Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 44 - Daddy George


__ADS_3

Jam 6 pagi Gala keluar dari dalam kamarnya.


Sayup-sayup mendengar suara pembicaraan di ruang keluarga yang ada di lantai 2.


Niat awalnya untuk turun dan mengambil minum dia urungkan kini langkah kakinya malah bergerak menuju ruang keluarga itu.


Kedua mata Gala membola saat melihat di sana paman Agam tidak duduk sendiri, melainkan bersama dengan sang ayah.


Deg! jantung Gala seperti taremat seketika.


Sejak kapan ayah sampai? batinnya bertanya-tanya.


Sesak di dada makin dia rasa, seolah perpisahannya dengan teman-teman yang lain sudah di depan mata.


"Dad," panggil Gala, dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya, Gala menghampiri Agam dan sang ayah George.


"Gal, kamu sudah bangun." George bangkit dari duduknya dan memeluk sang anak dengan rindu, hampir setahun mereka tidak bertemu dari terakhir kali George datang ke Indonesia.


"Jam berapa Daddy sampai?"


"Semalam saat kamu tidur."


Gala ikut duduk bersama kedua orang tua ini. saat itu juga mengatakan bahwa hari ini juga dia dan gala akan kembali ke Amerika.

__ADS_1


Kedua mata Gala mendelik, dia tidak terima dengan keputusan tergesa-gesa ini.


"Maaf Dad, bukannya kita kembali dua hari lagi, kenapa harus sekarang?" tanya Gala dengan nada tidak terima. Dia juga punya kehidupan, punya teman-teman, punya keinginan yang harus dilakukan sebelum akhirnya kembali ke Amerika.


Tapi sang ayah seolah bertindak jika Gala tidak memiliki hak untuk itu semua.


Semua kehidupan yang dia punya selama ini direnggut begitu saja.


"Gal, dua hari lagi daddy memiliki pekerjaan penting di sana, karena itulah daddy datang lebih awal. dan hari ini juga kita kembali ke Amerika tiket dan semuanya sudah daddy persiapkan," jawab George.


"Daddy egois, tidakkah Daddy berpikir jika di sini aku juga punya kehidupan," sahut Gala lirih.


Setelah mengatakan itu Gala dengan segera bangkit dari duduknya dan pergi dari sana meninggalkan sang paman dan ayah.


Brak!


Bahkan suara pintu yang tertutup keras itu sampai mampu didengar oleh Agam dan George.


"Sudah ku bilang, setidaknya beri waktu Gala untuk berpisah dengan teman-temannya," ucap Agam pada sang kakak ipar, sementara George hanya diam dan menghembuskan nafasnya berat.


"Kamu kan tahu sendiri, aku memang memiliki acara penting 2 hari kedepan, karena itulah aku jemput Gala sekarang."


"Mana dia tau, yang dia tahu kamu memaksanya untuk pergi."

__ADS_1


Agam dan George saling diam, memberikan hening mengambil alih keadaan diantara mereka.


Sementara Gala yang sudah berada di dalam kamar langsung meraih ponselnya.


Dia hendak kembali menghubungi Giselle dan mengutarakan tentang kepergiannya hari ini. Gala tahu apapun yang sudah dikehendaki oleh ayahnya tidak akan pernah bisa berubah, termasuk kepergiannya hari ini.


Panggilan pertamanya pada Giselle tidak mendapatkan jawaban.


Dan sama, panggilan keduanya pun tidak mendapatkan jawaban dari Giselle.


Gadis yang sedang dihubunginya itu kini tengah tertidur pulas, karena dari pertiga malam hingga pagi tadi mereka saling bertukar telepon.


Tidak ingin menyerah untuk menghubungi Giselle, Gala pun mengiriminya banyak pesan.


Sayang, aku akan pergi ke Amerika hari ini. Jangan sedih kita masih bisa melakukan panggilan video call. Dunia ini tidak luas, sempit bahkan mampu kita genggam.


Sayang, hubungi aku jika kamu sudah bangun.


Katakan pada yang lain jika aku pergi.


Aku sangat menyayangi mu.


I love you.

__ADS_1


__ADS_2