Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 24 - Kalung dan Janji


__ADS_3

Satu minggu sebelum try out.


Minggu kali ini Gala mengajak Giselle untuk mengunjungi fun fair di tengah kota.


Rencananya mereka akan pergi ke sana bersama dengan teman-temannya yang lain, tapi ternyata mereka semua sudah memiliki rencananya sendiri.


Anjas mengajak Lili untuk menonton film favorit mereka yang baru tayang di bioskop.


Anjas dan Usman ada pertandingan bola basket yang harus mereka ikuti.


Jadilah hari ini Gala dan Giselle hanya pergi berdua ke fun fair. Memilih waktu sore hari agar tidak terlalu panas dan bisa menyaksikan indahnya senja di Kota Jakarta dan berganti malam.



Setelah melaksanakan salat magrib di tempat ibadah yang tersedia di sana, Gala dan Gisel mencari tempat makan.


Sedari tadi mereka sudah berkeliling dan sekarang cukup merasa lelah.


Kedai mie ayam adalah pilihan mereka.


"Pak, mie ayamnya 2," ucap Galang mulai memesan kepada sang penjual.


"Gala, aku mie ayam bakso."


Gala mengangguk.


"Pak, mie ayam biasa 1, mie ayam baksonya 1."


"Minumnya?" tawar bapak itu.


Gala dan Giselle langsung menjawab dengan kompak, "Teh hangat."


Membuat keduanya terkekeh dan bapak-bapak si penjual mie ayam pun ikut tersenyum pula.


5 menit menunggu dan pesanan mereka sudah sampai ke meja. Mereka memakannya dengan lahap, bahkan Gisel tak segan saat porsi makannya lebih banyak daripada Gala.


"Aku tidak suka bakso," ucap Gala saat Giselle hendak memberinya 1.


"Aku suka nya kamu," timpal Gala lagi, membuat Giselle langsung mendengus.


"Aku sukanya mie ayam bakso," jawab Giselle lalu menjulurkan lidahnya, meledek.


Selesai makan mereka memutuskan untuk pulang. Sebelumnya Gala sudah berjanji pada kedua orang tua Giselle akan mengantar Giselle pulang jam 8 malam.


Dan Gala berusaha menepati itu.


Mereka berjalam beriringan dengan tangan saling bergandengan. Menuju tempat parkir hingga sampai di motor Gala.


Sebelum memakaikan helm pada sang gadis, Gala merogoh sesuatu di saku jaket yang ia kenakan. Lalu memberikan benda kecil dalam genggamannya kepada Giselle.


"Apa ini?"


"Buka lah."

__ADS_1


Giselle membuka genggaman tangan Gala itu dan melihat sebuah kalung cantik disana, dengan bandul sebuah kristal yang begitu indah.



"Untukmu," ucap Gala.


Sedengkan Giselle hanya diam, dia masih terpana dengan keindahan kalung itu. Kalung yang Giselle yakin bukan Gala beli di dalam tadi. Karena mereka tidak pernah berpisah dan tidak sekalipun menuju pernak pernik seperti itu.


"Kristal itu adalah harapan kita, sedangkan 2 cincin ini adalah janji kita."


"Janji?" tanya Giselle.


"Iya, setelah harapan kita terpenuhi, kita akan menikah," jelas Gala.


Membuat Giselle sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya mampu menatap Gala hingga tatapan mereka bertemu dan terasa begitu dalam.


Giselle selalu mengutarakan harapannya tentang masa depan, tentang ingin menjadi seorang PNS, yang hidupnya akan di jamin oleh negara bahkan hingga pensiun nanti, seperti ayahnya.


Tapi jalan menuju kesana memang tidak mudah, karena terlalu banyak saingan.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengabulkan harapanku, apa kita tidak jadi menikah?"


Gala terkekeh, namun tidak memutus tatapan keduanya.


"Berusahalah dulu dan aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Memangnya harapan Gala apa? selama ini hanya tentang harapanku saja yang dibahas."


Giselle mendengus, disaat dia ingin bicara serius, Gala selalu menggodanya.


