
Aku mencintaimu!
Giselle terus teringat ucapan Gala sore tadi, bahkan ciuman mereka rasanya terus membekas membuat hatinya berdesir.
Gadis cantik ini menutup wajahnya menggunakan bantal, mendadak malu sendiri ketika mengingat ciuman pertamanya diantara guyuran air hujan.
Berulang kali dia menyentuhi bibirnya, tetap saja rasanya mendebarkan.
Tok tok tok!
"Sel!"
"Iya Bundaa!!" sahut Giselle saat mendengar suara ibunya yang berteriak dari luar kamar. Dia buru-buru menyingkap selimutnya dan bangkit dari atas ranjang. berlari dengan tergesa dan membuka pintu.
"Bunda!" sapanya dengan nafas terengah, juga wajah yang berseri.
"Ayo makan, bunda juga sudah buatkan susu hangat," ajak bunda Saras. melihat sang anak yang pulang basah kuyup, tadi Bunda Saras langsung meminta Giselle untuk menghangatkan tubuhnya di kamar sementara dia menyiapkan makanan untuk sang anak.
Tanpa menunggu Giselle menjawab Bunda Sarah langsung menarik anaknya untuk segera menuju meja makan dan Gisel pun menurut tanpa membantah sedikitpun.
Masih jam 5.30 sore dan Gisel sudah makan malam.
"Minum dulu susu hangatnya," titah bunda Saras saat Giselle sudah duduk di meja makan, sementara dia langsung menyajikan makanan Giselle di dalam piring.
Bunda Sarah sungguh tidak tega melihat anaknya yang kedinginan apalagi ini hari terakhir Giselle menjalani ujian nasional.
__ADS_1
"Bunda nggak ikut makan?" tanya Gisel saat sepiring nasi dan lauknya sudah tersaji di depan mata dan bunda Saras pun ikut duduk di sebelahnya.
"Bunda nanti saja, ayah juga belum pulang."
"Kirain ayah di kamar."
"Tidak, ayah belum pulang. Katanya ada rapat, mungkin sebentar lagi pulang."
"Abang?"
"Abang juga belum pulang."
Menyadari kedua pria di dalam keluarganya ini belum pulang, Giselle mendadak bergidik takut, membayangkan bagaimana jika saat dia dan gala berciuman di depan rumah tadi ayah dan abangnya pulang, lalu memergoki ulahnya.
Hii mengerikan, untung tidak ketahuan. Batin Giselle.
"Iya Bun, masih dingin." kilah Giselle.
"Kamu saja kedinginan bagaimana dengan Gala, semoga saja sekarang dia sudah sampai di rumah juga sudah meminum susu hangat seperti kamu," terang bunda Saras. ingat calon menantunya satu itu membuat dia jadi iba juga, demi mengantar Giselle pulang Gala harus menempuh jalan lebih jauh untuk sampai di rumahnya.
"Iya ya Bun," sesal Giselle.
Karena dialah yang meminta pada Gala untuk hujan-hujanan saja, padahal mereka memiliki mantel yang lengkap di jok motor.
Selera makan Giselle mendadak hilang, kini dia jadi mencemaskan keadaan sang pujaan hati.
__ADS_1
"Udah cepet makan, habis ini kamu telepon Gala, tanyakan keadaannya."
Mendengar itu Giselle langsung menganggukkan kepalanya patuh, makan dengan cepat cepat agar bisa segera ke kamarnya dan menghubungi Gala.
5 menit kemudian.
Makan Giselle selesai, dia langsung berlari menuju kamarnya lagi. Membuat perutnya yang kekenyangan jadi agak sakit.
Buru-buru diesel mengambil ponselnya dan mencari nomor Gala.
Tapi sayang ternyata nomor Gala sedang tidak aktif, membuat Giselle mendadak murung dengan pikiran yang campur aduk, cemas sekaligus takut.
"Ya Allah, Gala udah sampai di rumah belum ya," gumamnya dengan wajah yang sendu.
Baru beberapa saat lalu hatinya berbunga-bunga, kini kembali layu.
Giselle mengirimkan banyak pesan ke nomor Gala.
Gal, kamu sudah sampai di rumah belum?
Gal hubungi aku.
Gal, aku menunggumu.
Gal.
__ADS_1
Hingga jam 10 malam, pesan itu belum juga mendapatkan balasan.