
Happy reading
...💕...
Hari-hari berlalu.
Gosip yang sedang hangat-hangatnya di sekolah adalah tentang murid kelas 3 yang dipanggil satu persatu untuk konsultasi dengan Bu Tuti mengenai rencana untuk melanjutkan kuliah setelah lulus nanti.
Setiap siswa dan siswi bahkan mulai berdebar menunggu hingga giliran mereka tiba.
Hingga akhirnya di hari sabtu, kini giliran kelas 3E yang mendapatkan giliran untuk konsultasi dengan Bu Tuti.
Dan Gisel yang lebih dulu memulainya.
Gadis yang terkenal sebagai pembuat keributan di sekolah ini dipanggil lebih dulu dan dengan penuh percaya diri Gisel pun memasuki ruangan Bu Tuti.
"Duduk."
"Siap Bu!" jawab Giselle mantap, dia pun langsung mengambil posisi duduk di hadapan Bu Tuti.
"Semakin hari ibu lihat nilaimu semakin bagus, itu pencapaian yang luar biasa untuk mu," ucap Bu Tuti.
Dan di dalam hatinya, Giselle bersorak merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Itu artinya jika kamu berusaha kamu pun bisa mencapai tujuanmu," timpal bu Tuti lagi, hingga akhirnya diam mengucapkan pertanyaan inti.
"Jadi setelah lulus nanti Apa kamu sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas mana?"
"Sudah Bu, lalu bagaimana dengan Gala? apa dia juga sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah dimana?" jawabnya Giselle sekaligus memberikan pertanyaan yang bertubi, bukan tentang konsultasinya sendiri melainkan menanyakan tentang Gala.
2 pertanyaan yang membuat Ibu Tuti mengerutkan dahinya, lalu mengeram kesal karena gadis ini masih saja memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.
"Kita bahas tentang kamu Sel, bukan Gala."
"Tapi semua Hidupku isinya cuma Gala Bu."
Bu Tuti memijit keningnya yang mendadak pening, bahkan darahnya mendidih hingga sampai ke otak.
Bu Tuti menarik nafas dan membuangnya perlahan mencoba tenang di keadaan seperti ini, tidak boleh terpancing emosi dan menyebabkan konsultasi gagal.
Mencoba berpikir dari sudut pandang Gisel dan memahami rasanya menjadi gadis ini.
__ADS_1
Menikmati masa muda yang isinya hanya tentang cinta cinta. Apalagi bu Tuti pun tahu, jika beberapa bulan ini hubungan Gisel dan gala memang membaik dan semakin dekat.
Di mulai saat semua pulang dari studi tour di Bogor lalu.
"Gala belum menentukan di mana dia akan melanjutkan kuliah, kenapa? Apa kamu ingin mengikuti kemanapun Gala pergi?" tanya Bu Tuti, mencoba menjadi teman bicara Giselle yang baik, sehingga bisa mengarahkan gadis ini agar bisa menentukan pilihan hidupnya.
Giselle yang ditanya seperti itu pun malah diam, dia mendadak bingung mau menjawab apa. Seolah kembali dipertemukan dengan persimpangan, antara keinginan kedua orang tuanya atau keinginan hatinya yang ingin selalu mengikuti Gala.
"Kalau menurut Ibu gimana?" balas Giselle yang gamang.
"Kamu tidak akan bisa mengikuti Gala, karena universitas yang akan Gala pilih mungkin akan sangat sulit untuk kamu jangkau."
Mendengar itu kedua netra Giselle langsung bola, antara bingung dan mulai berfikir Memangnya Universitas mana? karena kalau masih ada di Indonesia dia akan sekuat tenaga untuk bisa masuk ke sana.
"Memangnya Universitas apa Bu? aku saja mengincar Universitas Indonesia," jawab Giselle jujur, meski akan sulit dia untuk masuk ke Universitas itu setidaknya Gisel sudah memantapkan hatinya untuk berusaha agar bisa masuk ke sana.
"Pilihan kamu sudah bagus, ibu akan memberikan beberapa referensi buku bacaan yang bisa kamu pelajari untuk bisa lulus tes di sana."
"Terus Gala Kuliah di mana Bu?"
