
Jangan lupa like dan komen ya ❤
Happy reading
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gala dan Giselle tidak langsung pulang, mereka lebih dulu pergi ke sebuah toko buku.
Di toko buku itu juga ada tempat untuk membaca, Gala dan Giselle memanfaatkannya untuk belajar bersama sejenak.
Besok mereka akan TO mata pelajaran bahasa inggris. Dan sekarang Gala sedang mengajari Giselle agar lebih mudah menjawab soal-soal bahasa inggris itu.
Buku yang baru Gala beli untuk Giselle langsung dicoret-coretnya dengan banyak catatan.
Membuat Giselle lebih mudah mengerti.
Sampai akhirnya mereka menyudahi belajar singkat itu.
"Kamu selalu membelikanku ini dan itu, sementara aku tidak pernah membelikanmu apapun," ucap Giselle, dia memasukkan buku yang baru saja dibelikan Gala untuknya ke dalam tas.
Dulu Gala membelikannya helm, juga menolek uang dari bunda Saras. Lalu belum lama ini membelikan Giselle kalung dan sekarang buku yang harganya cukup mahal untuk anak sekolahan seperti mereka, 120 ribu.
Uang jajan Giselle saja hanya 50 ribu. Untuk membeli paket internet bulanan pun dia harus menabung dari uang jajan itu.
"Kamu tidak perlu membelikan aku apapun, kamu cukup terus menjadikan aku future husband mu," jawab Gala, dia tersenyum dan mencubit gemas pipi Giselle.
Membuat Giselle langsung mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu anak orang kaya?" tanya Giselle lagi.
Kini mereka berdua mulai keluar dari toko buku itu.
"Kalau orang tua ku lumayan kaya lah, kalau aku sedang berusaha kaya untuk bisa menyenangkan kamu."
Lagi, mendengar jawaban Gala itu membuat Giselle mengerucutkan bibirnya. Kata siapa Gala pendiam? kata siapa Gala galak dan dingin?
Ternyata Gala adalah orang cerewet, suka menggoda dengan kata-kata manis dan selalu memperlakukan Giselle dengan hangat.
"Gombal!" sahut Giselle ketus.
Dan Gala hanya terkekeh, lalu sedikit menarik tubuh Giselle mendekat kearahnya saat ada beberapa rombongan pemuda yang masuk ke dalam toko, agar tubuh gadisnya ini tidak tersenggol.
Dan senyum Giselle kembali hadir saat diperlakukan manis seperti itu.
__ADS_1
Keduanya keluar dari dalam toko dengan tangan yang saling menggenggam erat, hingga akhirnya mereka sampai di motor milik Gala.
"Kamu sudah bilang kan sama Bunda kalau kita pergi ke toko buku dulu?" tanya Gala sambil membuka jok motornya dan mengambil 2 helm mereka.
"Iya sudah," sahut Giselle, lalu Dia membeku saat Gala memasangkan helm di kepalanya, sebuah kebiasaan yang membuat Gisel jadi ketergantungan. Rasanya jika Gala tidak memasangkan helm di kepalanya akan terasa ada yang hilang.
Klik!
Helm itu terkunci dan Giselle langsung tersenyum lebar. Senyum yang membuat Gala pun ikut tersenyum pula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
Try out untuk kelas 3 SMAN 1 Kota Jakarta sudah usai, tidak ada libur dan mereka Langsung melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.
Namun masih tetap ada yang membuat perasaan semua murid kelas 3 merasa gugup.
Karena satu minggu lagi nilai hasil ujian try out akan dipasang di dinding pengumuman sekolah.
Mereka semua sudah tidak sabar untuk menunggu hari itu, untuk melihat bagaimana hasil simulasi ujian nasional mereka.
Dan setelah nilai hasil tryout itu keluar selanjutnya akan ada jadwal les tambahan di sore hari untuk kelas 3 selama satu bulan penuh.
Memperhatikan Gala, Anjas, Usman, Robby dan teman-temannya yang lain bermain bola basket di tengah sana saat jam istirahat.
