
Jangan lupa Like dan Komen ya ❤
Happy reading
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Try out hari ke-2 ini mata pelajaran yang diujikan adalah matematika.
Siap pusing dengan banyak hitungan dan rumus-rumus. Tak jarang bahkan para murid bergumam menyebutkan angka-angka sebelum ujian itu dimulai.
"Suasana tenang ya, semua buku masukkan ke dalam tas, setelahnya tas letak di lantai. Laci kosong tidak ada lembar apapun, di atas meja hanya ada pena," ucap sang guru pengawas di kelas 3 A.
"Siap Bu!" jawab semua murid kompak.
Di saat semua murid merasa gugup saat menerima lembar ujian itu tapi tidak dengan Robby. Dia hanya diam seraya terus menatap punggung Gala.
Robby memang duduk persis di belakang Gala.
ucapan Arumi kemarin masih terus mengganggu pikirannya hingga kini. Tentang Gala yang mungkin akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Karena itulah selama ini hanya galau yang tidak pernah mengatakan dia akan melanjutkan kuliah di mana.
Seolah ada yang ditutupi, seolah tidak percaya pada pertemanan mereka, seolah tidak ingin berbagi suka dan duka seperti yang selama ini mereka lakukan bersama.
Jujur saja Robby merasa kecewa. Andaikan pun benar jika Gala akan kuliah di luar negeri, itu tidak masalah asalkan sejak sekarang Gala sudah mengatakannya kepada mereka. Bukannya malah ditutupi dan nanti akan menghilang begitu saja.
"Oke, waktu kalian 90 menit. Manfaatkan waktu itu dengan baik dan selamat mengerjakan!"
Semua murid langsung menunduk, membaca dengan rinci soal pertama yang tertera di Lembar ujian itu. lalu mengambil kertas buram untuk mulai mencoret-coret dan menentukan jawabannya.
Robby pun membuang nafasnya pelan lalu mulai mengerjakan soalnya pula.
Hingga 90 menit waktu berlalu dan ujian pun usai.
Robby masih diam, sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Gala, Anjas dan Usman sudah mulai ribut membicarakan soal ujiannya tadi.
__ADS_1
"Sudahlah, semakin dibahas aku jadi semakin pusing. Sebaiknya sekarang kita jemput Gisel dan Lili dan segera pergi ke kantin," ajak Usman. Gala dan Anjas pun mengangguk sementara Robby masih tetap setia bergeming.
"Kamu tidak ikut?" tanya Anjas pada Robby, karena satu sahabatnya itu masih saja duduk di kursinya.
Bahkan semua teman-teman yang lain pun sudah mulai meninggalkan kelas.
Arumi yang terakhir tinggal dan melihat diamnya Robby pun mulai merasa was-was. Arumi merasa bahwa Robby pasti akan membahas tentang ucapannya kemarin, tentang Gala yang akan kuliah di luar negeri.
Tidak ingin ditarik dalam masalah itu maka dengan segera Arumi segera membereskan bukunya dan mengendap keluar, meninggalkan keempat pemuda itu yang jadi penghuni terakhir di dalam kelas.
"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gala dengan perasaan yang mulai tak enak di dalam hatinya. Perasaan yang juga dirasakan oleh Anjas dan Usman. Mereka bertiga melihat dengan jelas raut wajah Robby yang nampak tak biasa.
Gala, Anjas dan Usman sudah berdiri dari kursinya sementara Robby masih setia duduk.
Sampai akhirnya Robby mengangkat wajahnya dan menatap Gala dengan tatapan yang entah.
"Setelah lulus nanti kamu akan kuliah dimana?" tanya Robby dengan suaranya yang dingin.
Sebuah pertanyaan yang membuat Gala, Anjas dan Usman merasa tak percaya, apa hanya gara-gara itu Robby sampai bersikap aneh seperti ini?
