Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 40 - Ujian Nasional


__ADS_3

Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua murid kelas 3 SMAN 1 Jakarta akhirnya tiba.


Hari dimana mereka semua menaruhkan harapan terbesar untuk menyongsong masa depan yang baik.


Hari penentuan untuk mendapatkan nilai yang akan tersemat dalam diri mereka untuk selamanya.


3 hari berturut-turut ujian itu dilaksanakan. Giselle dan semua teman-temannya berusaha mati-matian untuk mendapatkan nilai yang baik, nilai yang sempurna.


Tiga hari itu mereka habiskan untuk belajar ujian, belajar ujian dan belajar ujian. Tidak ada ponsel, tidak ada berkumpul bersama teman-teman dan bermain.


Hingga saat di terakhir ujian itu dilaksanakan baru mereka semua bisa menghembuskan nafas lega.


"Alhamdulilah," ucap Gala, Giselle, Lili, Anjas, usman dan Robby.


Selesai ujian yang terakhir ini mereka semua berkumpul di taman belakang sekolah, duduk di tempat favorit mereka, di bawah salah satu pohon rindang dan duduk begitu saja di atas rerumputan.


Arumi tidak ikut, Gadis itu memutuskan untuk langsung pulang lebih dulu.


"Besok kita mulai libur dan menunggu hasil kelulusan, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Anjas.


"Aku nggak ngapa-ngapain nggak kemana-mana kecuali kalau kalian aja pergi," jawab Lili dan Giselle mengangguk.

__ADS_1


"Main ke Bandung yuk ke tempat pakde ku," ucap Usman dengan antusias. Mereka bisa menginap di sana beberapa hari, menikmati Kebun Teh di mana pakdenya bekerja.


"Kalau jauh-jauh pasti nggak diizinin sama ayah bunda." Giselle menjawab dengan bibir yang mengerucut dan kini giliran Lily yang mengangguk. Sebagai anak gadis mereka tidak dibebaskan untuk pergi ke jauh-jauh.


Meskipun Giselle dan Lili selalu mengatakan bahwa mereka bisa menjaga diri sendiri, tapi tetap saja orang tuanya tidak memberikan izin.


"Ya udah main ke Ancol aja lah deket, asal sama-sama pasti asik," ucap Robby.


Di antara mereka semua hanya Gala yang tidak begitu antusias dalam pembicaraan ini dan itu cukup mencuri perhatian semua orang. Secara bersamaan mereka semua menatap kearah Gala, ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki tampan satu ini.


"Kamu kenapa? apa tidak merasa puas dengan jawaban mu saat ujian tadi?" tanya Giselle, mewakili semua teman-temannya untuk bertanya tentang apa yang terjadi pada Gala.


Tapi Gala tidak langsung menjawab, tidak menggelengkan kepalanya, juga tidak mengangguk. Hanya menatap teman-temannya secara bergantian dengan tatapan yang entah.


Gala kira dia masih bisa menikmati suasana kelulusan di sekolah ini bersama sama temannya yang lain. tapi sepertinya hal itu pun tidak bisa dilakukan.


Masalah ijazah nanti akan diurus oleh Agam sementara dia lebih dulu kembali ke Amerika bersama ayahnya.


Tiba-tiba Gala menutup kedua matanya dengan satu tangan, karena ada air panas yang tiba-tiba mengalir dari sana.


Semua orang terkejut, apalagi saat mulai mendengar Gala yang terisak.

__ADS_1


"Gal, ada apa?" tanya Giselle lirih, tiba-tiba pun dia ikut menangis, karena tak kuasa melihat Gala bersedih. Tanpa segan Giselle bahkan langsung memeluk Gala.


Kedua insan ini saling memeluk dan menangis bersama meski Giselle tak tau apa penyebabnya.


Lili, Anjas, Usman dan Robby yang melihat itupun ikut terharu. Meski tak tau kenapa, Tapi saat melihat teman-temannya menangis seperti itu mereka pun merasa terenyuh. Mata mereka sama-sama merah dan berkaca-kaca. sampai akhirnya ikut memeluk Gala dan Giselle bersama-sama.


"Kita kenapa nangis sih?" tanya Lili, dia mencoba melerai pelukan teman-temannya, bahkan memisahkan Gala dan Giselle yang terus berpelukan.


"Kamu kenapa? katakan!" tanya Lili pada Gala, dengan suaranya yang sedikit membentak.


Semua orang sesenggukan menunggu jawaban Gala.


"4 hari lagi aku akan ke Amerika."


Giselle menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua tangan, saat mendengar itu dia tidak ingin tangisnya jadi pecah. Giselle sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan melepas kepergian Gala dengan senyuman bukan dengan tangisan.


Tapi hatinya tak bisa dikuasai, nyatanya sakit itu begitu menyiksa bahkan hingga membuat tenggorokannya terasa tercekat.


Giselle kembali menangis hingga teman-temannya pun ikut menangis pula.


Gala langsung menarik tubuh Giselle dan didekapnya erat.

__ADS_1


Anjas dan yang lainnya pun kembali menyusul untuk memeluk mereka berdua. Menangis sepuas-puasnya, membenci perpisahan ini.


__ADS_2