
Dengan tergesa mereka semua turun dari atas motor, setelah motor itu terparkir sempurna di area parkir bandara.
Mereka semua berlari dengan kencang untuk masuk, namun tiba-tiba langkah mereka terhenti saat sebuah pesawat melintas tepat diatas kepala mereka dengan suara yang begitu jelas.
Mereka semua sontak melihat jam di pergelangan tangan masing-masing, jam 9 pagi lewat 3 menit.
Giselle memegangi dadanya yang terasa sesak, menyadari jika itu pasti pesawat penerbangan Gala.
"Nggak, ini nggak mungkin kan Rob," lirih Giselle. Dia memukuli dadanya yang terasa sesak, dengan air mata yang terus mengalir deras.
Belum sempat mereka masuk ke bandara, namun perpisahan itu sudah terjadi.
Anjas dan Robby tak bisa berkata apa-apa, mereka mengepalkan tangannya kuat. Menahan amarah dan air mata agar tidak jatuh.
Lili hanya mampu memeluk Giselle erat, karena dia pun menjatuhkan air mata yang tak terkendali.
Di tengah jalanan sana mereka berlima saling memeluk erat. Berharap setelah tangis ini pecah sakit di dada akan berkurang.
__ADS_1
Selamat jalan Gal, aku sangat berharap kamu masih mengingat kami. Anjas.
Teman apanya? mana ada teman yang pergi tanpa pamit! Robby.
Kamu pembohong Gal, katanya hari ini kalian semua mau main PS di rumahku. Tapi kenapa kamu pergi? Usman.
Gal, kamu bilang akan pergi tanpa membuat kami menangis. Tapi apa ini? Lili.
Maafkan aku Gal, aku tidak bisa tersenyum melepas kepergian mu. Giselle.
Jam berlalu, kini matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka.
Dari bandara mereka menuju ke sekolah, sekolah yang kini hanya digunakan oleh anak kelas 1 dan 2, karena kelas 3 sudah libur.
Ke 5 remaja ini menuju taman belakang sekolah, tidur diatas rerumputan dan terus menatap langit, dimana Gala kini pasti ada disana dalam penerbangannya menuju Amerika.
"Kata pak satpam di rumah Gala, Gala juga nggak tahu kalau hari ini dia pergi, tiba-tiba semalam ayahnya datang dan pagi nya mereka pergi," ucap Anjas, berbicara sambil terus menatap langit.
Meski tak terdengar isak tangis Giselle, tapi masih ada air mata yang mengalir di ujung matanya, jatuh hingga ke telinga.
__ADS_1
"Kayak ada yang hilang ya," ucap Lili pula.
"Jangan bicara gitu, meskipun sekarang Gala nggak sama kita, tapi selamanya dia sahabat kita," sahut Robby.
Usman hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju, meski dengan air mata yang lagi-lagi sepertinya ingin jatuh.
"Loh loh loh! kalian ini kenapa malah klekaran disini!" ucap bu Tuti hingga mengagetkan mereka semua.
Ke 5 remaja ini bahkan langsung bangun dari tidurnya dan bangkit berdiri.
Buru-buru pula Giselle dan Usman yang menangis menghapus air matanya.
"Ya Allah Bu, mentang-mentang bentar lagi kami kelulusan masa udah nggak boleh ke sekolah lagi," ucap Lili, menggerutu. Bu Tuti selalu saja sibuk mengganggu mereka, pikir Lili.
"Bukannya nggak boleh, tapi sekarang masih jam belajar anak kelas 1 dan 2, tapi lihat kalian, pake baju nggak sopan gitu, emangnya ini taman safariiii?!" tanya bu Tuti dengan menahan kesal.
Usman dan Robby hanya menggunakan celana pendek boxer, sementara Giselle dan Lili menggunakan baju tidur.
Karena terburu-buru mereka sampai tak sempat melihat penampilannya sendiri, hanya Anjas yang terlihat rapi.
__ADS_1
"Sudah sana! pulang pulang!"