Kekesalan Giselle menghilang saat Gala memasangkan kalung itu di lehernya. Menyentuh tengkuknya hingga membuat Giselle merinding.


"Jangan pernah dilepas kalungnya, ya?"


"Entahlah," balas Giselle, seolah tidak peduli padahal dia akan selalu mengingat ucapan Gala itu.


"Kamu beli dimana kalung ini?" tanya Giselle.


Kini Gala mulai memasangkan helm untuk sang gadis. Lalu memasang pula helmnya sendiri.


"Hadiah ciki," jawab Gala, dia langsung tergelak saat melihat wajah kesal Giselle.


"Iya iya maaf, jangan cemberut lagi," ucap Gala setelah tawanya mereda.


"Percayalah padaku, kalung itu mahal, jangan sampai hilang," ucap Gala.


Dia naik ke atas motor dan menarik Giselle untuk duduk di belakangnya. Kali ini Giselle memakai celana jins, jadi dia tidak duduk menyamping lagi dan dapat memeluk Gala erat menggunakan kedua tangannya.


Setelah dirasa siap, Gala pun memutar gas motor dan segera keluar dari area fun fair.


Jalan pelan-pelan menikmati angin malam dan waktu kebersamaannya bersama Giselle.


Langit malam ini pun nampak begitu cerah, seolah mendukung keduanya untuk berlama-lama bersama.

__ADS_1


Giselle pun sudah tidak canggung lagi untuk memeluk Gala erat. Pun Gala yang sudah tidak merasa risih lagi saat punggungnya merasakan sentuhan lembut. Dia sudah terbiasa akan hal itu.


Jika Giselle tidak memeluknya, dia malah merasa kesal.


"Jangan peluk pria lain seperti ini, mengerti?"


"Memangnya aku perempuan murahan!" sahut Giselle cepat.


"Kata bunda, waktu SD kamu kejar-kejar Septian, SMP anaknya pak Mamat, SMA aku, nanti jangan-jangan pas kuliah kamu punya incaran baru!" ketus Gala.


Bicara tentang masa lalu banyak sekali yang Giselle suka, sementara dia hanya Giselle seorang yang mampu masuk ke dalam hatinya yang beku.


"Makanya kuliah ditempat yang sama denganku!" jawab Giselle tak kalah ketus. Hingga kini hanya Gala yang belum memutuskan untuk kuliah dimana.


Dan mendengar itu lagi-lagi Gala tidak menjawab, membuat Giselle jadi kesal sendiri.


Giselle ingin melerai pelukannya, namun Gala dengan cepat menahan tangan Gisel. Menyentuhnya lembut hingga menautkan jemari mereka.


Giselle begitu lemah dengan sentuhan lembut galak seperti ini, membuatnya tidak berkutik dan hanya bisa menurut. Juga hatinya yang mudah sekali luluh.


Dalam perjalanan pulang itu mereka tidak lagi berbincang, hanya tangan keduanya yang terus menyatu.


Sampai akhirnya Gala menghentikan motornya di depan rumah Giselle.


Gisel turun dan Gala melepaskan helmnya.


"Dimana pun aku kuliah nanti, tidak akan merubah apapun diantara kita. Kecuali hatimu yang berubah."


"Kenapa jadi aku yang salah, kamu yang tidak mau bersamaku terus," jawab Giselle dengan wajahnya yang masam.


Dan Gala yang melihat itu pun tersenyum kecil. Dia kembali mengambil tangan Giselle dan di genggamnya.


"Percayalah padaku."


"Percaya apa?"


"Suatu saat nanti kita akan menikah."


"Kapan?"


"Umur 25."


"Janji?" tagih Giselle bersemangat, dia juga mengajukan jari kelingkingnya.


"Janji," balas Gala, dan menautkan jari kelingkingnya pada Giselle.


Setelah senyum Giselle kembali, Gala baru membiarkan Giselle masuk.


Gala terus menyaksikan kepergian Giselle, hingga sang gadis benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Bismilah," ucap Gala.


Meyakinkan hatinya bahwa semua harapan yang ia susun bersama Giselle akan berjalan dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2