"Kamu ini Gala terus, coba sesekali kamu pikirkan diri kamu sendiri. Pikirkan perjuangan kedua orang tua kamu yang menyekolahkan kamu. Kedua orang tua yang berharap anaknya pintar berpendidikan dan bisa menyongsong masa depan yang cerah."
Giselle tahu jika Gala sudah berkonsultasi dengan Bu Tuti dan berharap bisa mengulik sedikit saja informasi tentang Future Husband nya itu.
Berharap dari Bu Tuti bahwa dia akan tahu Universitas mana yang akan Gala pilih setelah lulus nanti.
Berharap mungkin saja di masa kuliah mereka masih tetap bisa bersama.
Ceramah panjang lebar Bu Tuti dengan setia Giselle dengar, meski maksud dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
"Harvard University, kampus itulah yang mungkin akan dituju Gala."
Deg! seketika jantung Gisel seperti terhimpit tiba-tiba dadanya sesak dengan mulutnya yang mendadak diam seribu bahasa.
matanya membola menatap tidak percaya pada bu Tuti yang mengucapkan kalimat itu.
"Harvard?" ulang Giselle dengan suaranya yang penuh penekanan dan nada bertanya.
"Iya, bukannya ibu membanding-bandingkan tapi Ibu rasa kamu tidak akan sanggup untuk bisa masuk ke Universitas itu."
"Harvard yang ada di Amerika?" tanya Giselle lagi, bukannya menanggapi ucapan Bu Tuti, Giselle malah sibuk sendiri dengan banyaknya pertanyaan di kepala dia.
__ADS_1
"Iya, di Amerika."
Dan Bu Tuti terus mencoba netral, bicara dengan nada biasa dan mencoba tidak marah-marah di sesi ini.
"Ibu jangan bohong?"
Mendengar pertanyaan itu Bu Tuti mulai kesal, dia sudah mencoba sabar namun Giselle malah memancing-mancing amarahnya.
"Memangnya kamu tidak tahu kalau ayahnya Gala itu orang Amerika? ayahnya tinggal di sana, pastilah mau anaknya juga kembali ke sana untuk melanjutkan kuliah." terang bu Tuti.
Bu Tuti tidak tahu bagaimana pastinya, yang jelas bu Tuti tahu jika orang tua Gala tidak tinggal di Indonesia. Di Indonesia ini Gala tinggal bersama sang Paman, Kakak dari ibunya yang sudah meninggal.
Giselle tercengang, terperangah, tidak percaya dengan semua yang diucapkan oleh ibu Tuti.
Gadis kecil ini malah ingin menganggap semua ucapan Ibu Tuti itu hanya sebuah dongeng.
Sampai akhirnya sesi konsultasi mereka usai, Bu Tuti mengakhirinya karena Giselle hanya fokus terus membicarakan tentang Gala dibanding dirinya sendiri.
Giselle keluar dari ruangan itu dengan tatapan yang kosong, sejenak dia masih berdiri di depan pintu ruangan bu Tuti dengan melamun.
Sampai akhirnya kedua kakinya melangkah sendiri tanpa kendali otak. Keluar dari ruangan guru itu dan berjalan entah ke mana.
Gisel bahkan sampai tidak menyadari jika semua teman-temannya sudah menunggu di depan ruang guru itu.
Lili, Gala, Anjas, Usman, Robby dan Arumi menatap heran saat melihat Giselle dengan tatapan kosongnya, bahkan tidak melihat keberadaan mereka semua yang berdiri persis di depan ruangan guru itu.
Membuat mereka semua langsung merasa was-was, terlebih Gala. Dia yang paling takut jika Gisel akan mendapatkan masalah. Gala tidak ini gadisnya kembali dihukum ataupun kembali mengalami kesulitan.
Tanpa memperdulikan yang lain, Gala lebih dulu melangkahkan kakinya dan menarik lengan Giselle.
"Giselle!" panggil Gala dengan suaranya yang cemas. Cekelan tangannya membuat Gisel berhenti dan balik menatap dirinya.
Giselle tidak langsung buka suara, dia menatap dalam kedua bola mata indah itu, mencari kejujuran di mata Gala.
"Jadi kamu akan melanjutkan kuliah di Harvard?" tanya Giselle Lirih.
Namun semua orang masih mampu mendengar pertanyaan itu.
...💕💕...
Jangan lupa like dan komen ya, vote se ikhlasnya aja 💕
__ADS_1