Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 55 - Sekretaris Pribadi


__ADS_3

Pria dengan tatapan dingin itu pun pergi setelah membuat Arumi dan Mona mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Giselle dan Putri.


Meja di kantin itu pun akhirnya dimenangkan oleh Giselle dan Putri.


Mona dan Arumi entah pergi kemana.


"Masya Allah, bapak-bapak tadi ganteng banget ya Sel, ih kalo dia jomblo aku mau lah jadi pacarnya," ucap Putri dengan malu-malu, dia bahkan memegang pipinya sendiri yang merona.


Bapak berwajah dingin itu membuat Arumi dan Mona meminta maaf pada mereka, Putri seperti dipertemukan dengan pangeran berkuda putih yang memberinya kehormatan.


Romantis sekali.


"Sellll, kok muka mu biasa aja sih, nggak terpesona gitu!" kesal Putri, dia sudah begitu antusias namun Giselle tak sedikitpun menanggapi, tetap asyik makanannya sendiri dan makan dengan lahap.


"Iya ganteng, tapi masih gantengan calon suamiku," balas Giselle, dia tersenyum kecil diantara mengunyah makanannya.


Dan Putri mencebik, sedikit meragukan ucapan teman barunya itu.


"Temen kuliahmu?"


"Bukan, temen SMA."


"Kuliahnya bareng?"

__ADS_1


"Enggak, dia kuliah di universitas lain."


"Universitas mana?"


"Jauh pokoknya, udah hampir 5 tahun nggak ketemu."


"Astagaa, emang dia masih inget sama kamu?"


Giselle terkekeh.


"Nggak tau, semoga aja inget."


Setelah puas mengisi perut mereka, Giselle dan Putri kembali naik ke ruangan khusus sekretaris itu.


"Di komputer kalian ada 5 video para petinggi perusahaan ini yang sedang presentasi. Kalian buat catatan dari presentasi itu dan kenali tiap pribadi para pemimpin, dari gerak tubuhnya, tatapannya, pengucapannya, kalian nilai mereka dan tentukan mereka orang yang seperti apa."


Semua peserta mengangguk paham, menjadi sekretaris memang bukan pekerjaan yang mudah, bukan hanya harus cepat dalam mengurus dokumen, mereka juga harus bisa memahami para pemimpin, menjalin komunikasi yang baik bahkan menjadi perantara diantara kolega.


"Mulai!"


Mereka memasang headset di telinga dan mulai melihat presentasi itu.


Tangan mereka pun mulai aktif menulis di kertas kosong yang sudah disediakan.

__ADS_1


Sampai akhirnya Giselle merasa tertegun saat melihat salah satu wajah pemimpin itu nampak tak asing, namun Giselle tak mengingatnya sama sekali. Pria paruh baya itu presentasi menggunakan bahasa inggris, untunglah Giselle bisa memahaminya dengan mudah.


2 jam kemudian, mereka semua selesai. Kertas itu di kumpul dan langsung di nilai.


Selama menunggu penilaian, mereka semua membantu para senior untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.


Hingga tepat jam 5 sore disaat semua karyawan sudah pulang, pengumuman tentang siapa yang diterima menjadi karyawan pun di sampaikan.


Giselle berulang kali menelan ludahnya kasar, tak peduli betapa gugupnya dia namun Gisel tetap ingin terlihat tegar, tidak ingin terlihat terpengaruh dengan keputusan yang akan disampaikan oleh senior.


Tatapannya bahkan terus lurus menghadap ke depan.


"Tidak diterima di perusahaan ini bukan berarti karier kalian akan berhenti juga, jadi jangan berkecil hati," ucap sang senior.


"Saat nanti ada penerimaan karyawan baru di perusahaan ini pun kalian masih diberi kesempatan untuk kembali mengikuti seleksi," timpalnya lagi.


Giselle dan yang lainnya hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai tanggapan.


"Baiklah, saya akan langsung umumkan ..."


"Arumi dan Putri sebagai sekretaris umum."


Kedua nama yang disebut itu mengucapkan syukur di dalam hati, tak boleh menunjukkan kesenangannya diatas rasa kecewa yang lain.

__ADS_1


"Dan untuk sekretaris pribadi ... Giselle."


__ADS_2