Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 47 - Sayang (2)


__ADS_3

Hari berlalu, 2 hari sudah Gala pergi dan semua pesan Giselle yang terkirim ceklis, hanya centang 1 artinya ponsel Gala belum aktif juga semenjak kepergiannya kemarin.


Giselle mencoba tenang, mencoba biasa saja meski tetap saja merasa ada yang hilang dengan separuh hatinya.


Terasa kosong, seolah semua kenangan indah yang pernah dia lalui bersama Gala itu semua hanya mimpi.


Bagaimana mereka mulai dekat saat di Bogor, mendengarkan lagu bersama di dalam bis saat pulang. Menghabiskan waktu bersama ketika di sekolah, pulang pergi bersama, ke festival fun fair dan Gala memberinya kalung.


Dan terakhir, penyataan cinta dan ciuman pertama mereka.


Rasanya itu semua seperti mimpi dan kini Giselle telah bangun dengan hatinya yang hampa.


"Tidak, aku tidak boleh terus bersedih seperti ini," gumam Giselle.


Dia Coba melepaskan ponselnya dari genggaman dan meletakkannya diatas nakas. Dua hari ini Giselle terus membawa ponsel itu ke mana pun dia pergi, takut saat Gala menghubunginya dia tidak tahu dan panggilannya terlewat.


Tapi hari ini Giselle akan coba menata hatinya kembali. mencoba tidak hancur dan mengikhlaskan semuanya.


"Kata Gala ini bukan perpisahan, kita hanya tidak bertemu beberapa saat."


Giselle bangkit dari duduknya di tepi ranjang, menarik dan membuang nafasnya begitu saja dan keluar dari dalam kamar.


Giselle menemui sang bunda yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.

__ADS_1


"Alhamdulilah, anak gadis akhirnya keluar," ucap bunda Saras penuh syukur, dia tahu tentang kepergian galeri juga tahu tentang kegalauan Giselle dan semua teman-temannya yang lain.


"Sini bantu bunda masak, biar nanti kalau Gala pulang ke Indonesia, kamu sudah bisa masak enak."


Giselle mencebik, namun dia menuruti keinginan ibunya itu, membantu sekedarnya karena Giselle tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Jangan menunggu, jalani saja semuanya," ucap bunda.


Seketika membuat gerakan tangan Giselle yang tak jelas terhenti.


Matanya mulai terasa panas, seketika ingin menangis.


"Sebelum pergi sebenernya Gala telepon bunda, kayaknya pas dia di bandara, pas kalian lagi di jalan_"


Buat bunda Saras jadi kaget.


"Nggak bilang apa-apa sih, dia pamit. Trus minta bunda buat yakinin kamu kalau kalian bakal baik-baik aja."


Huwaa!! tangis Giselle jadi pecah.


"Kenapa harus telepon Bunda, kenapa nggak telepon aku aja langsung. Aku udah kangen suaranya Gala Bun," rengek Giselle dengan derai air mata yang tidak bisa ditahan, turun dengan semena-mena.


Ayah Bambang yang masuk sampai dibuat terkejut dengan tangis anaknya itu, tiba-tiba melihat seolah Giselle habis dianiaya oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


"Bunda kenapa baru bilang sekarang, kemarin-kemrin aku nungguin kabarnya diaaa."


"Ya kamu di kamar terus, gimana bunda bisa ngomong."


"Bunda jahat, jahat jahat."


Ayah Bambang yang mulai berisik pun akhirnya buka suara, namun urung karena tiba-tiba Gilang datang.


"Giselle stop nangisnya, itu ponsel kamu berisik banget, bunyi terus di kamar," ucap Gilang, ponsel Giselle memang diatur dengan nada dering paling tinggi, sengaja agar tiap ada panggilan dia selalu dengar, bukan hanya getar seperti selama ini.


Dan mendengar ucapan sang kakak, tangis Giselle mendadak berhenti, juga kedua matanya yang kembali mendelik.


"Gala," desis Giselle, dia yakin betul jika itu adalah panggilan dari Gala.


Maka secepat kilat dia ambil seribu langkah untuk berlari menuju kamarnya.


Gilang dan kedua orang tuanya hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan Giselle.


Brak!


Giselle membuka pintu kamarnya dengan kasar, ponselnya masih berdering dan secepat yang dia bisa Giselle langsung menjawab panggilan itu..


"Gala!"

__ADS_1


"Sayang," sahut seseorang di ujung sana.


__ADS_2