"Tenang, Waktu kuliah nanti kita bisa lebih santai dan nggak perlu pakai seragam-seragam begini," jawab Lili, seraya membayangkan kehidupan kampus yang terlihat menyenangkan dalam benaknya.
"Tapi Abang Gilang juga kelihatan sibuk terus, malah tugasnya seabrek!"
"Itu karena abang Gilang jadi asisten dosen, kalau mahasiswi biasa kayak kita nggak mungkin sesibuk itu," jawab Lili pula seolah dia sudah pernah kuliah sebelumnya.
"Sok tahu!" balas Giselle ketus.
Asik berbincang mereka sampai tidak sadar jika bola basket menggelinding ke arah mereka.
"Giselle! Lili! Bola!"
Teriak Usman dari tengah lapangan. Kedua gadis itu langsung melihat ke arah Usman lalu menunduk dan melihat bola di bawah kaki mereka. Bukannya mengambilnya dan melempar, Giselle malah bangkit dan menendangnya seperti bola kaki.
Hingga membuat kakinya sedikit berdenyut, karena bola basket memang bukan untuk ditendang.
"Hih bolanya keras banget!" keluh Giselle dan kembali duduk. Dia sedikit menggerak-gerakan kaki kanannya mencoba menghilangkan rasa sakit itu dan menormalkannya kembali.
__ADS_1
sementara Lily hanya terkekeh.
"Salah sendiri bola basket kok ditendang-tendang," ucap Lili diantara kekehannya.
Giselle mendengus kesal, dia terus menggerak-gerakkan kakinya membentuk sebuah lingkaran.
Namun dengan cepat terhenti saat seseorang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya dan menyentuh kaki Giselle.
Melepas sepatu gadis ini, menyisahkan kaos kaki berwarna putih dan melakukan pijatan kecil.
"Masih sakit?" tanya Gala, dia mendongak dan menatap Gisel yang malah senyum-senyum sendiri.
Gala tidak sadar jika tindakannya itu mencuri perhatian semua orang, bahkan beberapa gadis sudah meneriaki aksinya, termasuk Lili.
Melihat Giselle yang hanya diam Gala lantas kembali memijat kaki itu dan menariknya pelan hingga rasa sakit yang tadi dirasakan oleh Gisel kini sudah benar-benar menghilang.
"Sudah sembuh?"
Giselle mengangguk.
Namun suara teriakan para gadis teman-temannya pun belum mereda dari pinggiran lapangan bola basket itu.
Bahkan teriakan Lili terdengar paling keras di telinga Giselle yang tetap acuh. Gisel tetap fokus menatap Gala hingga membuat tatapan keduanya bertemu.
Sepatu Giselle sudah kembali terpasang, Gala bangkit, mengedipkan sebelah matanya kepada Giselle dan segera berlari kembali masuk ke dalam lapangan.
"Aaaa!! Gala!" teriak para gadis, yang tidak kuasa melihat perlakuan manis dari sang ketua OSIS.
Mendadak mereka semua ingin berubah jadi Gisel. Tidak apa-apa terus mengejar-ngejar calon suami masa depan jika akhirnya akan berakhir manis seperti ini.
"Anjaaas! kakiku juga sakit!!" teriak Lili yang juga ingin diperlakukan manis.
Tapi Anjas tidak menghampiri, hanya tersenyum ke arah Lili dan melemparkan sebuah kedipan mata genit.
"Aa!! my future husband!!" teriak Lili lagi.
Namun teriakan Lili itu tetap tidak membuat Gisel merasa terganggu, Karena hati Giselle masih terpana atas perlakuan manis Gala kepadanya.
Gisel terus tersenyum menatap Gala yang asik berlari kesana-kemari menggiring bola basket.
Ternyata benar kata-kata orang, bahwa masa-masa SMA adalah masa yang paling indah.
Dan Giselle sudah membuktikannya sendiri. Perasaan suka yang dia rasa tidak membuatnya jadi manusia bodoh, bahkan membantunya untuk bangkit dan berusaha mencapai cita-cita di masa depan.
__ADS_1
Aku akan mencoba percaya, bahwa diumur kita yang ke 25 kita akan benar-benar bersama. Batin Giselle dengan bibirnya yang masih saja tersenyum.