
Di pertiga malam, Gala terbangun dari tidurnya, hal pertama Yang dia ingat adalah tentang Giselle.
Dengan setengah sadar Gala turun dari atas ranjangnya dan meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Ya Allah, ponselku mati, pasti Giselle sudah menghubungi," ucap Gala cemas, dia coba menghidupkan namun ponselnya tetap tidak menyala.
Dengan segera Gala mengambil charger dan memasangnya di tempat pengisian daya. Buru-buru dia kembali menghidupkan dan untungnya ponsel itu masih mau menyala.
"Alhamdulilah."
Gala langsung coba menghubungi Giselle, panggilannya terhubung hingga terdengar bunyi tut tut tut yang teratur, tapi lama berbunyi panggilannya tetap tidak mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya panggilan itu terputus sendiri.
"Giselle pasti masih tidur."
Tapi Gala coba menghubungi sekali lagi, dan untungnya di panggilan kedua ini Giselle langsung mengangkat panggilannya.
"Gala," sapa Giselle lirih di ujung sana.
"Maafkan aku Sel, aku membuat mu menunggu kan, membuat mu kepikiran, maafkan aku. Aku tadi ketiduran," jelas Gala sebelum Giselle bertanya lebih.
Diujung sana Giselle tersenyum meski setengah sadar.
"Iya, kamu membuat ku takut."
"Maafkan aku," jawab Gala lirih, dia sungguh merasa bersalah.
"Aku takut."
__ADS_1
"Maafkan aku, ayo kita buat perjanjian lagi."
"Janji apa lagi? kita sudah terlalu banyak membuat janji," balas Giselle. Gadis ini tetep bertahan saling menghubungi dengan Gala dalam suasana kamarnya yang temaram.
"Aku terlalu takut untuk berpisah denganmu, karena itu aku selalu ingin membuat janji, seolah ingin mengikat mu dsngan janji-janji itu agar kamu tidak pergi," jelas Gala dengan sendu. Andai rasa takut antara Gala dan Giselle diadu pastilah dia yang akan menang.
Dan mendengar itu Giselle pun merasakan hatinya yang sesak, perasaan sama yang juga ia rasakan.
"Baiklah, ayo kita buat janji sebanyak-banyaknya," jawab Giselle.
Di pertiga malam itu Gala dan Giselle membuat banyak janji. Saat Gala sudah pergi ke Amerika nanti mereka akan saling menghubungi seminggu sekali, setiap hari minggu. Jam 8 pagi di Indonesia dan berarti di Amerika jam 8 malam.
"Janji ya?" jelas Giselle, agar mereka tak sampai hilang komunikasi meski jarak terbentang jauh.
"Kamu juga harus janji," tuntut Gala pula.
"Coba ulang lagi," pinta Gala dengan mengulum senyum, seolah malu jika ada yang melihat senyum kasmarannya ini.
"Tapi aku malu kalau banyak-banyak," jawab Giselle pula dengan tawanya yang kecil.
"Kan harus biasa, cepat katakan."
"Kamu dulu." pinta Giselle pula.
"Sayang."
Kyaa!! Giselle menutup wajahnya menggunakan bantal, wajahnya sudah terasa panas, ia yakin kini kedua pipinya merah merona.
__ADS_1
"Jangan curang, sekaran giliran kamu."
"Iih aku maluuu," kilah Giselle, dia seperti orang gila yang tidak tenang diatas ranjang. Senyum malu-malu dan tidak bisa tenang.
"Curang, katakan sayang, jangan senyum-senyum terus."
"Iih Gala."
"Jangan panggil namaku, panggil sayang. Aku hitung sampai 3, satu ... dua ..."
"Sayang," sahut Giselle malu-malu, bahkan langsung mengulum bibirnya sendiri.
"Lagi," pinta Gala.
"Sayang."
"Sayang."
"Sayang."
"Sayang, aku mencintai mu Sell."
"Iih Galaa."
"Apa? kamu sudah tidak mencintai aku."
"Mana bisa seperti itu, aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Dan panggilan itu terus berlangsung hingga subuh, hingga mereka sama-sama terbiasa dengan panggilan sayang dan kata cinta.