Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 54 - Bekerja Dalam Tim


__ADS_3

Jam istirahat makan siang.


Giselle dan Putri memutuskan untuk pergi ke kantin perusahaan, mengisi tenaga untuk mengikuti tes selanjutnya. Sehabis istirahat ini akan ada 2 tes lagi, kemudian jam 5 sore nanti akan langsung diumumkan 3 sekretaris yang terpilih.


Giselle dan Putri duduk di paling ujung, meja yang tersisa hanya ada disana.


Namun belum sempat duduk, tubuh Giselle langsung ditabrak oleh Arumi, dia pun ingin duduk di kursi ini.


Giselle terhuyung, namun dengan cepat Putri menahan.


"Rumi! jaga sikapmu!" bentak Putri.


"Kami ingin duduk disini, jadi menyingkirlah."


"Matamu buta atau bagaimana, di meja ini ada 4 kursi, kita bisa memakainya bersama-sama," ucap Giselle.


Sebenarnya dia ingin marah, ingin menjambak rambut bergelombang Arumi itu dan membantingnya ke atas lantai.


Namun sekuat tenaga Giselle tahan amarahnya, ingat jika ini ada kantor tempat bekerja bukan tempat berkelahi. Apalagi kini dia sedang mengikuti seleksi penerimaan karyawan, segala sikapnya harus diperhitungkan.


Giselle tidak tahu, jika ini memanglah rencana Arumi. Membuat Giselle marah dan emosinya membuncah, lalu dengan sendirinya Giselle untuk menunjukkan sifat barbarnya.

__ADS_1


"Jangan mimpi untuk bersama kami, kalian tidak sebanding untuk duduk sejajar bersama kami."


"Cih!" Putri berdecih, bukan Giselle yang terpancing, malah Putri.


"Hello Arumi Hasim, sadar nggak? kita sama-sama pengangguran, sama-sama cari kerja, sama-sama ngelap meja pas senior suruh, trus apa bedanya?" tanya Putri bertubi, lalu terkekeh. Putri jijik sekali melihat gaya Arumi dan Mona yang seolah sudah bekerja di kantor ini. Bahkan gayanya sudah seperti pemilik perusahaan saja.


Ditanya seperti itu Arumi terdiam, sampai akhirnya Mona yang buka suara.


"Kita memang sama-sama cari kerja, tapi sudah jelas siapa yang akan diterima. Aku dan Arumi sudah mendapatkan poin 1, sementara kamu?"


Putri mengepalkan tangannya kuat, diantara mereka berempat memang dia yang belum mendapatkan poin.


"Senior bilang, Poin hanya pendukung, keputusan final tetap ada di mereka, semua masih bisa terjadi," balas Giselle.


Namun kini Giselle melawan, dia mencekal tangan Arumi dan mendorongnya ke arah Mona.


Dua gadis cantik itu nyaris jatih, namun masih bisa berdiri.


Rusuh-rusuh itu mencuri perhatian semua orang, para karyawan disana pun mulai menatao tak senang. Belum juga menjadi karyawan namun sudah berani membuat keributan.


Sadar mulai ditatapi, Giselle pun menarik Putri untuk menjauh dari sana.

__ADS_1


Namun kakinya dijegal oleh Arumi hingga kedua gadis cantik itu jatuh saling menindih.


Brug!


Mona dan Arumi mengulum senyum, mencoba acuh dan duduk dengan manis.


Sementara Giselle dan Putri menahan malu, terdengar beberapa orang menertawakan.


Namun tak lama kemudian ada pula beberapa karyawan yang membantu mereka berdiri.


"Kalian calon sekretaris baru?" tanya seorang pria yang menolong mereka, menatap dingin pada Giselle dan Putri, termasuk juga Mona dan Arumi.


Dua gadis yang sudah duduk itu pun kembali bangkit dan berdiri tegap di hadapan pria berwajah dingin ini.


"Sekretaris itu bekerja dalam tim, bagaimana bisa kalian malah saling menjatuhka seperti ini."


"Cuma kami yang jatuh Pak, mereka tidak," sahut Giselle.


"Jadi kamu mau mereka jatuh juga?"


"Tentu saja, itu baru Tim namanya!"

__ADS_1


Jawaban Giselle itu, mampu membuat pria dengan tatapan dingin ini terperangah.


__ADS_2