Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 65 - Jaminan


__ADS_3

Karena masih rindu Gala terus melajukan mobilnya mengelilingi kota Jakarta untuk dapat menikmati waktu bersama dengan Giselle.


Bahkan mereka melaksanakan salat magrib di salah satu masjid yang mereka lewati.


Lalu benar-benar pulang ke rumah Giselle saat Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Giselle dibuat tercengang, saat dia melihat di halaman rumahnya sudah ter parkir 6 mobil mewah yang tidak dikenalnya.


Mencoba bertanya kepada Gala namun yang ditanya hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.


"Iya sih, mana kamu tau, ini kan bukan rumahmu, mungkin teman ayah. Ayo kita turun, kita temui bunda," ajak Giselle yang kembali ceria, dia juga sudah sangat tidak sabar untuk memperlihatkan Gala pada ayah dan bundanya.


Agar semua keraguan yang sempat dirasa oleh ayah dan bunda tentang kembalinya Gala segera sirna.


"Ayo," sahut Gala.


Mereka berdua turun dan mulai masuk ke dalam rumah.


"Nah ini calon pengantinnya pulang," ucap bunda Saras.


Giselle terpaku, mendadak kaku dan menatap ruang tamu yang begitu ramai dengan orang. Hingga tatapannya berhenti pada 1 pria paruh baya yang wajahnya menyerupai Gala. orang yang sama yang pernah dia lihat saat sedang mengikuti tes sekretaris.

__ADS_1


Kedua Netra Giselle membola saat mulai menyadari jika ini semua mungkin adalah keluarga Gala.


Deg! jantung Giselle bergemuruh, berdebar hebat, apalagi ketika gugup mulai melanda dirinya.


Semuanya terasa gamang, tiba-tiba Giselle merasa otaknya kosong, mendadak blank.


Giselle ditarik bunda Saras untuk duduk, lalu diperkenalkan pada semua orang di ruang tamu itu.


Pria paruh baya yang wajahnya begitu mirip dengan Gala itu adalah Ayah Gala, daddy George namanya. Kemudian dikenalkan pula dengan Paman Agam beserta keluarganya, juga ada beberapa sepupu dan 2 Paman Gala yang lain.


Giselle hanya tersenyum kaku dan membiarkan semua orang menatapnya dengan senyum bahagia.


Agar Giselle tidak bingung, paman Agam pun menjelaskan jika 3 hari lalu dia dan Gala sudah datang ke rumah ini dan melamar Giselle melalui ayah dan bundanya.


Ayah Bambang dan Bunda Saras pun memberikan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus pernikahan Gala dan Giselle, hingga didapatkan jadwal besok mereka menikah.


Giselle tercengang, saking bahagianya dia sampai tidak sadar jika ada air mata yang mengalir di ujung matanya.


Gala yang melihat wanitanya menangis pun hanya tersenyum. Ingin memeluk tapi tidak bisa karena sedang banyak keluarga.


Pertemuan dua keluarga itu berlangsung dengan hangat, sesekali tertawa saat mendengar daddy George berucap menggunakan bahasa Indonesia yang kaku.

__ADS_1


Hingga akhirnya saat jam 9 malam, semua keluarga Gala pamit untuk pulang.


"Sampai bertemu besok pagi ya," ucap salah satu keluarga Gala.


Bunda Saras, ayah Bambang dan Gilang pun tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala.


Semua keluarga Gala sudah masuk ke dalam mobil, tapi Gala masih betah berdiri di teras rumah Giselle, menatap wanitanya yang seolah tidak ingin pisah juga seperti dia.


"Jangan takut aku pergi lagi, besok kan kita menikah. Ya kan Bun?" ucap Gala, sekaligus meminta dukungan bunda Saras.


"Iya anak mantu," jawab bunda Saras, meledek pula.


Tapi Giselle tidak menjawab apa-apa, dari tadi dia diam terus, masih terkejut dan sangat bahagia.


"Ini dompet ku, paspor ku, tanpa ini semua aku tidak bisa pergi kan, bawalah," ucap Gala, dia menarik tangan Giselle dan memberikan semua barang berharga itu.


Bunda Saras, ayah Bambang dan Gilang hanya mampu terkekeh melihat keduanya.


Dan Giselle pun menerima itu, dia memang butuh jaminan ini agar yakin Gala tidak akan pergi lagi.


Dengan lambaian tangan, akhirnya mereka kembali berpisah.

__ADS_1


__ADS_2