
Giselle duduk dengan wajahnya yang ditekuk, bahkan dia melipat kedua tangannya didepan dada tanda kesal.
Sementara teman-temannta yang lain tergelak merasa lucu. Asik sendiri seolah dia tidak ada disini.
"Jahat!" ketus Giselle pada semua teman-teman.
Tapi bukannya membujuk dan meminta maaf mereka malah tertawa semakin pecah.
"Maaf sayang," bujuk Gala.
"Nggak ada maaf maaf, jahat!"
"Udah dong marahnya, aku mau kasih tau kamu tapi nggak boleh sama yang lain," bela Lili, namun tetap saja Giselle menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Bagaimana bisa mereka semua membohongi Giselle tentang Gala? tentang seseorang yang selalu dia tunggu dan semua teman-teman mengetahui itu. Bagaimana bisa! Giselle masih saja merasa kesal ketika mengingat itu.
"Ih ngeselin! kalau Gala pulang 3 hari lalu berarti kemarin pas kita kumpul malam-malam kalian udah ketemu Gala?!"
"Udah," jawab Usman singkat, namun terdengar lebih menyebalkan di telinga Giselle.
"Terus ngapa Anjas bilang gitu! bilang aku suruh aku buka lembaran baru dan lupain Gala!"
"Biar kamu galau," jawab Anjas dan semua teman-temannya kembali tertawa.
Sementara Giselle langsung merengek dan berulang kali memukuli lengan Gala.
__ADS_1
Kesal! hih!
Gerakan tangan Giselle yang memukul terhenti saat Gala tiba-tiba membisikkan sesuatu di telinganya, hanya satu kata, namun berhasil membuatnya geli.
"Maaf," bisik Gala.
Berhenti memukul, Giselle langsung mengusap telinganya yang kegelian.
Siang itu mereka terus berbincang bersama, membicarakan banyak hal yang sudah terjadi selama 5 tahun terakhir.
Di bawah meja, Gala terus menggenggam tangan Giselle erat, menautkan jemari mereka hingga tidak ada ruang kosong.
Gala, Anjas, Usman, Robby, Giselle dan Lili tertawa lepas, kini tidak ada lagi yang terasa kurang.
Hingga tak terasa senja tiba, dering ponsel Lili menjadi akhir dari pembicaraan mereka.
"Siap Gal, aman!" balas Robby.
"Emang di rumah aku ada apaan? aku yang punya rumah aja nggak tau," sahut Giselle, kembali menyulut tawa semua teman-temannya.
"Kamu terima beres ajalah Sel," jawab Lili.
Dengan senyum yang terukir di bibir masing-masing mereka semua akhirnya berpisah. Hanya Giselle yang terus memasang wajah cemberut. Masih merasa jika Gala menyimpan banyak kebohongan darinya, mencurigakan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gala, kini dia dan Giselle sudah duduk di dalam mobil, Gala pun sudah menyalakan mesin mobilnya, tapi belum mundur dan keluar.
__ADS_1
"Benar besok kita menikah?" tanya Giselle, lagi-lagi dia melipat kedua tangannya di depan dada, memicingkan mata dan menatap curiga.
"Iya."
"Bagaimana bisa?"
"Kenapa tidak bisa?"
"Menikah bukan cuma menikah, harus urus surat ini itu, ke pak kades, ke KUA, belum lagi cetak foto, banyak yang harus di urus."
"Semuanya sudah aku urus."
Giselle mendengus, memangnya Gala punya kekuatan apa sampai bisa mengurus itu semua semudah membalikkan telapak tangan.
"Masih tidak percaya?"
Giselle menggelengkan kepala.
"Ya sudah ayo pulang, kalau besok kita benar-benar menikah, kamu harus menuruti apapun keinginanku, APAPUN!" tegas Gala.
Giselle yang awalnya ragu, kini mendadak jadi takut. Apalagi saat melihat Gala yang menatapnya dengan seringai, hii! mengerikan.
"Jangan menatapku seperti itu!" kesal Giselle.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Itu tatapan messum!"
Hahahaha, Gala tertawa keras, hingga perutnya terasa sakit. Setelah 5 tahun berlalu, baru kali ini dia tertawa lepas seperti ini.