Asmara Di Usia 17 Tahun

Asmara Di Usia 17 Tahun
ADU17 BAB 32 - Korban Pemberi Harapan Palsu


__ADS_3

Happy reading


...💕...


Gala menghela nafasnya pelan, dia bingung bagaimana caranya lagi untuk menjelaskan, bahwa saat ini dia belum bisa mengendalikan keadaan.


Terhalang oleh usianya yang muda semua keputusan dalam hidupnya masih ditentukan oleh sang ayah.


Tapi meski begitu perasaan yang ada di dalam hatinya tetaplah jadi kuasa Gala sendiri.


Tidakkah Giselle coba mengerti, posisi dan keadaan yang sedang mereka alami saat ini.


"Bagaimana kalau kita makan dulu, mungkin setelah makan pikiran kita akan jadi lebih tenang," Anjas mulai buka suara mencari solusi untuk permasalahan yang sedang mereka hadapi. Semua temannya masih tersulut emosi dan berbicara dalam keadaan seperti itu pasti akan menghasilkan keputusan yang salah.


"Iya sayang, aku lapaar," rengek Lili pula, seraya menarik baju sekolah Anjas. Dia juga menginginkan suasana ini jadi lebih mencair.


Tegang begini Lili takut akan terjadi baku hantam.


"Benar kata Anjas, setelah makan kita bicara lagi, ayo Sel," ajak Usman pula, ia bahkan lebih dulu menarik Giselle agar tatapannya dengan Gala terputus.


Usman menarik tubuh Giselle menuju arah kantin dan semua temannya pun mengikuti.


Termasuk Robby yang wajahnya masih saja nampak kesal.


Mereka semua memesan bakso, hanya Gisel sendiri yang lain yaitu mie ayam bakso.


Kini mereka semua sudah duduk bersama di salah satu meja dengan menu yang sudah tersaji rapi. Tapi tatapan Gala dan Giselle masih saja terus baradu seolah saling berbicara melalui tatapan itu. Giselle yang masih menggebu nggebu sedangkan gala yang coba menenangkan.


Arumi yang melihat pemandangan itu sungguh merasa tak nyaman, dia menganggap Giselle terlalu egois jika sampai mengatur ngatur hidup Gala harus seperti apa.


Lagipula Apa salahnya kuliah di Harvard? itu adalah salah satu Universitas impian semua pelajar seperti mereka, pikir Arumi.


Oh, mungkin karena Giselle tidak akan mampu untuk masuk ke Universitas itu. Karena itulah dia merasa keberatan Kalau Gala kuliah di sana. Batin Arumi.


Dia ingin sekali menyalahkan Giselle atas situasi canggung ini, namun Arumi tak punya cukup keberanian untuk mencela Giselle.


Takut sama teman-teman yang lain kembali menaruh salah paham kepadanya, berpikir bahwa dia masih membenci Giselle seperti dulu.


"Ayo makan, jangan diem-dieman," ajak Lili.


Dan dengan raut wajahnya yang cemberut dan kesal akhirnya Giselle mulai menyantap makanan favorit itu. Lalu disusul oleh teman-temannya yang lain yang juga mulai makan.

__ADS_1


"Mau bakso lagi?" tawar Gala pada Giselle, gadis yang makan dengan raut wajah tak ihklas.


"Gosah sok baik!" jawab Giselle ketus, dia menjauhkan piringnya agar tak di jangkau oleh Gala yang akan memasukkan bakso ke piringnya.


"Sini Gal, buat aku aja baksonya kalo nggak abis," sahut Lili.


"Hih! baksomu aja masih banyak!" keluh Robby.


Lili mencebik, lalu kembali fokus pada mangkoknya sendiri.


15 menit dan mereka semua selesai makan, Giselle pun berhasil menghabiskan makanannya.


Marah-marah juga butuh energi.


"Jadi bagaimana?" tanya Robby tiba-tiba, dia kembali ingin membahas tentang Gala. Agar masalah ini tidak menggantung seperti jemuran.


"Jadi kamu akan melanjutkan sekolah di luar negeri?" Robby terus bertanya, seolah jadi juru bicara.


"Iya, maafkan aku kalian tau dengan cara seperti ini."


"Kalau tidak seperti ini juga kamu tidak akan memberi tahu kami, iya kan?" sindir Robby.


"Robby, berhenti bersikap seperti anak kecil. Gala sudah meminta maaf." Arumi yang menyauti.


Padahal sungguh, Gala tidak butuh pembelaan Arumi itu. Lagi pula masalahnya jelas, bukan karena Harvard nya, tapi karena Gala yang menutupi itu semua, seolah membuat pertemanan mereka tidak penting.


