
Dengan perlahan Gala melepaskan ciumannya, lalu menyatukan dahi mereka.
"Aku sangat merindukan mu, Sayang," desis Gala, dia lalu mencium hidung sang kekasih sementara kedua tangannya tetap memeluk erat tubuh Giselle.
Kali ini Gala tidak akan pergi lagi, dia tidak akan pernah meninggalkan Giselle lagi.
Nafas mereka yang memburu saling beradu, jarak ini begitu dekat hingga Giselle mampu mencium aroma tubuh Gala, kekasihnya.
Giselle kembali menutup mata saat Gala lagi-lagi melabuhkan sebuah ciuman dalam di atas bibirnya. Dia pun membalas, menunjukkan pula rasa rindu yang selama ini dia rasa.
"Ayo kita menikah, aku tidak bisa menahannya lagi," ucap Gala. Ucapan yang paling menggelikan di telinga Giselle seumur hidupnya.
Dia bahkan sampai tersenyum dan memukul dada Gala pelan.
"Teman-teman yang lain pasti senang sekali kamu pulang, apalagi Anjas," ucap Giselle, dia meraba pundak Gala, turun ke lengan lalu naik lagi menyentuh leher dan rahang kekasihnya, menatap lekat-lekat wajah Gala dengan jarak yang begitu dekat. Gala benar-benar sudah banyak berubah, tubuhnya semakin tinggi, lebih padat dan wajahnya semakin tampan.
Selama ini yang ada di mimpi nya bukan Gala ini, masih Gala yang dia ingat semasa SMA.
"Aku juga tidak sabar bertemu mereka."
"Kalau begitu ayo kita temui, aku juga sudah tidak sabar membawa mu bertemu mereka."
"Tapi aku masih rindu," balas Gala lirih, dia kembali menenggelamkan wajah Giselle di dadanya, menciumi puncak kepala sang kekasih dengan sayang.
__ADS_1
"Sebelum bertemu mereka, ayo bicarakan tentang kita."
Mendengar itu Giselle mengulum senyumnya, dia pun memeluk Gala tak kalah erat.
"Besok kita menikah," ucap Gala.
Dan langsung membuat Giselle terkejut.
"Ha? mana bisa seperti itu, memangnya menikah semudah membalikkan telapak tangan, banyak yang harus kita urus, belum lagi surat-suratnya. Dan satu lagi, bagaimana bisa kamu ada disini? maksud ku di perusahaan ini, lalu direktur utama? kenapa jadi kamu?" tanya Giselle bertubi, banyak sekali, sampai Gala bingung sendiri.
"Tanya nya satu-satu Sayang, aku akan menjawab semuanya, tapi kita harus terus saling memeluk seperti ini."
"Kapan kamu pulang?"
"Dan baru menemui aku sekarang!!" kesal Giselle, dia ingin melepaskan diri namun Gala menahan kuat dekapannya membuat Giselle tak bisa lepas.
"Jahat!"
"Banyak yang harus aku urus."
"Harusnya temui aku dulu, bila perlu aku yang menjemput mu di bandara."
"Waktu itu masih repot, aku belum bisa menghubungi kamu."
__ADS_1
"Banyak alasan, lalu kenapa kamu ada disini? kenapa ada di ruangan ini?"
"Karena ini perusahaan milik ayahku, selama ini om Agam yang mengurusnya, sekarang aku yang pegang."
"Pertemuan kita ini sudah kamu rencanakan atau kebetulan."
"Kebetulan yang direncanakan."
"Iish, aku serius." Giselle ingin melepaskan diri lagi, namun Gala masih belum mau melepaskan.
"Angkat wajahmu," titah Gala.
Giselle pun mendongak, lalu dengan segera Gala kembali menciumi bibirnya. Dan Giselle hanya bisa pasrah dan juga membalas, karena dia pun sungguh rindu kebersamaan ini.
"5 tahun tidak bertemu ternyata kamu masih cerewet juga."
"Baru hari ini aku cerewet, baru hari ini aku menemukan diriku yang dulu. Selama kamu pergi aku seperti orang lain, aku lebih banyak diam dan hanya tersenyum saat bersama teman-teman."
Gala kembali mencium bibir Giselle, bahkan kini lebih dalam.
"Maafkan aku."
"Dimaafkan, karena kamu sudah kembali."
__ADS_1