
Dengan tergesa Giselle membuka pintu kamarnya, pandangannya langsung terkunci pada kotak kecil berwarna merah muda diatas tempat tidur.
Wajahnya masih basah dengan air mata namun dia mengukir senyum yang sangat lebar. Giselle meraih kotak itu dan duduk di tepi ranjang, membuka isinya dan melihat sebuah cincin.
Giselle tersenyum, ada pula secarik kertas dalam kotak itu, dan Giselle tahu pasti jika itu adalah tulisan tangan Gala.
Bersiaplah, aku akan datang lebih cepat. Tapi sebagai gantinya, aku tidak akan menghubungi mu selama setahun ini. Kamu percaya aku kan? jadi pakailah cincin ini.
Giselle mendengus, entah harus bahagia atau bersedih. Tentang waktu semuanya masih saja terasa abu-abu.
Giselle hendak membuang kertas itu, namun ternyata kertas itu berubah jadi panjang. Tulisan Gala bukan hanya itu, melainkan masih banyak lagi.
Aku akan fokus menulis skripsi, lalu menggantikan daddyku di perusahaan keluarga kami, kamu tahu kan daddy sekarang sudah sering sakit.
Aku akan menyelesaikan semuanya, lalu segera kembali ke Indonesia, langsung menikahimu tidak menunggu apapun.
Aku punya banyak rencana, tolong percayalah padaku.
Percayalah pada cinta kita, setiap hari cintaku semakin besar, rinduku semakin tak terbendung dan aku tau kamu pun begitu.
__ADS_1
Selamat ulang tahun sayangku.
Love, Gala.
Giselle mencebik, namun dengan hati yang lega dan berbunga-bunga. Setiap Gala pergi dia selalu menjelaskan semuanya, membuatnya menunggu tanpa ragu.
Giselle mengambil cincin indah itu dan memasangkannya sendiri di jari manis tangan kirinya.
Dulu kalung dan sekarang cincin, Gala selalu mengikatnya dengan hal-hal manis.
Waktu bergulir, hari bergant minggu dan berganti bulan.
Akhir tahun pun tiba, Giselle dan semua teman-temannya wisuda tepat di tangal 24 desember. Hari bersejarah itu kembali mereka raih bersama-sama.
Setahun terakhir ini pun Gala benar-benar tak pernah menghubungi Giselle, pernah beberapa kali dia mengirim pesan namun selalu ceklis.
Hingga kini tanda itu masih 1 dan Giselle terus menatapnya berharap jadi 2 dan berubah biru.
Meski menunggu namun Giselle sudah membentengi hatinya, untuk tidak terpuruk dan terus merasa bahagia.
__ADS_1
Setelah semua menjadi sarjana S1, Usman dan Robby langsung mendapatkan kerja, saat ada seleksi di kampus mereka ikut dan lulus.
Sementara Anjas membantu keluarganya mengurus bisnis keluarga. Lili pun bekerja menjadi salah satu staf di perusahaan keluarga Anjas.
Tinggal Giselle yang belum mendapatkan pekerjaan.
Seperti lulusan-lulusan yang lainnya, Giselle pun kini sibuk mencari kerja, memasukkan lamaran di berbagai perusahaan.
Sampai akhirnya ada satu yang seolah-olah menjadi peluang paling besar untuk Giselle. Di cari lulusan baru, benar-benar diutamakan lulusan baru bukan yang sudah berpengalaman, menjadi sekretaris direktur utama di perusahaan properti. Tidak tanggung-tanggung, mereka membutuhkan 3 sekretaris sekaligus.
Ditemani Lili, Giselle langsung mengikuti walk interview yang sedang diadakan perusahaan itu.
Membawa lamaran pekerjaan dan langsung di wawancarai.
"Ya ampun Li, banyak banget yang daftar," ucap Giselle, saat mereka tidak mendapatkan tempat duduk.
"Iih itu Arumi," bisik Lili pula, menunjuk sisi kanan paling dekat dengan pintu HRD.
Arumi duduk dengan santai bersama 2 temannya yang lain, menggunakan pakaian modis dan terlihat sangat berkelas, cocok sekali menjadi sekretaris.
__ADS_1
Sementara Giselle menggunakan baju hitam putih, khas orang mencari kerja.
"Ngak usah minder," bisik Lili lagi dan membuat Giselle mendengus.