"Diamlah Arumi, bukannya membantu kamu malah memperkeruh keadaan. Robby bukan marah karena aku akan kuliah di Harvard, tapi karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka," sahut Gala.


Arumi yang ucapannya dipatahkan seperti itupun menggigit bibirnya, diam dan tidak berani buka suara lagi.


Apalagi saat melihat Lili yang menatapnya intens.


"Gala salah dan kamu masih saja membelanya, jangan-jangan kamu masih menyukai Gala ya? lalu berniat mengambil simpati dari masalah ini," ucap Lili, saat ada seseorang yang coba menghancurkan hubungan Gala dan Giselle, Lili yang akan maju paling depan.


"Bu-bukan seperti itu Li, aku hanya, aku_"


"Sudahlah! kenapa jadi kemana-mana. Pokoknya tidak perlu lagi ada pertengkaran, yang jelas kita semua sudah tahu, jika nanti setelah lulus Gala akan pergi ke Amerika." Putus Anjas.


"Terus nasibku gimana dong Jas? disini aku yang jadi korban PHP!" keluh Giselle, yang masih tak terima pertengkaran ini usai, dia masih ingin membuat peritungan.


"Bilang kalau semua kata manis yang kamu ucapkan selama ini itu hohong! katakan kalau tidak ada janji 25 diantara kita!" tuntut Giselle pada Gala, dia tidak ingin berharap, tidak ingin menunngu.

__ADS_1


Anjas yang merasa ini masalah pribadi pun hanya bisa diam, pun teman-temannya yang lain yang merasa tak punya wewenang bicara.


Giselle bahkan hendak melepas kalung pemberian Gala, namun dengan cepat Gala bangkit dan mencekal tangan itu.


Lalu menarik Giselle untuk bangkit pula dan mengikuti langkahnya.


"Lepas! kamu mau membawaku kemana?!" tanya Giselle dengan kesal.


Anjas, Usman, Robby dan Lili yang melihat kedua orang itu pergi pun menghembuskan nafasnya lega, karena mereka tidak akan melihat pertengkaran kedua orang itu. Gala dan Gisel memang harus menyelesaikan masalahnya berdua.


Hanya Arumi yang merasa tak suka saat melihat Gala dan Giselle pergi, dia ingin ada disana, ingin juga mendengarkan pertengkaran mereka.


Tapi apalah daya, Arumi merasa kakinya terjerat disini.


"Gala!" pekik Giselle. Tapi orang yang namanya dipanggil ini tetap tak peduli, dia terus menarik Giselle dan membawanya masuk ke dalam perpustakaan, membuat Giselle langsung mengernyit bingung, mereka sedang bertengkar lalu kenapa malah datang ke perpustakaan.


Mau baca buku? tanya Giselle di dalam hatinya.


"Jangan berisik kalau tidak mau dihukum," bisik Gala. Dia terus menarik Gislle hingga sampai di ujung rak-rak buku itu, mereka berdiri hingga sampai di jendela-jendela kaca perpustakaan di lantai 2 ini dan menjauh dari semua pengunjung.


"Untuk apa kesini!"


"Ssst! jangan berisik," bisik Gala, lalu setelahnya dia menarik Giselle dan dipeluknya erat.


Giselle terpaku, ini adalah pelukan pertama mereka. Biasanya hanya Giselle yang memeluk Gala saat mereka naik motor.


Tapi kini, Gala benar-benar memeluknya dari depan. Mereka bahkan bisa sama-sama merasakan detak jantung keduanya yang berdebar.


"Yang akan pergi hanya tubuhku Sell, bukan hatiku. Dan itu bukan omong kosong apalagi sebuah kebohongan," desis Gala. Mereka harus bicara pelan agar tak menarik perhatian orang.


"Bagaimana caranya aku bisa yakin, sekarang umur kita masih 18, ke 25 masih butuh 7 tahun lagi. Aku bahkan tidak yakin perasaan kita masih akan tetap sama."


"Benar, yang ragu memang hanya kamu, sementara aku tidak."


Setelah mengatakan itu Gala melerai pelukannya. Melepaskan Giselle lalu berlalu dari sana meninggalkan Giselle.


Baik Gala ataupun Giselle langsung merasakan ada ruang kosong yang tiba-tiba menguasia hati mereka.


Gala sudah sangat yakin jika mereka bisa bersama, tapi Giselle?


...💕...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya 💕


Mungkin firts kiss yang bisa menyatukan mereka 🤣🤣


__ADS_2