"Jangan bohong, apa kamu akan melanjutkan kuliah di luar negeri?"
Gala membulatkan matanya, Anjas dan Usman pun ikut tercengang pula. Lalu sama-sama menatap kearah Gala untuk menunggu jawaban selanjutnya.
Gisel dan Lili yang sudah berada di ambang pintu kelas 3 A pun mendengar pertanyaan Robby itu.
Lama menunggu teman-temannya tidak datang mereka berdua memutuskan untuk menghampiri ke sini, dan mereka pun ikut tercengang pula atas apa yang barusan mereka dengar, apalagi Giselle.
"Apa? siapa yang akan kuliah di luar negeri?" tanya Gisel hingga membuat perhatian ke empat pemuda itu kearah gadis ini. Gisel dan Lili pun menghampiri mereka semua.
"Siapa yang mau kuliah di luar negeri?" kini giliran Lily yang bertanya. kedua gadis ini menatap Robbi, sementara Robi dan yang lainnya menatap kearah Gala.
Sampai akhirnya Gisel dan Lili pun ikut menatap kearah yang ditatap oleh semua orang, Gala.
__ADS_1
"Kamu?" tanya Gisel lirih, bertanya dengan hatinya yang merasa tidak rela jika benar Gala akan kuliah di luar negeri.
"Siapa yang mengatakan jika aku akan kuliah di luar negeri? Sudah ku bilang aku belum memutuskannya," jawab Gala, tahu jika semua orang kini menunggu jawabannya.
Dan mendengar itu kini tatapan semua orang terarah menuju Robby.
"Aku hanya menebak," jawab Robby bohong, dia bahkan memalingkan wajahnya saat menjawab itu. Robby sudah berjanji kepada Arumi untuk tidak menyebutkan namanya dan sebagai laki-laki dia akan menepati janjinya itu.
Semua orang langsung bernafas lega termasuk Gala.
"Sebaiknya segera putuskan kamu mau kuliah di mana, tetap di Jakarta atau ke luar kota seperti Robby dan Usman. Jadi kami tidak terlalu banyak menduga-duga." Anjas buka suara dan semua temannya menganggukkan kepala setuju.
"Ku kira ada apa, aku sampai cuma sendiri, sudahlah Ayo ke kantin," ajak Usman.
Ketegangan itu pun berakhir, meski belum merasa puas dengan jawaban Gala namun Robby pun mencoba menerimanya.
Mencoba percaya pula jika ini semua hanyalah dugaan Arumi.
mereka ber enam keluar dari kelas 3 A dan pergi ke kantin dengan raut wajah yang kembali ceria.
Arumi yang diam-diam memperhatikan dari salah satu sudut sekolah pun bernafas lega saat melihat itu.
Nyaris saja Dia kembali jadi penyebab kehancuran mereka semua. Andai itu benar-benar terjadi maka tidak ada lagi kesempatan untuk dia bisa berteman dengan Gala dan yang lainnya.
Tanpa menyapa Gala dan semuanya, saat itu juga Arumi langsung memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Dan setelah puas berkumpul, makan dan membahas ujian matematika tadi, mereka semua memutuskan untuk pulang pula.
Seperti biasa Gisel akan pulang bersama dengan Gala.
Kini sepasang pemuda itu sudah berada di atas motor, menggunakan helm yang sama dan membelah jalanan Kota Jakarta.
"Gala enggak akan kuliah di luar negeri kan?" tanya Gisel, dia masih teringat akan perbincangan mereka tadi. Jujur saja itu cukup mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Insya Allah enggak, Insya Allah aku akan kuliah di tempat yang sama denganmu," jawab Gala. dia bahkan menyentuh tangan kanan Gisel yang sedang memeluk dirinya. menggenggam nya sepersekian detik lalu kembali memegang stang motor.
Gisel tersenyum, namun mendengar kata Insya Allah entah kenapa membuat hatinya merasa tak suka.