semua begitu menyayangi 2 gadis itu?
Tidak ada yang bertanya tentang aku?
Bahkan tidak ada pula yang peduli dengan tampilan ku yang sudah cantik seperti ini.
Mereka semua pulang, Gala dan Anjas pun membelikan mantel untuk gadis-gadis mereka.
Dan benar saja, ditengah jalan hujan mulai turun. Iring-iringan motor Gala dan Anjas pun menepi di salah satu toko di pinggir jalan.
Giselle dan Lili buru-buru turun, membersihkan air yang menempel di baju mereka.
"Tuh kan hujan," ucap Gala.
"Kan kita udah beli mantel." Giselle yang tak ingin Gala merasa bersalah.
"Lagi pula hujan bukan masalah, asalkan aku sama kamu," timpal Giselle lagi hingga membuat Lili muntah.
Huwek!
__ADS_1
Gala tersenyum dan Anjas geleng-geleng kapala.
Mereka semua segera memakai mantel dan melanjutkan perjalanan.