Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 45 - Mengejar Waktu


__ADS_3

Jam 8 pagi, Gala mulai pergi ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, penerbangan menuju Amerika dijadwalkan saat jam 9 pagi ini.


Hingga kini Giselle belum juga membalas pesan dan panggilan nya, namun Gala mencoba untuk tidak bimbang, mencoba untuk tidak menjadikan perpisahan ini sebagai momok menakutkan bagi hubungan mereka.


Ini hanyalah perpisahan sementara sebelum akhirnya nanti mereka akan bersama selamanya.


Ya, Gala meyakini itu, untuk membuat langkahnya yang pergi terasa lebih ringan.


Semuanya akan baik-baik saja, ini bukan perpisahan. Batin Gala, terus menyemangati dirinya sendiri.


Bersamaan dengan mobil Gala yang keluar dari halaman rumahnya, motor Anjas berhenti di depan gerbang. Dia pun melihat mobil mewah yang baru saja keluar itu.


"Den, temennya tuan Gala ya?" tanya pak satpam pada Anjas, dia hendak menutup pintu gerbang namun urung karena melihat Anjas yang berhenti di depan gerbang rumah tuannya, dan wajahnya nampak tak asing seperti pernah melihat.


"Iya Pak, saya temannya Gala, apa Gala nya ada?" tanya Anjas dengan ramah.


"Duh Den, tuan Gala baru saja pergi, itu mobil hitam tadi mobilnya tuan Gala_"


"Memangnya Gala mau ke mana Pak?" potong Anjas dengan cepat, tiba-tiba hatinya merasa takut entah karena apa.

__ADS_1


"Tuan Gala hari ini ke Amerika Den, dia sudah dijemput daddy nya, itu tadi tuan Agam anterin ke bandara."


Kedua netra Anjas langsung membola saat mendengar itu, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar sendiri.


Dia bahkan menggelengkan kepalanya kecil, seolah berkata bahwa ini tidak mungkin.


Tidak mungkin sekarang! tidak mungkin hari ini.


kedua mata Anjas mulai terasa panas, seolah air bening itu bisa jatuh kapan saja.


"Jam berapa penerbangannya pak?"


"Jam 9 Den."


Anjas pun yakin jika mereka semua belum mengetahui tentang ini.


Menyadari itu, Anjas dengan segera menghentikan motornya di pinggir jalan, pertama dia menghubungi Lili.


"Lili, Gala ke Amerika hari ini pernerbangannya jam 9. Kamu pergilah ke rumah Giselle, aku, Usman dan Robby akan menjemput kalian disana!"

__ADS_1


Panggilan itu mati, dengan kedua tangannya yang terasa gemetar kini Anjas menghubungi Robbi dan Usman.


"Cepat! waktu kita tidak banyak!" pekik Anjas.


Setelah memberitahu semua temannya dengan segera Anjas memutar gas motor menuju rumah Giselle.


20 menit waktu sudah terbuang dan mereka baru berkumpul di rumah Giselle.


Gadis itu bahkan sudah menangis, memegangi ponselnya yang menyala dan memperlihatkan semua pesan dari Gala.


"Ayo cepat kita ke bandara, semoga masih ada waktu untuk bisa bertemu," ucap Usman, dia juga sudah menangis karena melihat Giselle dan Lili menangis.


"Kalian hati-hati," ucap bunda Saras, melepaskan kepergian anak-anaknya.


Usman mengendarai motornya sendiri, Anjas bersama dengan Lili dan Robby dengan Giselle.


Pagi itu mereka membelah jalanan kota, bahkan mencuri detik lampu merah agar tidak sampai berhenti di jalan.


Gal, tunggu aku. Batin Giselle dengan air mata yang terus mengalir deras.

__ADS_1


Harusnya kita berpisah dengan saling peluk kan? tanya Giselle pula, meski dia hanya mampu bertanya di dalam hati.


Ketiga motor itu terus melaju dengan kencang, mengejar waktu.


__ADS_2