
Alhamdulilah. ucap Giselle membatin.
Dia menahan diri agar tidak berteriak. Rasanya kini dadanya begitu lega, tidak ada lagi sesak yang mengganjal. Giselle sungguh tak sabar menyampaikan kabar bahagia ini pada keluarga dan sahabat-sahabatnya.
10 peserta yang mengikuti tes itu pun saling berjabat tangan, mengucapkan selamat juga semangat untuk terus berjuang.
Sampai akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang. Putri dan Giselle juga semakin dekat kini mereka sudah saling bertukar nomor ponsel.
"Giselle, ikut ke ruangan saya dulu," ucap Amora, dia adalah sekretaris senior disini, yang sedari tadi pagi memimpin jalannya tes.
"Siap kak!" jawab Giselle patuh.
Putri dan yang lainnya purang lebih dulu sementara Giselle kembali masuk menuju ruangan Amora.
"Besok hari pertama kamu kerja, ini saya beri setengah gaji kamu, setelah ini belilah baju baru dan sepatu baru, direktur utama di perusahaan ini masih muda, dia suka melihat karyawannya rapi, sopan dan tetap modis."
Giselle tersenyum lebar, ya ampun dimana lagi dia akan menemukan pekerjaan seenak ini, seniornya pun ramah tak ada sedikitpun sikap bossy.
"Beri kesan yang baik di pertemuan pertama kalian, saya percaya kamu pasti bisa."
__ADS_1
"Terima kasih kak."
"Ingat, pak Dirut datang jam 8, jadi kamu harus stay 1 jam sebelumnya, berarti jam 7. Jangan sampai telat."
Setelah mengatakan itu Amora mengizinkan Giselle untuk pergi.
Di langkah kakinya yang turun menuju lobi, Giselle langsung menghubungi Lily, meminta sahabatnya itu untuk menemani dia berbelanja baju dan sepatu baru.
Lili yang pertama kali mendengar Giselle diterima sebagai sekretaris pribadi pun langsung bersorak senang di ujung sana, dia bahkan langsung berteriak tak peduli saat itu ada Anjas di sebelahnya.
"Tunggu disana, aku dan Anjas akan menjemputmu!" pekik Lili dengan semangat.
Gadis cantik ini tak pernah berhenti untuk tersenyum, dia bahkan tak segan untuk menyapa beberapa orang yang lewat, sebahagia itu Giselle bisa mendapatkan pekerjaan baru.
Sampai akhirnya sebuah suara membuat senyumnya menghilang, dan suara itu adalah suara milik Arumi.
"Cara mu sangat menjijikkan ya? untuk jadi sekretaris pribadi Dirut kamu menggoda asisten pribadinya," ucap Arumi, dia datang sendiri, tidak ada Mona.
"Apa maksudmu?!" tanya Giselle dengan suaranya yang meninggi. Arumi bebas melakukan apapun meski itu menyakiti hatinya, tapi jangan sekali-kali membawa harga dirinya, karena Giselle tidak akan terima. Harga diri sama dengan harga mati.
__ADS_1
"Pria di kantin yang menolong mu tadi adalah pak Sean, dia asisten pribadi Direktur Utama. Pasti kamu menggoda dia kan untuk diterima menjadi sekretaris pribadi? jujur saja."
Giselle berdecih, tuduhan Arumi itu sungguh tidak berdasar, membuatnya enggan untuk tersulut emosi.
"Terus saja menuduhku yang bukan-bukan, dari situ aku tahu jika kamu menginginkan posisiku, iya kan? tapi sayang karena aku selalu lebih beruntung daripada kamu," balas Giselle, senyum di bibirnya pun yang kembali ia terbitkan.
Sementara Arumi mengepalkan tangannya kuat, kekesalannya tak cukup sampai di situ karena Giselle kembali buka suara.
"Oh, atau jangan-jangan kamu ingin jadi sekretaris pribadi Dirut karena ingin menggodanya ya? iya ya? hahaha," tawa Giselle pecah, puas sekali Dia melihat wajah pias Arumi.
"Kerja yang benar, jangan jadi perempuan murahan!"
Setelah mengatakan itu Giselle pergi dengan menabrak lengan Arumi, seperti yang dilakukan Arumi di kantin tadi.
Tubuh Arumi terhuyung tapi Gisel tidak peduli, dia segera masuk ke mobil Anjas yang sudah sampai dan menunggunya.
Giselle menutup pintu itu dengan kuat, hingga Arumi masih mampu mendengar.
Brak!
__ADS_1