Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 50 - 22 Tahun


__ADS_3

"Ye!! tambah tua!!" ucap Lili, saat ini tepat Giselle berusia 22 tahun.


Giselle, Lili, Anjas, Usman dan Robby berkumpul di salah satu cafe untuk merayakannya.


Mereka duduk melingkar di meja tengah diantara pengunjung yang lainnya.


"Tahun ini kita wisuda, ah waktu cepet banget berlalu," ucap Robby, yang dulu remaja kini sudah semakin dewasa, bahkan di rahang Robby mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Giselle dan Lili sering meledeknya gara-gara bulu itu. Bukan jadi dewasa, Robby malah jadi tua.


"Iya, insya Allah desember nanti kita semua wisuda," timpal Anjas pula.


Kini mereka semua tengah disibukkan dengan skripsi.


"Telepon Gala yuk," ajak Usman namun dengan cepat Gisel mencegahnya.


"Jangan! disana tengah malam, kasihan dia, pasti udah tidur," cegah Giselle, bahkan menahan tangan Usman yang mau mengambil ponselnya di atas meja.


Tiap berkumpul seperti ini mereka tidak pernah asik dengan ponselnya sendiri, semua ponsel di kumpul di depan dan tidak boleh disentuh-sentuh kecuali darurat.

__ADS_1


"Minggu depan anak-anak SMA mau ajak reunian, kalian ikut nggak?" tanya Robby, pada 3 temannya yang tetap tinggal di Jakarta, kalau Robby dan Usman dipastikan tidak akan datang, karena meski Jakarta-Bandung dekat tapi tetap saja mereka berdua enggan.


Apalagi tudak ada pula Gala bersama mereka.


"Nggak usah lah, kita ikut reuni kalau Gala udah balik kesini aja." Lili yang menjawab, Giselle dan Anjas pun hanya mengangguk setuju.


Jam 4 sore pertemuan kelima sahabat itu usai, Giselle pun pulang dengan membawa beberapa kado yang dibelikan teman-temannya, hanya Robby yang tidak membeli kado, malah memberinya uang 100 ribu untuk ongkos pulang.


"Terima kasih pak," ucap Giselle, dia turun dari taksinya dan mulai masuk ke halaman rumah.


Semakin dewasa Giselle tak lagi lari-lari saat masuk ke rumahnya ini, dia berjalan pelan persis wanita dewasa.


"Ciee yang ulang tahun, dapet banyak kado ya?" tanya bunda Saras, seperti biasa tiap sore begini dia pasti berkutat di dapur, Giselle hanya membantunya tiap hari sabtu dan minggu saja, saat anak gadisnya itu tidak kuliah.


"Dapet kado banyak tapi kok mukanya lesu gitu?" tanya bunda Saras lagi.


Sementara Giselle tidak langsung menjawab, dia lebih dulu menuangkan air di dalam gelas dan meminumnya hingga tandas.

__ADS_1


Tiap kali dia ulang tahun seperti ini, Giselle selalu berharap Gala akan memberinya kejutan, tiba-tiba ada didepan rumah dengan membawa sebuket bunga mawar merah.


Tapi hingga 4 kali dia ulang tahun, keinginannya itu tak pernah terwujud. Apalagi tahun ini sepertinya Gala lupa akan ulang tahunnya.


Kemarin Gala tak mengatakan apapun, hingga kini pun kekasihnya itu tak memberinya kabar apa-apa.


"Gala belum telfon?" tanya bunda Saras lagi dan lagi.


Sementara Giselle lebih memilih berdiam diri, dengan wajah yang ditekuk.


"Istirahat di kamar sana, mungkin kado dari Gala udah ada di kamar."


"Bunda jangan bercanda!" jawab Giselle dengan suaranya yang meninggi, berharap ucapan bundanya benar, namun takut pula untuk berharap berlebihan seperti itu.


Sementara bunda Saras terkekeh, kado dari Gala sudah sampai seminggu yang lalu dikirim langsung dari Amerika sana, tapi bunda Saras dan Gala sudah sepakat untuk memberikannya hari ini, di sore hari setelah seharian Giselle menunggu kabar darinya.


"Kalau nggak mau kadonya ya udah, nanti bunda ambil lagi."

__ADS_1


"Bundaaaa," rengek Giselle, dia menangis dan langsung berlari menuju kamar.


"Awas kalau bunda bohong!" teriak Giselle diantara langkah kakinya yang semakin cepat.


__ADS_2