
Teng teng teng teng!
Bell istirahat jam kedua akhirnya berbunyi. Semua murid bersorak riang di dalam diamnya, hingga guru benar-benar keluar dari dalam kelas, barulah mereka jadi riuh.
Setelah membereskan buku-bukunya Gisel dengan segera menarik Lili untuk menemaninya ke kelas 3A.
Gisel ingin segera menemui Gala dan menyelesaikan permasalahan yang ada di antara mereka.
Dia tidak ingin mengulur-ngulur waktu, tidak ingin pertengkaran ini semakin lama terjalin.
"Pelan-pelan dong Sell, kan nggak lucu kalau kita jatuh gara-gara kesandung kaki sendiri," keluh Lili.
Tapi mau tidak mau dia terus mengikuti langkah kaki Gisel yang cepat, karena tangannya terus ditarik oleh sang sahabat.
Saking cepatnya mereka berjalan, Gisel dan Lili sampai bertemu dengan Bu Maryani yang baru keluar dari kelas 3A.
Kedua gadis ini pun menundukkan kepalanya hormat, lalu memberi jalan untuk ibu Maryani lewat.
Lalu dengan sigap segera berdiri di ambang pintu kelas 3A, melihat ke dalam dan mencari satu-satu incaran mereka.
Gala dan Anjas.
Saat itu Gala langsung melihat kedatangan Giselle, tatapan mereka langsung bertemu tanpa banyak mengulur waktu, tanpa perlu Giselle memanggil nama Gala.
Dari tatapannya itu saja Gala bisa tahu, jika ada sesuatu yang ingin Giselle katakan.
Maka tanpa banyak pertimbangan, Gala dengan segera bangkit dan menghampiri kedua Gadis itu, hingga berdiri tepat di hadapan Giselle.
"Ada apa?" tanya Gala, suaranya masih terdengar dingin di telinga Giselle.
"Jangan bicara disini," jawab Giselle, dia Lalu menarik Gala untuk segera keluar dari kelas 3A. Meninggalkan Lily begitu saja, namun dia yakin jika Lili akan baik-baik saja, karena dia sudah melihat ada Anjas, Usman dan Robby juga di sana.
Dengan tersenyum kecil, Gala terus mengikuti kemanapun Gisel akan mengajaknya pergi. membiarkan Giselle terus-terus menarik tangannya.
Sampai akhirnya mereka berdua sampai di taman belakang sekolah, berdiri di tempat favorit mereka. Di bawah sebuah pohon rindang, yang sesekali menjatuhkan daun kering nya.
"Ada apa?" tanya Gala sekali lagi, setelah mereka sama-sama berhenti dan berhadapan.
__ADS_1
"Maafkan Aku, Aku sadar aku terlalu egois. Ingin semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan, sampai lupa jika semua yang kita jalani ini juga adalah takdir dari Tuhan."
Mendengar itu Gala mengulum senyumnya. Gisel sedang bicara serius, jangan sampai gadisnya ini kembali marah saat melihat dia terkekeh.
"Kamu memang salah, tapi kesalahanku memang lebih banyak. karena itulah, maafkan Aku." pinta Gala pula.
Bersama-sama mengucapkan kata maaf, mereka berdua pun mengukir senyumnya. Kini semuanya terasa lebih baik karena mereka berdua sudah sama-sama menerima keadaan .
Giselle ingin sekali memeluk tubuh Gala namun tak punya cukup keberanian untuk memulainya terlebih dahulu.
Dan sama, Gala pun ingin sekali kembali memeluk Gisel erat seperti saat mereka berada di perpustakaan tadi.
Namun Gala takut membuat Giselle marah, tidak ingin mereka jadi pusat perhatian semua orang. Apalagi mulai ada beberapa siswa yang mendatangi taman ini juga.
Akhirnya mereka berdua hanya bisa sama-sama menahan. Hanya mampu menatap dengan Intens dan begitu dalam.
Sebuah tatapan yang mengatakan jika di hati mereka sudah ada yang namanya cinta, dan apapun yang terjadi mereka akan berusaha untuk mempertahankan rasa itu tetap ada di sana, hingga nanti usia mereka 25 tahun.
Arumi yang diam-diam melihat keduanya di balik gedung sekolah pun semakin mengepalkan tangan.
Dari tatapan keduanya pun dia bisa melihat jika mereka saling mendamba satu sama lain.
Bahkan Arumi pun bisa bekerja keras untuk bisa sama-sama masuk ke universitas Harvard nanti.
Sementara Giselle? rasanya tidak ada satupun yang bisa dibanggakan dari gadis itu.
"Tapi percuma aku bicara pada Gala sekarang, sekarang dia pasti sudah dicuci otaknya oleh Giselle. Tapi aku yakin, lambat laun Gala pun akan menyadari jika Giselle bukanlah gadis yang tepat untuknya."
Berpikir seperti itu membuat perasaan Arumi membaik, dia bahkan kembali tersenyum. Lalu segera berlalu dari sana.
Lili, Anjas, Usman dan Robby katanya akan melihat anak-anak kelas 2 yang sedang latihan menari. Anak-anak kelas 2 akan menyumbangkan tarian itu untuk perpisahan kelas 3 nanti. Dan kini Arumi memutuskan untuk menghampiri mereka semua.
Ikut bergabung dengan tawa diantara Lili dan yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pulang sekolah pun tiba.
__ADS_1
Seperti biasa, mereka akan berjalan bersama menuju parkiran.
"Kalau kalian akur gini kan enak, gak ada tatapan tajam dan sikap dingin," ucap Usman pada Gala dan Giselle, termasuk Robby, karena setelah mengucapkan itu Usman menyenggol lengan Robby.
"Ya maaf, soalnya aku suka yang jujur jujur bukan pembohong," sahut Robby.
"Nggak usah mulaiii," Lili yang menyahut, dia bahkan memukul pelan lengan Robby. Teman yang paling keras kepala diantara yang lain.
"Ini mau langsung pulang apa gimana?" tanya Anjas.
"Langsung pulang aja, besok pengumuman nilai try out, takutnya klo hari ini kita banyak main ntar nilainya jelek," jawab Giselle.
"Apa hubungannya?" Gala merasa tidak terima dengan ucapan Giselle itu, nggak nyambung.
"Banyak hubungannya, nanti bunda pasti bilang 'Nih nilaimu jelek! ini gara-gara kamu banyak main!" Giselle menirukan Gaya bundanya.
Semua orang terkekeh, pun Gala yang langsung mengusap kasar puncak kepala Giselle.
Arumi yang melihat pemandangan itu langsung memalingkan wajah, tak mau melihat kedekatan Gala dan Giselle.
Setelah tawa mereka semua reda, semuanya pun baik ke motor masing-masing. Kini Arumi mulai selalu pulang bersama dengan Robby.
Gala dan Giselle keluar lebih dulu dan teman-temannya yang lain mengikuti.
"Sell."
"Hem?" sahut Giselle, dia sedikit mendekatkan wajahnya ke depan.
"Kalau lagi marah kalungnnya jangan di lepas."
Mendengar itu Giselle mengulum senyumnya. Ingat tindakan kekanak-kanakannya tadi, yang ingin melepas kalung pemberian dari Gala dan membuangnya begitu saja.
"Iya Maaf, besok-besok kalau kita berantem aku bakal nahan diri untuk nggak lepas kalung ini."
"Janji ya?"
"Iya."
__ADS_1
Gala tersenyum, entah sudah berapa banyak janji yang mereka ucapkan berdua. Dan semoga saja, janji itu bukan hanya janji janji semata.
Namun mereka sama-sama menepatinya.