
"Astagfirulahalazim!" ucap Lili dan Anjas saat Giselle menutup pintu mobil dengan kuat.
"Mobil baru Sel, inget," ucap Anjas dan Giselle terkekeh.
"Maaf," sahut Giselle kemudian.
"Itu si Arum pahit ngapain? dia ganggu kamu kamu lagi?" tanya Lili, kini mobil mereka sudah mulai melaju.
"Nggak kok, malah aku yang gangguin dia," balas Giselle.
Sore itu Lili dan Anjas menemani Giselle untuk membeli baju dan sepatu baru.
Seperti sebuah keajaiban tiba-tiba Usman dan Robby mengatakan jika saat ini mereka sedang berada di Jakarta.
Jadilah Giselle, Lili dan Anjas tidak langsung pulang. Mereka lebih dulu bertemu dengan kedua sahabatnya itu di salah satu cafe.
"Aku telepon Bunda sebentar," pamit Giselle, semua teman-temannya mengangguk dan Giselle memutuskan untuk keluar dari cafe, mengambil privasi untuk menelpon bunda Saras, sekaligus mengatakan jika dia diterima kerja.
"Halo, assalamualaikum, udah mau magrib kok belum pulang sih Sel? kamu dimana? sama siapa? nggak dapet taksi apa? mau di jemput ayah?" tanya bunda Saras, pertanyaan bertubi hingga Giselle bingung sendiri mau jawab yang mana dulu.
__ADS_1
"Giselle diterima Bun, aku diterima kerja!" balas Giselle, daripada pusing menjawab pertanyaan sang Ibu akhirnya Giselle memutuskan untuk langsung memberitahu kabar bahagia ini.
Di ujung sana bunda Saras langsung meneteskan air mata, tangan kanannya pun bergerak untuk menutup mulutnya yang mengaga, terkejut bercampur bahagia.
Akhirnya kini kedua anaknya sudah bisa mandiri, bekerja sendiri dan bisa berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Jujur saja bunda Saras merasa sangat bangga, bukan hanya bangga kepada anak-anaknya tapi juga bangga pada dirinya sendiri dan sang suami.
"Alhamdulilah sayang, bunda ikut seneng dengernya."
"Bunda jangan nangis."
"Iya enggak."
"Eh itu ada tamu, udah dulu ya Sell, masya Allah ...."
Panggilan itu mati, Giselle dibuat heran atas kelakuan ibunya itu. Menutup panggilan telepon disaat dia masih ingin cerita, lalu berteriak masya Allah seolah kedatangan tamu yang sangat spesial. Padahal Giselle sudah memberinya kabar yang lebih spesial dari apapun.
"Iish bunda nih!"
Dengan wajahnya yang ditekuk, Giselle kembali masuk ke dalam cafe dan menemui teman-temannya.
__ADS_1
Robby dan Usman yang paling banyak bertanya, karena mereka tidak tahu sahabatnya itu akan bekerja dimana dan dibagian apa, berapa gajinya dan juga tentang Arumi. Seseorang yang sudah mereka kenal tidak baik selama ini.
"Jadi kamu sekretaris pribadi dan Arumi sekretaris umum, gajimu lebih gede dong?" tanya Usman
"Ya gitu deh, tapi kan pekerjaannya lebih banyak."
"Kerjaan nggak masalah, asal masih bisa dilihat bisa dipegang pasti bisa dikerjain, yang penting gajinya gede. Kita sama-sama nabung, siapa tau kapan-kapan bisa ke Amerika," jelas Robby, dia tertawa, namun tiba-tiba diam saat melihat wajah teman-temannya yang jadi murung.
1 tahun tanpa kabar dari Gala membuat mereka ragu akan semua ucapan Gala dulu.
Mereka mulai merasa jika Gala tidak mungkin kembali.
"Ayok makan, keburu dingin," ucap Anjas, mulai mengalihkan pembicaraan. Gala dan Amerika sama saja, sama-sama memberi perasaan tak nyaman dihati mereka semua.
Bukan hanya Giselle, tapi semua teman-teman yang lain pun merasa kecewa.
"Kata Gala dia bakal pulang lebih cepet, kita tunggu aja," ucap Giselle lirih.
"Kita terus nunggu, ku rasa cukup waktu yang kita kasih. Lebih baik kamu mulai membuka lembaran baru, lupakan Gala," balas Anjas.
__ADS_1
Dan suasana diantara mereka jadi terasa dingin.